Tafsir Perokok Terhadap Memaknai Idul Fitri

Tafsir perokok bagi Idul Fitri tidak sesederhana dalam ucapan. Sebab perokok terbiasa serius dalam menafsirkan segala sesuatu.

Pulang ke kampung halaman adalah hal yang paling dirindukan oleh perantau. Setelah bekerja keras di kota, dan bisa jadi hampir setahun tidak pulang, maka kembali ke rumah berkumpul bersama keluarga adalah ritus paripurna. Apalagi kemudian bersua dengan tetangga, saling bertanya dan berkabar, dan diakhiri dengan sebat bersama. Ah, indahnya menjadi perokok saat Idul Fitri

Setelah bertahun-tahun selalu merayakan lebaran bersama, akhirnya pada 2023 lebaran jatuh pada dua tanggal yang berbeda. Tanggal 21 dan 22. Semua orang barangkali sibuk untuk merayakan yang mana dulu. Atau lebih sederhananya, lebih baik merokok pada tanggal 21 atau 22, ya? 

Sebenarnya, tanpa harus memperhatikan kedua tanggal tersebut, tetap saja pada akhirnya kita akan merokok. Pun, kita merokoknya bersama dengan orang-orang terdekat atau tetangga. Dari aktivitas tersebut, setiap perokok akan saling melempar cerita. Misal, siapa yang belum merasakan sensasi Djarum 76 Kurma? Atau sulitkah mendapatkan rokok Juara rasa jambu?

Jarak antara Perokok dan Idul Fitri

Idul Fitri, bagi sebagian orang, memang penuh cerita. Apalagi ini adalah Idul Fitri “beneran”. Maksud penulis, setelah hampir tiga tahun menderita karena pandemi, akhirnya orang-orang boleh dan bebas untuk menjalankan mudik. Dan, pada akhirnya pula bisa menjalankan salat Idul Fitri tanpa harus berjarak. 

Baca Juga:  Pemkot Bogor dan Pelarangan Memajang Rokok

Soal jarak memang menjadi persoalan. Alangkah anehnya bertatapan dengan teman-teman terdekat namun harus ada jarak. Pun, kalo ada jarak, ya harus menggunakan masker. Jadi tidak enak. Tidak losss dalam berbicara. 

Namun, jarak pula yang harus menjadi perhatian bagi para perokok ketika berkumpul dengan keluarga. Tidak bisa dimungkiri bahwa dalam momen kebersamaan itu, ada banyak anak-anak, entah itu sepupu, keponakan, atau bahkan cucu, yang harus dijaga. 

Maka, sebisa mungkin para perokok tetap menjaga jarak. Merokok lah tidak di samping atau dekat anak-anak. Bukankah Idul Fitri juga mengajarkan kita untuk berperilaku santun kepada siapa saja? Toleransi serta tenggang rasa kepada siapa pun yang berhadapan dengan kita. 

Namun juga, jarak itu pula yang harus diperhatikan oleh sesama perokok. Mengapa demikian? Ketika kamu berkumpul bersama para perokok lalu saling menaruh bungkus rokok dan korek, di saat itulah waspada. Bagi para perokok yang benar-benar memaknai Idul Fitri dengan baik maka akan menghindarkan diri untuk melakukan pencurian korek. Apabila masih ada pencurian maka sungguh-sungguh terlalu. 

Kembali dengan Hati yang Bersih

Serentetan peristiwa besar telah terjadi dan barangkali membikin pikiran dan raut wajah menjadi sedih. Terlebih peristiwa tersebut menyangkut keberadaan perokok sebagai penyumbang cukai terbesar di negeri ini. Ya, apalagi kalo bukan kasus korupsi di lingkungan Kemenkeu. 

Baca Juga:  Noe Letto Setuju Ada Tempat Khusus Perokok di Ruang Publik

Barangkali hati ini sedih, raut wajah menjadi pilu, pikiran terkoyak, tetapi, ya, sudahlah. Semesta selalu memahami dan menghukum siapa yang tidak berada di jalur tepat untuk keadilan. Dan kali ini, semesta menghadirkannya. 

Sebagai perokok, mungkin kamu akan sulit melupakan peristiwa tersebut. Namun, pada akhirnya kita hanya bisa memaafkan. Biarkanlah hukum dan alam yang bekerja. Sekali, lagi semesta lebih paham mana yang berperilaku benar atau salah, baik atau buruk, adil atau culas. 

Selamat lebaran untuk kita semua. Pada momen yang penuh fitri ini, sejenak kita melupakan peristiwa masa lalu, dan lebih baik menikmati momen magis untuk sekali dalam setahun. Tetaplah menjadi manusia yang berani dan mandiri untuk mendayagunakan jiwa dan raganya untuk kedaulatan Nusantara. Salam berasap!

Aditia Purnomo