3 Gaya Bebas Yang Biasa Dilakukan Perokok
Opini

Perokok Perempuan Lebih Sulit Untuk Berhenti?

Fenomena perokok perempuan tentu bukan hal baru. Meski sudah dari lama ada, fenomena ini masih jadi kontroversi. Perempuan yang merokok masih dipertanyakan oleh banyak orang. Apa alasan para perempuan tersebut mengisap rokok? Apa tujuannya?

Benar bahwa kini sudah banyak perempuan menjadi perokok. Mereka banyak terlihat di berbagai tempat. Kita bisa menemukan perempuan merokok di kafe, di taman, atau area publik mana pun.

Selain itu, faktor perkembangan zaman dan teknologi juga memainkan peran. Harus diakui, orientasi setiap orang dalam bertindak itu berbeda-beda. Perokok perempuan pada zaman modern sudah banyak yang muncul ke publik lewat media sosial, beda dengan zaman sebelum ada media sosial. Perempuan di desa-desa yang merokok ya merokok saja. Tidak dikabarkan kepada khalayak.

Stigma negatif pun banyak disematkan pada perempuan-perempuan ini. Stigma ini berkembang liar melampaui kehendak untuk mencari tahu. Beberapa orang menuduh perempuan menjadikan sebats sebagai ajang keren-kerenan. Ada pula yang melabel bahwa perempuan-perempuan tersebut nakal, binal, dan segudang label negatif lain. Keji memang. Tapi, itu faktanya; cara pandang sebagian masyarakat kita memang masih diskriminatif.

Padahal, tidak pernah ada sejarah atau literatur yang menyebutkan bahwa merokok adalah aktifitas khusus laki-laki. Maksudnya, tidak ada kriteria gender bagi perokok. Laki-laki dan perempuan sama-sama boleh mengonsumsi rokok, asal sudah berusia di atas 18 tahun dan sadar akan faktor risiko.

Stigma negatif pada perempuan merokok selama ini lahir dan berkembang akibat kampanye hitam antirokok. Kelompok inilah yang membangun kisah-kisah buruk soal rokok. Dalam konteks kesehatan, mereka mencitrakan rokok sebagai biang keladi segala macam penyakit. Dalam konteks ekonomi, rokok dicitrakan sebagai biang keladi kemiskinan. Hingga yang berkaitan dengan gender seperti stigma negatif bahwa perempuan merokok pasti nakal, juga merupakan hasil karya kampanye antirokok.

Baca Juga:  Kak Seto, Jangan Ajari Anak-Anak dengan Gaya Boomer!

Bagaimana bisa perokok perempuan otomatis dianggap nakal, sedang perokok laki-laki bebas dari label serupa? Pola pikir macam apa yang sebenarnya mewabah di masyarakat kita?

Masyarakat kita kerap menjadikan rokok sebagai indikator baik buruknya seseorang, terutama perempuan. Balik lagi, ini hasil dari kampenye busuk antirokok. Sialnya, cara pandang diskriminatif ini juga kerap dipakai oleh laki-laki yang merokok. Harus kita akui, sebagian perokok juga belum mampu adil sejak dalam pikiran. Perokok laki-laki juga terkadang memandang miring perempuan yang merokok. Tak jarang pula pandangan miring ini termanifestasikan dalam perbuatan.

Untuk para laki-laki yang begitu, kalian bisa cari pacar yang tidak merokok. Siapa pun berhak menentukan kriteria pasangan tanpa intervensi pihak luar. Tapi, bersikap diskriminatif adalah persoalan lain. Untuk yang terakhir itu tak bisa dibenarkan.

Aktifitas merokok yang dilakukan perempuan sering dianggap sebagai pelarian dari masalah internal seperti masalah keluarga dan kesehatan mental. Kehidupan perokok adalah kehidupan yang paling sering didikte oleh khalayak.

Kaum hawa yang merokok tak jauh dari dugaan broken home, putus cinta, depresi, dan citra buruk sejenisnya. Padahal, ada banyak perempuan yang memilih jadi perokok ya karena memang suka saja. Mereka ingin merokok, maka mereka merokok. Sesederhana itu. Sering juga merokok di saat hati tengah bergembira.

Dari beberapa narasi soal perokok perempuan, ada satu yang menggelitik. Perokok perempuan disebut lebih sulit untuk berhenti dibanding pria. Iya, isu gender tak hanya dimainkan dalam domain moral, kini merangsek ke wilayah psikologis.

“Merokok membuatnya merasa terbebaskan, itu menjadi seperti mekanisme penyesuaian untuk menghadapi tekanan harian dan beberapa wanita juga cenderung percaya itu membantunya menjaga berat badan. Tapi ini semua adalah alasan berbahaya yang membuat mereka membayar mahal,” mengutip dari Tempo.

Baca Juga:  Saatnya Pemerintah Melupakan Freeport

Padahal, sejauh yang ditemukan, perokok perempuan kebanyakan adalah konsumen sesekali. Maksudnya, mereka mengonsumsi rokok tidak reguler sebagaimana perokok pada umumnya. Mereka hanya merokok di momen-momen tertentu, itu pun dengan dosis yang terbilang kecil.

Iya, memang ada juga perempuan yang merokok reguler. Tapi, rasa-rasanya mayoritas adalah perempuan yang hanya sesekali saja. Kalau mau ditilik lebih dalam, bahkan banyak juga perempuan yang mengisap rokok sekenanya saja. Bahasa umumnya “asapnya tidak ditarik”. Semata menunjukkan kalau aktivitas merokoknya itu formalitas belaka.

Nah, lantas mengapa perempuan dianggap lebih sulit berhenti dibanding laki-laki? Bukankah intensitas konsumsi yang rendah justru menunjukkan mereka (perempuan) tidak adiksi terhadap rokok? Ini yang tidak dijelaskan.

Memang demikianlah cara kerja antirokok. Mereka menyelinap ke berbagai diskursus, mengaitkan beragam variabel, agar rokok senantiasa dicap buruk. Namanya saja sudah anti.

Termasuk isu gender. Sudah bosan menyebut perempuan yang merokok itu nakal, kini coba membangun narasi lain: perempuan lebih adiktif. Padahal, berhenti merokok adalah perkara sepele. Mau laki-laki atau perempuan, kalau mau berhenti merokok ya pasti bisa. Kalau sesekali merokok demi menenangkan pikiran, ya apa yang salah? Selama dia sudah berusia di atas 18 tahun, merokok bukanlah sebuah pelanggaran di negara ini.

Lagipula, rokok memang punya khasiat relaksasi. Pusing dan penat kehidupan lumayan berkurang dengan merokok. Gak cuma buat perempuan, laki-laki juga banyak yang mengobati stres dengan merokok. Kenapa? Karena memang ampuh. Gak percaya? Coba saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published.