Opini

Sampah Puntung Rokok Jadi Boneka

Sampah puntung rokok yang kerap dicap momok kini punya nilai ekonomi. Bisnis boneka yang dikelola Narman Gupta contohnya. Pengusaha asal India itu mendapatkan peluang cemerlang mendaur puntung menjadi barang bermanfaat.

Boneka beruang yang diproduksi di luar kota New Delhi ini tentu turut menambah mata rantai baru di industri rokok. Produk yang kerap dicap negatif oleh masayarakat global yang hanya melihat dari sisi kesehatan, terbukti mampu memberi makna positif.

Sisi positif ini setidaknya bakal membuka mata masyarakat yang hanya melihat secara sebelah mata. Terlebih, ketika rokok dituding oleh gerakan antitembakau global sebagai penyumbang masalah lingkungan. Faktanya, dari etos kreatif Gupta tak hanya boneka beruang yang mampu diciptakan dari bisnisnya.

Selain serat puntung diambil untuk mengisi boneka beruang, serat filter rokok itu dapat digunakan sebagai pengisi bantal yang berguna dan bernilai ekonomi. Wajar jika bentuk pemanfaatan ini kemudian diapresiasi.

Meskipun saya bukan warga India, namun sebagai perokok, mengetahui ada pemanfaatan puntung dari sisi bisnis ini sungguh ajaib sih. Kenapa ide kayak begini tidak muncul di Indonesia ya? Andaikata antirokok di Indonesia bisa lebih kreatif dari sekadar menyinyiri rokok.

Padahal, dibandingkan sibuk mendorong kepentingan rezim pengendalian tembakau, sementara di baliknya terdapat skema politik untuk menyingkirkan industri rokok dan merebut pasarnya. Ketimbang menjadi bagian dari kepentingan politik dagang lembaga donor untuk fokus kampanye mendiskreditkan rokok.

Cobalah itu, antirokok lebih konstrutif kampanyenya. Belakangan, memang sih ada juga semangat sejenis, dilakukan oleh sebuah komunitas kreatif, memanfaatkan puntung menjadi barang-barang berguna. Produk daur guna itu dipamerkan pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS 2022) sebagai bentuk reaksi atas ramainya isu puntung rokok mengancam ekosistem laut.

Baca Juga:  Tembakau, Emas Hijau yang Tak Dimuliakan

Sejatinya, model bisnis Gupta ini merupakan gambaran dari upaya mewujudkan sistem ekonomi sirkular. Secara sederhana, ini menggambarkan sistem ekonomi regeneratif. Ini adalah konsep alternatif dari ekonomi linier, yang lebih menekankan pada model “ambil, buat, buang”.

Konsep ini sudah kuat gaungnya sejak masyarakat dunia mendapat sinyal krisis energi serta problem kerusakan lingkungan yang kian meluas. Ini merupakan konsekuensi dari berbagai eksplorasi terhadap sumber daya alam hingga berakibat pada pemanasan global.

Indonesia sendiri telah mengadopsi konsep ekonomi sirkular ke dalam Visi Indonesia 2045, dan telah mengintegrasikannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024.

Sebagain besar perusahaan di Indonesia juga telah menerapkan konsep ekonomi berkelanjutan itu. Tak terkecuali Industri Hasil tembakau. Pemanfaatan limbah sudah terintegrasi untuk menunjang siklus produk.

Sebagaimana yang dilakukan oleh salah satu perusahaan rokok di Kudus, terkait pemanfaatan limbah pabrik menjadi pupuk untuk dibagikan kepada petani tembakau. Serta pengelolaan air buangan industri yang dimurnikan lagi untuk irigasi masyarakat dan kolam pembibitan ikan.

Model pemanfaatan puntung yang menjadi bisnis tersendiri di India, ini merupakan gambaran dari sistem ekonomi regeneratif tersebut. Sebagaimana kita ketahui, sampah merupakan momok di seluruh dunia yang tak kunjung tuntas disiasati.

Baca Juga:  Teror Antirokok Memicu Konflik Peperangan

Jika kita menilik lagi India, negara yang juga memiliki produk tembakau khas yang disebut rokok Bidis. Produk ini sejatinya tidak menggunakan unsur filter. Menyerupai rokok klobot kalau di Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman, rokok berfilter juga menjadi salah satu bentuk modernisasi produk yang cukup mendominasi.

Namun, jika kita tilik nasib rokok Bidis di India, eksistensinya tak jauh berbeda dengan nasib produk kretek di Indonesia. Kian hari kian tergerus oleh skema pengendalian tembakau. Daya beli pasarnya mengalami pelemahan, imbas dari kebijakan cukai dan maraknya peredaran rokok ilegal.

India termasuk negara peserta FCTC yang mengaksesi kepentingan pengendalian tembakau. Bahkan beberapa waktu lalu, negeri kelahiran Mahatma Gandhi ini juga menjadi salah satu negara yang masuk daftar penerima dana hibah Bloomberg untuk menjalankan skema program kontrol tembakau.

Dari gambaran ini, kita dapat menengarai adanya pola kesamaan yang terjadi di negara penghasil produk kearifan lokal berbasis tembakau. Yakni, adanya intervensi kepentingan filantropis antirokok yang sejak jauh hari memiliki target untuk memonopoli pasar rokok dunia.

Dari sini, kita dapat menengarai hal lain, bahwa bisnis boneka beruang dapat dimaknai sebagai metafora dari negara yang nasibnya dibonekakan oleh kepentingan Bloomberg berbasis dalih pengendalian tembakau. Persis. Ini pula yang terjadi di Indonesia sampai saat ini.

Penulis di Komunitas Kretek

Leave a Reply

Your email address will not be published.