rokok kretek indonesia
Opini

Rokok Kretek Indonesia Menyebar Di Asia Tenggara

Produk tembakau asal negeri kita sudah dikenal sejak lama dengan sebutan rokok kretek Indonesia. Penyebutan kretek sendiri berasal dari bunyi ‘kumretek’ dari rokok kita saat dalam proses bakaran dan tarikan. Bunyi ini berasal dari unsur rempah berupa cengkeh yang terbakar.

Inilah satu komposisi yang membedakan rokok khas Indonesia dengan rokok putihan. Karenanya, produk kretek memiliki citarasa yang cukup unik dan memiliki pasar tersendiri. Tak hanya di dalam negeri, bahkan, di beberapa negara tetangga, dalam arti luasnya Asia Tenggara, rokok khas asal Indonesia mendapat tempat di kalangan konsumennya.

Sejumlah negara di Asia Tenggara yang menjadi tujuan ekspor rokok kretek Indonesia tercatat ada sepuluh negara. Di antaranya, Kamboja, Filifina, Singapura, Malaysia, Vietnam, Hongkong, Thailand, Australia, Timor Leste, dan Taiwan.

Ada beberapa faktor yang dimungkinkan mengapa rokok dengan komposisi unik ini begitu diminati konsumen Asia Tenggara. Pertama, karena komposisinya yang sangat berbeda dari rokok-rokok kelas putihan yang hanya menggunakan satu-dua jenis tembakau.

Sementara, penggunaaan bahan baku tembakau untuk kretek Indonesia tidak hanya satu-dua jenis, ada kurang lebih sembilan jenis tembakau yang digunakan pada setiap brand rokok. Belum lagi penggunaan unsur cengkeh di dalamnya. Unsur perpaduan rempah pada olahan tembakau itupula yang membuat kretek bercitarasa ajaib.

Kedua, sebagian besar karena perokok asal Indonesia memiliki kebanggaan terhadap produk identitas budaya bangsanya itu. Sehingga produk kretek tak ketinggalan dikonsumsi dalam keseharian, meski sedang berada di negeri orang. Faktor ketiga, karena perokok asal Asia Tenggara cukup punya pengalaman citarasa yang lekat sehingga membuat mereka selalu merindukannya.

Baca Juga:  Bupati Klungkung Kini Merangkap Agen Kampanye Antirokok

Dari sisi ini, kita dapat melihat adanya nilai pemasukan bagi kas negara yang tidak hanya didapat dari pasar dalam negeri. Aktivitas ekspor rokok kretek Indonesia setiap tahun memberi angka yang signifikan terhadap nilai pendapatan yang diterima negara. Meski, angka itu terbilang fluktuatif dari tahun ke tahun.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor rokok kretek produksi Indonesia tercatat sebanyak 77,75 juta kilogram (kg) pada Januari hingga November 2021. Data volume ekspor produk tembakau kita tersebut mengalami penuruanan 3,96% dari periode yang sama, tahun sebelumnya sebanyak 80,95 juta kg.

Secara ekonomi politik, penurunan ini dapat kita tengarai dari yang berkaitan dengan isu rokok dan kesehatan, serta tren konsumsi yang bergeser. Tentu saja persoalan pandemi menjadi variabel yang cukup berpengaruh terhadap kondisi pasar. Kemudian, faktor yang tak kalah penting dari itu adalah dipengaruhi oleh regulasi cukai yang setiap tahun berubah.

Sementara, jika kita tiliki dari data nilai ekspor produk kretek ini, terhitung dari Januari hingga November 2021, dilaporkan sebesar US$ 681,35 juta, turun 2,98% dibandingkan periode tahun sebelumnya, sebesar US$ 702,26 juta.

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara merupakan pangsa pasar terbesar ekspor rokok kretek Indonesia. Di luar Asia Tenggara, beberapa merek rokok kita juga cukup menyebar; di Amerika dan kawasan Eropa. Namun, data ekspornya berbeda dibanding di kawasan Asia Tenggara. Kamboja misalnya, negara tetangga Indonesia ini menjadi tujuan ekspor rokok kretek terbesar, berdasar data BPS, tercatat mencapai 25,5 juta kg (US$ 171,9 juta).

Baca Juga:  RUU Anti Tembakau Mengancam Hidup Petani Cengkeh

Kemudian, Filipina, negara yang terhitung bagian dari Asean ini menempati urutan ekspor produk kretek kedua terbesar. Dengan volume ekspor sebanyak 14,6 juta kg (US$ 117,7 juta). Tercatat pula, ekspor rokok kretek ke Singapura sebanyak 11,8 juta kg (US$ 60,8 juta).

Selanjutnya, sebanyak 6,2 juta kg (US$ 62,3 juta) produk kretek asal Indonesia diekspor ke Malaysia. Ini data tahun 2021. Sementara, ekspor rokok kretek ke Vietnam dan Thailand masing-masing sebanyak 5,7 juta kg (US$ 108,7 juta) dan 3,07 juta kg (US$ 30,36 juta).

Sebagaimana yang kita ketahui, produk yang terdefinisikan sebagai kretek terdiri dari golongan SKT (Sigaret Kretek Tangan) dan SKM (Sigaret Kretek Mesin). Sebaran produk kretek di kawasan Asia Tenggara sebagian besar terdiri dari dua golongan tersebut. Produk kretek ini sebagian besar diproduksi di Pulau Jawa, setidaknya ada tiga daerah yang dikenal sebagai produsen terbesar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pertama, berasal dari sekitaran Kudus. Daerah yang dikenal dengan julukan Kota Kretek ini terdapat lebih dari 70 pabrik yang masih berproduksi. Belum lagi beberapa pabrik dari kota-kota di sekitar Kudus, Jepara dan Demak di antaranya. Sementara pabrikan terbesar lainnya di Jawa Timur, terdapat di daerah Surabaya, Malang, Sidoarjo. Produsen terbesar lainnya, ada di daerah Kediri dan beberapa kota di sekitarnya.

Penulis di Komunitas Kretek