Opini

Ganjar Pranowo Kunjungi Djarum dan Gudang Garam

Djarum dan Gudang Garam adalah dua brand rokok yang eksis sejak lama memasok tembakau dari Temanggung. Mungkin ini salah dua alasan yang membuat Ganjar Pranowo kerap melakukan kunjungan dan berkomunikasi dengan dua perusahaan besar itu. Termasuk yang dilakukannya beberapa waktu kemarin.

Ia dikenal sebagai salah satu pejabat yang cukup pro aktif mencurahkan kepedulian terhadap sektor tembakau. Ganjar Pranowo tak segan-segan mencipta upaya akomodatif untuk memperbaiki nasib petani. Meski, sosok yang lahir di lereng Gunug Lawu ini kerap pula menjadi pergunjingan media. Ia selalu terlihat energik dan komunikatif di tiap kunjungannya.

Banyak hal yang mungkin membuat masyarakat kerap terkecoh dengan langkah politiknya, misalnya terkait kasus Wadas, ataupula rumor yang menyoroti popularitasnya di Medsos yang sempat disinggung Puan Maharani.

Namun terkait kasus Wadas, di mata aktivis dan netizen, Ganjar menjadi pihak yang kerap menuai banyak sentimen negatif. Beliau tergolong pribadi yang fenomenal memang. Ya, itulah konsekuensi menjadi orang nomor satu.

Terlebih ini menyangkut sumber hajat hidup masyarakat dan kelestarian ekosistem lingkungan. Tentu hal ini cukup menyita tanggung jawab seorang Gubernur. Mengingat pula Wadas adalah salah satu daerah potensial di Purworejo yang masih berada di bawah kepemimpinannya.

Di dalam menyikapi kasus penambangan di Wadas, gubernur fenomenal ini terbilang memiliki langkah-langkah yang patut diapresiasi, terus pro aktif setidaknya. Mulai dari menjalin komunikasi dengan warga terdampak, konsolidasi dengan para pihak, menggelar rapat koordinasi maraton, dan seterusnya.

Meski kemudian, Ganjar justru dihadiahi pengharagaan sebagai Gubernur Perusak Lingkungan. Ini merupakan fenomena satire yang cukup menguji kesabaran ya, Pak. Tetapi tentu akan berbeda yang Ganjar Pranowo akan dapatkan dari masyarakat Temanggung, pastinya bukan penghargaan satire dong.

Mengingat, upaya akomodatif Pak Ganjar dalam mengurusi nasib masyarakat Temanggung—daerah yang menyandang julukan Negeri Tembakau—beliau cukup getol menjalin silaturahmi yang bertujuan pada perbaikan ekonomi masyarakat dari tembakau.

Salah satu upaya yang dilakukannya belakangan ini adalah dengan menyambangi gudang tembakau serta pabrik Djarum dan Gudang Garam. Saking pedulinya dengan nasib petani. Mngkin, di dalam buku protokol hariannya, kegiatan kunjungan ke basis tembakau dan pabrikan menjadi satu kewajiban tersendiri.

Baca Juga:  Dan para petani tembakau itu memeluk Cak Nun

Ini tentu bukan karena momentum semata pastinya, mengingat sudah memasuki masa panen raya dan dekat ke tahun politik 2024 kan ya, Pak? Pad prinsipnya saya cukup mengapresiasi.

Sebagaimana kita tahu, nasib ekosistem kretek kini tengah meradang, terlebih yang dialami di sektor hulu. Petani tembakau menjadi pihak yang paling terpukul akibat regulasi cukai yang eksesif sejak tiga tahun terakhir.

Di dalam kunjungannya, Ganjar menekankan kepada para petinggi kedua perusahaan rokok besar itu untuk menyerap semua panen tembakau dari petani. Sebagai pengingat lagi, pada waktu dekat ini panen raya akan berlangsung di daerah Temanggung.

Ganjar Pranowo menginginkan capaian yang sinergis antara petani dan pabrikan, harapannya semua pihak dapat duduk bersama dalam menyikapi regulasi yang ada. Dia menjelaskan problem yang selalu ditemui setiap tahun adalah ketika panen penjualannya akan seperti apa. Dalam hal ini, dibutuhkan komunikasi dengan industri. Sementara industri ketika berjualan produk membutuhkan regulasi.

Gubernur Jawa Tengah ini turut pula menampung aspirasi petani, salah satunya terkait fenomena tembakau impor ataupula kretek impor. Hal itu membuatnya terheran dan melontarkan beberapa tanggapan yang mengkritisi fenomena tersebut.

Di dalam menyikapi kondisi saat ini, terkait kebijakan cukai dengan adanya agenda simplifikasi tarif dan isu revisi PP 109/2012. Ditambah dengan meningkatnya angka peredaran rokok ilegal. Tidaklah keliru jika Pak Ganjar berupaya mencipta sinergi antara pabrikan dan petani. Ia ingin relasi yang susah terjalin baik di Jawa Tengah bisa terus berjalan beriringan.

Tentu tak cukup sampai di situ, dari kaca pandang kita sebagai perokok, mestinya ada langkah lebih strategis lagi yang dilakukan Pak Ganjar. Apalagi terkait isu revisi yang berjalan secara sembunyi-sembunyi, tiba-tiba sudah ada draft yang menyoroti poin-poin tata niaga rokok.

Ada lima poin revisi yang kesemuanya akan berdampak langsung ke perokok. Juga akan menjadi satu guncangan lain bagi stakeholder di tengah maupun hulu dari ekosistem kretek. Satu yang paling tidak relevan adalah terkait pelarang teknis penjualan secara ketengan.

Baca Juga:  Industri Rokok Tengah Recovery, Jangan Dihambat Oleh Regulasi

Pola jualan rokok secara diketeng bukanlah suatu teknis dagang yang melanggar aturan hukum. Mengingat rokok juga dihitung cukainya per batang melalui aturan HJE-nya (Harga Jual Eceran).

Namun, lagi-lagi yang menjadi dalil revisi PP 109 ini masih berpijak pada data prevalensi anak berdasar angka Riskesdas yang cenderung meningkat. Sementara, jika mengacu data BPS/Susenas yang terbaharui setiap tahun, angka perokok anak mengalami penurunan yang relatif bagus. Terhitung dari 2018, angka prevalensi berdasar data Susenas terus turun dari 9,1 persen ke 3,69 persen.

Fakta ini mestinya yang juga turut disikapi, mengingat agenda revisi PP 109 ini memiliki dampak yang cukup serius ke sektor pertembakauan. Apalagi setiap tahun tarif cukai sudah dipastikan mengalami kenaikan, harga rokok turut naik secar gradual.

Tentu hal ini memicu peningkatan pasar rokok ilegal. Imbas dari kondisi ini jelas bernuansa negatif. Target pemerintah untuk mengangkat derajat kesehatan masyarakat menjadi kontraproduktif. Selain kita mengapresiasi langkah Pak Ganjar dalam membangun sinergi dengan pabrikan dan petani.

Satu hal yang kita sertakan dalam konteks keberpihakan gubernur yang pro tembakau ini, adakah upaya beliau menyikapi kondisi krusial tersebut. Jangan sampai, setelah kejadian dan imbasnya meluas. Eh, malah bersikap terheran lagi.

Pada pertemuan dengan dua pabrikan besar tersebut, beliau pun mendorong wacana untuk membangun Tobacco Centre, berbasis riset yang serius tentang pertembakauan. Ditambah lagi, beliau pun mengharapkan para pihak yang berkaitan dengan industri untuk duduk bersama. Ya mestinya termasuk dengan pemangku kebijakan dong.

Apakah itu nanti akan pula dilakukannya? Banyak masyarakat ini tengah dirundung harap-harap cemas. Isu kesehatan yang dimainkan gerakan antitembakau kian hari kian absurd saja. Kita perokok turut mengharapkan adanya upaya total yang dilakukan Pak Ganjar dalam mengangkat derajat hidup masyarakat yang begantung dari industri kretek. Etapi, kalau untuk sektor hilir, artinya konsumen rokok, Gubernur Jawa Tengah tidak berurusan langsung dong. Apalagi tulisan ini bukan ditulis oleh warga Jawa Tengah, eh maksudnya bukan perokok beralamat Jawa Tengah.

Penulis di Komunitas Kretek

Leave a Reply

Your email address will not be published.