rokok cethe
Opini

Ketika Rokok Cethe Menjadi Ajang Kampanye Politik

Indonesia sebagai bangsa majemuk memiliki keragaman budaya yang membuktikan daya hidup masyarakatnya. Misalnya, dari dunia perokok, terdapat tradisi melukis di atas sebatang rokok. Tradisi ini berasal dari daya olah masyarakat yang dikenalkan secara turun temurun.

Rokok cethe atau nyethe sebagai tradisi melukis batang rokok menggunakan bubuk kopi yang dibuat agak lengket dengan mencampur sedikit susu. Menurut berbagai sumber yang ada, tradisi ini diketahui berasal dari daerah Tulungagung.

Tidak semua orang punya keahlian melakukan aktivitas kreatif ini, mengingat media yang digunakan adalah rokok yang notabene mempunyai kertas yang tipis dan kecil. Bubuk kopi yang digunakan diolah dengan cara yang sudah diolah secara khusus. Bahan baku utamanya biji kopi yang digiling dengan tingkat kehalusan yang sangat halus.

Langkah pertama yang dilakukan untuk nyethe adalah endapan dulu kopi yang sudah dibuat di cangkir atau gelas sampai ampasnya benar-benar mengendap. Kemudian setelah mengendap, ampas kopi tersebut dituangkan ke cawan atau gelas, selanjutnya tunggu sampai airnya meresap. Agar mengendap lebih kering kita dapat menggunakan media tisu.

Setelah itu, barulah bahan utama tersebut bisa kita gunakan untuk melukis. Ibarat kita menyiapkan adonan cat air untuk melukis. Bahan utama tersebut dipisahkan terlebih dahulu ke media yang fungsinya layaknya palet lukis. Kita dapat menggunakan lepek atau tatakan gelas.

Setelah mendapatkan komposisi yang pas dari adonan untuk melukis itu, barulah bisa dipakai untuk melukis di batang rokok. Alat untuk melukisnya tentu bukan menggunakan kuas, melainkan batang korek kayu atau bisa juga dengan menggunakan tusuk gigi. Ujung tusuk gigu yang tipis dan runcing tentu lebih mudah digunakan untuk mendapatkan goresan yang halus dan rapi.

Endapan kopi tersebut bisa diambil dengan tusuk gigi yang kemudian digoreskan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Setelah selesai dilukis, keringkan dulu batang rokoknya hingga benar-benar kering. Setelah mengering, batang rokoknya baru bisa dibakar lalu dinikmati. Sensasi aromanya juga cukup khas. Bagi yang belum terbiasa mungkin akan merasa aneh dengan sensasi yang didapat dari tarikan demi tarikan.

Baca Juga:  Rokok Membunuhmu, Mitos Atau Fakta?

Aktivitas kreatif ini memang menyenangkan bagi orang-orang yang memiliki minat pada kegiatan yang bernilai seni. Namun, sebagian besar masyarakat menjadikan kreativitas nyethe sebagai aktivitas pengisi jeda waktu saja, gampangnya, dijadikan sebagai media menyalurkan keisengan semata.

Ternyata, tradisi iseng-iseng nan kreatif ini pada kesempatan yang lalu, di salah satu kedai kopi di daerah Tulungagung, tepatnya di warung kopi Green Coffe, di Desa Plosokandang—Jawa Timur. Difasilitasi secara terarah, dengan dihadirkan suatu ajang kompetisi yang cukup menarik banyak perhatian. Termasuk perhatian media pemberitaan.

Bedanya dengan lomba melukis cethe sebelum-sebelumnya adalah lomba cethe kali ini diadakan dalam rangka mendongkrak citra Gus Muhaimin atau yang lebih akrab dipanggil Cak Imin. Politisi dari partai PKB yang telah dikenal malang melintang di kancah politik ini, kabarnya akan maju pada kontestasi pemilu 2024.

Acara tersebut diselenggarakan oleh sejumlah orang yang mengatasnamakan kelompoknya sebagai relawan “Gus Muhaimin for President 2024”. Ajang kompetisi cethe ini dihadiri oleh sekitar 100-an orang seniman dengan menggunakan kaos Gus Muhaimin yang telah disediakan oleh panitia.

Sebagai perokok, saya cukup apresiatif dengan penyelenggaraan acara tersebut. Selain mengenalkan dan mengakrabkan lagi tradisi cethe di masyarakat. Kegiatan tersebut dapat dimaknai positif dalam memposisikan rokok yang selama ini kerap dicap negatif dan dibentur-benturkan dengan isu kesehatan.

Dari sisi budaya, secara tidak langsung para pendukung Cak Imin cukup perhatian dengan tradisi yang sudah mengakar di masyarakat. Terlebih masyarakat Tulungagung. Dari sisi ekonomi juga dapat memberi nilai tambah tersendiri.

Sebagaimana yang kita ketahui, rokok dan kopi sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Diakui banyak pihak memiliki nilai strategis yang menguntungkan bagi sebagian besar masyarakat. Iya petani, pekerja, pelaku usaha, dan lapisan masyarakat lainnya.

Baca Juga:  Merokoklah, Tapi Hormati Hak Kami

Hanya saja, kerap kali yang terjadi di dalam sikilus menjelang kontestasi politik, para politisi di Indonesia hanya menjadikan komoditas strategis ini sebagai tunggangan semata. Sekadar dijadikan sarana untuk mendongkrak popularitas saja.

Tentu saja itu satu hal yang klise terjadi, untuk tidak menyebutnya usang. Sebagaimana yang kita ketahui pada kontestasi politik di tahun 2019, stakeholder pertembakauan mendapatkan angin segar dari calon presiden yang mengumbar janji kesejahteraan untuk rakyat. Iya memang pada tahun 2019 itu, tarif cukai rokok tidak mengalami kenaikan. Namun, setelah terpilih, justru tahun-tahun setelahnya, tarif cukai rokok naik sangat gila-gilaan.

Stakeholder yang hidup dari produk tembakau dan kopi setiap waktu memiliki pengharapan yang tak kenal lelah untuk mendapatkan kesejahteraan yang didam-idamkan. Seringkali saja, pada tiap musim kampanye politik, para stakeholder ini hanya mendapatkan iming-iming kesejahteraan.

Namun pada praktiknya, setelah tokoh politik itu mendapatkan dukungan simpatik dari masyarakat, selanjutnya mereka seperti abai dengan semua yang diobral semasa kampanye. Ekonomi masyarakat tak mengalami perubahan yang signifikan. Masyarakat tetap menghadapi kesulitan yang sama dalam hal pemenuhan ekonomi.

Itu semua disebabkan adanya regulasi yang tidak berpihak terhadap rakyat yang hidup dari dua komoditas strategis tersebut. Ini satu hal yang kerap disesalkan dan menjadi kekecewaan yang terus berulang. Semoga saja Cak Imin tidak begitu, praktik-praktik politik yang hanya memanfaatkan isu populis demi kepentingan yang semu dan bersifat semusim. Itu hanyalah bualan yang akan mencedarai kepercayaan masyarakat luas.

Videographer , Komunitas Kretek
Penulis di Komunitas Kretek