Opini

Perempuan Merokok Adalah Sebuah Pilihan

Sampai saat ini nampaknya stigma-stigma negatif tentang perokok masih saja ada. Orang-orang masih senang dan dengan mudahnya menstigmatisasi apa yang menurutnya tidak baik dan apa saja yang berbeda pandangan dengannya. Padahal tidak ada standar yang benar-benar jelas yang bisa dipakai untuk menilai baik-buruknya kegiatan merokok.

Stigma buruk tentang rokok seringkali dilekatkan kepada perokok itu sendiri. Kerap kali merokok dianggap sama halnya dengan melakukan kejahatan. Padahal jelas-jelas rokok sendiri merupakan produk yang legal dan di jual bebas dipasaran.

Stigma negatif tentang perokok yang semakin hari semakin masif bukan saja diterima oleh perokok laki-laki, perempuan yang merokok nampaknya juga mendapat stigma yang bahkan jauh lebih ngeri lagi. 

Banyak isu anti rokok yang terus didengung-dengungkan mulai dari isu kesehatan, isu agama, bahkan isu gender juga tak terlewatkan. Dari beberapa isu yang ada, isu gender inilah yang seringkali berdampak menyudutkan kebebasan para perempuan yang memilih merokok.

Ada banyak perempuan yang pada akhirnya menjadi korban atas isu-isu dan stigma-stigma negatif karena pilihan hidupnya sendiri, yakni memilih menjadi perempuan yang merokok.

Seperti halnya yang dialami Ucik, salah satu perempuan yang memilih menjadi perokok sejak usianya menginjak 18 tahun. Sampai saat ini usianya sudah menginjak 20 tahun. Ucik yang saat ini bekerja sebagai karyawan toko sering kali mendapat stigma-stigma negatif dari orang-orang yang melihat perempuan merokok sebagai tindakan yang tidak pantas. Bukan waktu yang singkat untuk Ucik menjalani pilihannya sebagai perempuan yang merokok.

Awal mula Ucik mengenal rokok adalah saat rasa penasaran Ucik tentang apapun mulai bermunculan, termasuk rasa penasaran terhadap rokok. Maklum, di usia itu rasa penasaran akan sesuatu memang sedang besar-besarnya. Di situlah Ucik mulai mencari tahu soal rokok, mencoba-coba, dan sampai akhirnya mengenal rokok bahkan menjadi perokok seperti sekarang ini.

Awalnya diam-diam Ucik merokok dan belum begitu sering, seiring bertambahnya usia masalah sering kali datang, sedang di sisi lain Ucik merupakan tipe orang yang tidak bisa sembarangan bercerita ke seseorang, maka ketika Ucik menghadapi masalah Ucik memilih merokok sebagai jalur untuk menenangkan diri karena Ucik tidak tahu bagaimana cara menenangkan diri.

Ucik menganggap bahwa merokok bukan sekedar sebagai tempat pelarian atau alat menenangkan diri saja, tapi Ucik menganggap bahwa rokok sebagai metode relaksasi. Sehingga pada akhirnya Ucik selalu menjadikan rokok sebagai teman di kesehariannya.

Menjadi diri sendiri

Sejak orang tua tau dan bisa menerima Ucik Merokok, Ucik memutuskan untuk nunjukin dirinya sebagai perempuan perokok bukan hanya di rumah saja tapi juga di luar rumah, tak ketinggalan di sosial media juga. Dan ternyata setelah banyak orang tau kalau Ucik ngerokok banyak sekali respon yang didapat Ucik dari orang-orang.

Banyak yang bilang, “Kamu ngapain sih ngerokok, kamu kan perempuan, pake hijab pula.” Ucik tidak menanggapi serius respon negatif dari orang-orang. Ucik punya pandangan sendiri tentang merokok dan berani mengadvokasi dirinya dari anggapan orang.

Ucik punya anggapan kalau orangtuanya saja tidak mempermasalahkan bahwa Ucik merokok, ngapain Ucik dengerin omongan orang-orang. Ada satu waktu Ucik bikin video di Instagram pas ngerokok, niatnya hanya iseng-iseng dan bukan pengen terkenal atau yang lainnya. Ternyata videonya viral dan banyak banget yang menghakimi. Banyak yang mengaitkan sama agama bahkan soalnya Ucik pake hijab.

Banyak yang hujat, “Pake hijab kok ngerokok, ciri-ciri lonte 3000 an”. Kadang juga mak jleb sakit di hati. Apalagi pas dikait-kaitin sama orangtua, ada yang bilang, “Orangtuamu nyesel ngelairin lu,” tapi Ucik biarin aja, Ucik bukan tipikal yang suka meladeni omongan orang.

Baca Juga:  Perokok Juga Harus Beradaptasi Dengan New Normal

Menurut Ucik semua kembali lagi ke diri sendiri, masa iya Ucik kudu bikin video pas lagi sholat, ngaji, bukan gitu juga. Bagi Ucik kalau sampai meladeni omongan orang, takutnya kepancing emosi malah nanti Ucik kata-katain balik, gak ada bedanya Ucik sama mereka, makin panjang urusannya. Bagi Ucik sekarang mau orang ngomong sejelek apapun, kalau orangtua ridho, Ucik gapapa.

Ucik di tempat kerja juga tidak segan-segan ngerokok dijam istirahat. Pernah Ucik pas kerja di perusahaan rokok. Sempat produksi perusahaan sedang turun, jadi semua karyawan disuruh produksi 200 batang aja. Kalau selesai bebas mau ngapain. Karena kerjaan Ucik sudah selesai dan bingung mau apa, akhirnya Ucik ngerokok.

Pas itu banyak yang baru tau kalau Ucik ngerokok, banyak yang lihat. Dan gak lama kemudian banyak juga yang ternyata pada ngerokok baik perempuan ataupun laki-laki. Ternyata Ucik gak sendirian. Banyak juga temen yang merokok.

Menjadi perokok santun

Menjadi perokok juga harus bisa menempatkan diri supaya jadi perokok yang baik, baik dalam artian tidak menganggu orang lain. Ucik paham benar dengan hal ini. Kalau mau merokok ya pas santai jadi bisa menikmati. Jangan merokok pas mengendarai motor, debunya bisa kena mata orang yang lewat, lagian juga gak bisa menikmati. Misal ada anak kecil atau ibu-ibu hamil lebih baik menjauh dulu kalau mau merokok.

Kalau boleh bicara, Ucik mau ngomong sama orang-orang yang suka nyinyirin orang menstigma negatif perempuan yang memilih merokok. Udahlah ga perlu nyinyirin orang, belum tentu kalian lebih baik dari mereka, karena kalian gak tau kebaikan-kebaikan mereka yang gak diposting.

Dan untuk perempuan-perempuan yang memilih merokok seperti Ucik, jadilah diri sendiri dan jangan dengerin omongan-omongan negatif orang karena yang tahu dirimu ya dirimu.

Berbeda dengan kisah Ucik, perempuan lain yang juga memilih merokok adalah Sinta. Sinta yang saat ini masih berusia 19 tahun, memilih menjadi seorang perempuan merokok baru sekitar 1 tahunan terakhir.

Awal mula Sinta bisa menjadi perokok adalah saat Sinta mengkuti kegiatan magang. Di tempat magang Sinta diperkenalkan rokok oleh senior-seniornya. Hampir semua seniornya merupakan perokok aktif baik perempuan maupun laki-laki. Dari situlah Sinta mulai mencoba-coba rokok sampai pada akhirnya Sinta bisa merokok lalu memilih menjadi perempuan perokok sampai saat ini.

Awalnya Sinta juga merokok secara diam diam. Sampai pada akhirnya Sinta memberanikan diri untuk bilang ke Ibu kalau Sinta merokok. Berbeda dengan Ucik, Sinta hanya baru berani bilang ke ibu, itupun karena Sinta memang selalu terbuka ke ibu tentang apapun.

Sinta juga mendapat respon dari ibu awalnya memang ibu tidak percaya kalau putrinya merokok, sampai suatu saat teman-teman Sinta sedang main kerumah dan ibu liat kalau temen-temen Sinta semuanya merokok baik perempuan maupun yang laki-laki. Barulah ibu Sinta akhirnya percaya bahwa putrinya benar-benar merokok.

Ibu memang menerima dan tidak melarang merokok tapi ibu Sinta berpesan, “Jangan banyak-banyak ngerokoknya kalau bisa ya berhenti saja, hidup di desa takut jadi buah bibir. Jangan sampai ketahuan bapak nanti tau sendiri akibatnya. Kalau ngerokok jangan dirumah, bahaya.”

Baca Juga:  Ancaman FCTC Bagi Indonesia

Sinta belum berani untuk memberitahu bapak karena masih kawatir dengan respon yang akan Sinta dapatkan apabila bapak tau putrinya merokok. Mungkin akan marah karena bapak Sinta bukan seorang perokok. Meski demikian Sinta sudah punya rencana untuk memberi tahu bapak bahwa Sinta merokok, hanya saja untuk kapannya belum tahu.

Siasat Sinta

Menanggapi pesan-pesan ibunya, Sinta juga punya siasatnya sendiri saat merokok. Ketika tiba-tiba ingin merokok padahal sedang di rumah dan tidak bisa merokok di rumah, maka untuk menahan keinginannya merokok Sinta akan makan permen. Maka dari itu Sinta selalu menyiapkan stoples permen. Atau bisa juga sebelum pulang kerumah, Sinta biasanya ngumpul dulu sama teman sambil merokok. Biasanya Sinta merokok waktu capek ngerjain tugas sekolah jadi bisa buat lepas penat. 

Menjadi diri sendiri

Sampai saat ini Sinta masih belum berani untuk menunjukkan diri di lingkungan sekitar termasuk di media sosial bahwa dirinya merokok, hal ini karena Sinta masih kuatir dengan respon-respon dari orang-orang yang melihatnya ketika merokok nanti, takut dikira cari perhatian, dan yang paling penting agar kekuatiran ibu tidak terjadi yakni kuatir menjadi buah bibir di lingkungannya karena merokok.

Hingga sampai saat ini Sinta masih menjalankan siasat-siasatnya dalam merokok. Karena sampai saat ini siasatnya masih berjalan dengan lancar sehingga sejauh ini tidak ada orang yang tahu bahwa Sinta merokok. Mungkin karena inilah sampai saat ini Sinta belum menemui adanya cibiran atau omongan yang sampai ke telinga Sinta.

Semua masih berjalan sesuai siaasatnya. Tapi menanggapi jika semisal suatu saat nanti ada orang-orang yang akhirnya tahu bahwa Sinta merokok dan mencibirnya dengan stigma-stigma negatif, Sinta sudah menyiapkan dirinya dengan memilih untuk tidak ingin ambil pusing dengan omongan-omongan tersebut. 

Menurut Sinta biarkan saja orang-orang mau ngomong apa, mau sampe capek mulutnya juga silahkan lagi pula Sinta beli rokok sendiri mereka gak beliin rokok. Menurut Sinta apa yang Sinta lakukan selama tidak merugikan orang lain dan selama ibunya mengijinkan maka akan Sinta lakukan. Tidak perlu mengaitkan rokok dengan hijab ataupun agama karena urusan rokok itu hak  sendiri-sendiri.

Dari dua versi pengalaman yang berbeda ini, keduanya memiliki kesamaan akan apa yang pada akhirnya dipilih yakni sama-sama memilih menjadi perokok perempuan. Terlepas dari segala resiko distigmatisasi negatif oleh orang-orang yang tidak memiliki dasar yang jelas mengapa menghakimi orang lain dan hanya melihat perempuan merokok sebagai hal yang buruk.

Dari keduanya kita bisa melihat sudut pandang lain tentang alasan masing-masing mengapa memutuskan untuk memilih menjadi seorang perokok perempuan. Dan faktanya sampai saat ini banyak sekali perempuan yang memilih merokok dan mereka tetap bahagia.

Fakta lainnya di era kesetaraan gender sekarang ini, ternyata masih ada saja kegiatan yang biasa dan dianggap lumrah dikerjakan oleh kaum laki-laki, malah dianggap buruk ketika dilakukan oleh perempuan. Padahal kegiatan tersebut sama-sama bisa dilakukkan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Dari fenomena ini kita harusnya belajar bahwa kita harus melihat sesuatu dari banyak lanskap yang berbeda. Karena menghormati hak serta keputusan orang lain jauh lebih baik daripada menghakimi seseorang dari apa yang terlihat saja.

Oleh: Aji Juniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.