Alat linting
Opini

Buruh Pabrik Rokok Pekerjaan Haram?

Beberapa waktu lalu, dunia maya dihebohkan dengan ceramah dari ustad Khalid Basalamah yang menyebut bahwa umat muslim haram hukumnya bekerja sebagai buruh pabrik rokok. Beliau menyampaikan, bekerja sebagai buruh di pabrik rokok bisa jadi halal asalkan ada salah satu dokter atau atau pemerintah menulis merokoklah karena anda sehat.

Saya pribadi, tidak berniat sama sekali menyudutkan beliau, karena memang persoalan hukum haram dan halal tentang merokok ini memang sudah menjadi perdebatan sejak lama, termasuk oleh ulama-ulama di Indonesia.

Maaf, Ustad, sebetulnya menjawab soal halal-haram merokok itu simple pakai banget, yaitu dengan mengilegalkan rokok. Namun, sampai sekarang, Negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama muslim, belum juga mengilegalkan rokok.

Jika menurut ustad Khalid rokok haram karena dokter atau pemerintah tidak menganjurkan masyarakatnya merokok, justru pemerintahlah yang melegalkan rokok di Indonesia. Legal berarti barang tersebut boleh dikonsumsi oleh masyarakat namun pemakaian barang tersebut diawasi. Secara tidak langsung, pemerintahlah yang mengizinkan rokok boleh dikonsumsi oleh masyarakat.

Perkara kesehatan mengenai rokok ini saya pribadi tidak serampangan mengelak, bahwa rokok mempunyai faktor resiko terhadap kesehatan. Namun jika menjadikan rokok sebagai kambing hitam segala penyakit, itu merupakan kesalahan. Rokok merupakan barang konsumsi yang tiap orang mempunyai kadar batasnya sendiri-sendiri dalam mengkonsumsinya, seperti halnya gula pasir.

Pada prinsipnya, setiap hal yang kita konsumsi secara berlebihan itu tidak baik. Misalnya gula pasir, atau bahkan buah salak. Gula jika dikonsumsi dengan jumlah yang pas maka bermanfaat bagi tubuh untuk asupan energi. Sama halnya dengan buah salak, jika dikonsumsi dengan jumlah yang pas, maka tubuh mendapatkan vitamin c dari buah salak tersebut. Namun jika gula dan buah salak dikonsumsi dengan jumlah yang banyak maka tubuh akan mendapatkan efek negatifnya. Nah rokok juga seperti itu.

Baca Juga:  Rokok, Nasi, dan Yang Mendadak Religius juga Adiktif

Namun, kadar setiap manusia dalam mengkonsumsi rokok itu berbeda-beda. Contoh, terdapat salah satu orang yang saat mengkonsumsi 2 batang rokok dalam sehari sudah merasa cukup untuk meredakan stres dan membuat tubuh rileks. Namun ada juga orang yang setelah mengkonsumsi 2 bungkus rokok, baru bisa menghilangkan stres dan membuat rileks. Jadi, kadar konsumsinya tidak bisa disamaratakan setiap manusia.

Walaupun memang ada juga orang yang mengkonsumsi rokok selama 2 bulan kemudian batuk-batuk, namun ada juga orang yang mengkonsumsi rokok selama 50 tahun namun tetap sehat bukan?

Jika keharaman soal rokok dilihat dari lebih banyak sisi negatifnya daripada sisi positifnya, eits tunggu dulu. Dari sisi kesehatan bahkan, sudah banyak narasi yang terbantahkan. Salah satunya tidak ada hubungan yang signifikan antara merokok dengan kanker paru-paru. Riset tersebut bahkan dikeluarkan oleh lembaga kesehatan global (WHO) sendiri. Jadi narasi selama ini yang mengatakan bahwa rokok merupakan sumber tunggal penyakit kanker paru-paru adalah sebuah kebohongan.

Yang jadi pertanyaan kemudian mengapa narasi soal hubungan merokok dengan kanker paru-paru tersebut tidak digaung-gaungkan seperti narasi bahwa merokok dapat menyebabkan kanker? Karena narasi tersebut tidak bermanfaat sama sekali oleh WHO itu sendiri. Bahkan jika narasi tersebut kemudian diketahui oleh khalayak secara luas, maka itu akan berpengaruh kepada para pebisnis atau pedagang NRT (Nicotine Replacement Teraphy) yang rata-rata adalah antirokok.

Baca Juga:  Hari Perempuan Sedunia: Tuntutan Hak Perempuan dalam Merokok

Sama halnya dengan manfaat merokok. Sejarahnya, rokok kretek itu diciptakan oleh penemunya yaitu Haji Djamhari untuk mengobati penyakit yang dideritanya dan itu berhasil. Maka kemudian kretek lebih dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu heritage khas Indonesia.

Bahkan jika ditarik lebih jauh, pemanfaatan tembakau sebagai pengobatan sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Dahulu, orang memanfaatkan tembakau untuk mengobati nyeri, karena salah satu zat alami yang terkandung dalam tembakau-nikotin itu berfungsi untuk mengurangi nyeri. Belum lagi manfaat campuran rempah lainnya seperti cengkeh, akar klembak, kemenyan dan adas. Semua rempah-rempah yang terkandung dalam rokok kretek itu memiliki sejumlah manfaat.

Saya kira, kurang tepat menyebutkan bahwa rokok lebih banyak sisi negatifnya daripada sisi positifnya. Mungkin saja, masih banyak masyarakat Indonesia kurang memahami lebih dalam mengenai manfaat dari rokok, khususnya rokok kretek. Jika begitu, maka wajar masih banyak masyarakat yang melihat kretek ini dari sisi negatif, bukan dari sisi positifnya.

Kembali menyoal buruh pabrik rokok. Bagi saya, mengharamkan sebuah profesi yang secara turun-temurun menghidupi jutaan kehidupan adalah pernyataan yang keras. Dengan segala kebodohan dan kerendahan, saya sangat tidak mau untuk bersepakat. Tabik.

Videographer , Komunitas Kretek
Penulis di Komunitas Kretek

Leave a Reply

Your email address will not be published.