Opini

Setelah Rokok dan Kopi, Kini Giliran Teh Dilabel Berbahaya

Satu hal yang mesti kita pahami bahwa merokok memang mempunyai faktor risiko tertentu. Namun, berlebihan jika disebut sebagai penyebab tunggal segala penyakit. Faktor risiko juga terdapat pada barang konsumsi lainnya seperti gula, sate, softdrink, dan lain-lain. Pada beberapa kasus, media dan linimasa kerap membingkai rokok sebagai barang berbahaya dengan narasi yang kelewat bar-bar.

Propaganda antirokok melalui berbagai media, membuat banyak masyarakat yang percaya sekaligus menjadi takut. Padahal seringkali judul yang ada di berita itu belum tentu sesuai dengan isi yang diberitakan, hanya clickbait. Itu hanya trik media yang membutuhkan lebih banyak klik, tidak peduli mengenai kualitas berita yang diberikan.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ada satu artikel yang berjudul “Setara 100 Batang Rokok, Teh Ini Dikaitkan Dengan 6 Jenis Kanker”. Kental sekali nuansa antirokok yang dibangun hanya dengan melihat judulnya. Padahal jika kita baca isi artikelnya yang coba dijelaskan adalah jika kita mengkonsumsi teh jenis Yerba Mate dengan dosis tinggi akan meningkatkan resiko kanker. Madekipe, kita sebagai orang awam pun paham jika mengkonsumsi makanan atau minuman secara berlebihan itu tidak baik.

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa media itu seringkali mengaitkan hal yang negatif dengan rokok, mengapa tidak disandingkan dengan gorengan, atau gula yang jelas-jelas berbahaya jika dikonsumsi dengan jumlah yang banyak dan dalam jangka waktu yang lama? Bagaimana caranya membandingkan kandungan teh dengan kandungan 100 batang rokok? Aneh-aneh aja.

Baca Juga:  Sistem Kemitraan: Alternatif Solusi Bagi Petani dan Industri Tembakau

Pada artikel yang sama disebutkan pula bahwa teh jenis Yerba Mate itu justru mengandung antioksidan lebih banyak daripada teh lain. Pada prinsipnya, teh jenis tersebut memang mempunyai berbagai bermanfaat, namun mengapa framing yang dibuat media itu adalah sisi negatifnya–bahkan dikaitkan dengan rokok? Mengapa tidak membahas sisi positif dan kebaikan tehnya saja?

Fenomena tersebut memang bukan hanya sekali dua kali terjadi pada media kita. Sudah banyak sekali, hingga jumlahnya tidak bisa dihitung. Jika kita cermati, mereka hanya meminjam diksi rokok yang selalu dikaitkan dengan hal negatif. Saya yakin, hal tersebut tak luput dari kampanye-kampanye antirokok melalui berbagai media. Antirokok ini memang tidak pernah kehabisan akal untuk mendiskreditkan rokok dan perokok menjadi pesakitan.

Padahal, jika berbicara mengenai barang konsumsi, pasti akan menimbulkan efek negatif bagi kita jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan, sekalipun barang itu punya beribu manfaat. Contoh sederhananya adalah tubuh itu memang membutuhkan gula agar kita mempunyai tenaga lebih, namun dengan kadar yang cukup. Namun jika kita mengkonsumsi gula dengan kadar yang berlebihan dan terus demikian dalam jangka waktu yang lama, efeknya sangat berbahaya bagi tubuh.

Baca Juga:  Rumah Sakit dari Duit Rokok Siap Dibangun di Malang

Contoh lain misalkan kita mengkonsumsi oyster, dalam kadar yang cukup terdapat manfaat bagi tubuh. Namun jika konsumsinya berlebihan akan menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Bahkan, terdapat barang konsumsi yang jika kita salah mengolahnya pun akan menimbulkan efek negatif bagi tubuh, oyster ini salah satu contohnya. Oyster memerlukan suhu yang tepat saat menyimpannya dan tidak bisa sembarangan dalam pengolahannya. Suhu turun sedikit, oyster akan beracun jika kita konsumsinya.

Pada prinsipnya, barang konsumsi yang baik bagi tubuh pun jika dikonsumsinya dalam jumlah yang berlebihan akan menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Bahkan terdapat beberapa macam jenis konsumsi yang jika kita salah mengolahnya pun akan menimbulkan racun bagi tubuh.

Hal tersebut juga terjadi pada produk rokok. Kita sebagai penikmat rokok harus mengetahui batasan-batasan tubuh kita dalam mengkonsumsinya agar tidak berubah jadi berbahaya versi antirokok. Ada yang merokok 4 batang sehari namun sudah merasa cukup, ada pula yang merokok 2 bungkus sehari baru merasa cukup. Jadi tidak ada takaran pasti setiap orang dalam mengkonsumsi rokok. Meski begitu merokok juga tidak bisa selalu dianggap sebagai hal yang negatif. Ada beberapa orang yang mengkonsumsi rokok untuk pengobatan.

Videographer , Komunitas Kretek
Penulis di Komunitas Kretek