Press ESC to close

May Day dan Kretek

Peringatan May Day sebagai momentum yang dilandasi spirit perjuangan kaum buruh akan selalu ada nyala di dalamnya. Ya, nyala kretek dan nyala semangat buruh dalam memperbaiki nasib. Dua hal ini saling menegaskan budaya masyarakat dalam memaknai perjuangan.

Produk kretek adalah simbol dari kenyataan industri padat karya di Indonesia yang menyerap banyak tenaga kerja, sehingga membentuk suatu ekosistem tersendiri yang terus menjadi sumber andalan  pemasukan bagi negara.

Dari sisi ekonomi, produk berbahan baku tembakau dan cengkeh ini tak hanya berisikan tenaga formal dan non formal, pada lini informalnya juga tak kalah banyak pihak yang terlibat. Kementerian Perindustrian mencatat, total tenaga kerja yang diserap sebanyak 5,98 juta orang, terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor manufaktur dan distribusi, sisanya 1,7 juta bekerja di sektor perkebunan.

Perlu diingat kembali, kretek sebagai sektor padat karya memiliki sejarah penting di Kudus yang diawali dari produksi rumahan, pada abad 18-an. Seiring perjalanan waktu, industri ini dengan corak ekonomi yang khas yang mau tak mau harus beradaptasi dengan perubahan zaman yang dimotori oleh kepentingan global.

Pada titik ini, nyala kretek yang ada di tanganmu sebagai penikmat (konsumen), apapun profesinya—telah berkontribusi besar bagi kelangsungan devisa negara ini. Kita layak disebut pahlawan ekonomi. Dan bukan rahasia lagi, pasarnya yang besar di dalam negeri turut menjadi incaran kepentingan, tak pelak eksistensi kretek berkali-kali dirisak berbagai bentuk regulasi. Peraturan yang menyasar tata niaga produk khas Indonesia ini.

Pada momentum Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei, pastinya publik akan senantiasa disuguhkan berbagai pemberitaan yang berkaitan dengan aksi massa pekerja yang terhimpun di dalam serikat-serikat pekerja. Seturut sejarahnya, adanya hari libur May Day merupakan salah satu buah dari proses unjuk rasa kaum buruh sedunia yang konsisten.

Perlu kita ingat lagi, semangat demokrasi dunia hari ini haruslah mampu mengakomodir semua hak dalam menyuarakan perubahan. Semangat menuntut hak yang bertujuan memperbaiki nasib melalui demo ke jalan, termasuk kita (perokok) kelas pekerja di sektor apapun. Itu adalah gambaran nyata, bahwa masih ada nyala yang harus kita perjuangkan.

Baca Juga:  Perokok Juga Harus Beradaptasi Dengan New Normal

Meski tidak harus turun demo ke jalan seperti para anggota serikat, pada peringatan Hari Buruh, suara kita sepertinya pun sudah terwakili. Utamanya dalam hal perbaikan upah dan sistem ketenagakerjaan yang seharusnya berpihak pada buruh, bukan pada UU Cipta Kerja yang sarat agenda politik kepentingan pemodal.

Beberapa instansi tertentu, ada pula yang memanfaatkan momen libur Hari Buruh sedunia dengan menggelar kegiatan positif versi mereka.

Mengingat pada tahun ini, tak sedikit yang masih berlebaran di kampung halaman, ada beberapa pekerja yang memilih memperpanjang masa liburnya di kampung. Memberi banyak waktu untuk mengobrol dengan sesama sambil sebats, itupun bagian dari ‘nyala’ perjuangan yang saya maksudkan.

Batapapun itu, secara pribadi saya menangkap beberapa agenda politik yang bias kepentingan, melalui demo May Day 2023 ini, di antaranya terdapat beberapa poin tuntutan yang berkaitan dengan target pesta demokrasi 2024.

Selebrasi yang dirayakan melalui demo buruh menjadi personifikasi yang tak bersih dari kepentingan besar di baliknya. Misalnya saja terkait tuntutan Partai Buruh, yang dulu sebelum menjabat sebagai presiden partai tersebut adalah aktivis yang concern di isu perburuhan. Sampai saat ini pun masih  di isu yang sama, hanya saja sudah lebih menyasar pada politik kekuasaan. 

Sementara, saya dan beberapa lainnya yang selama ini skeptis terhadap siapapun calon presiden yang terpilih. Mengingat, berulang kali ganti rezim sudah, berulang kali angka pungutan cukai berubah digenjot naik, keberadaan para tokoh terpilih itu tak punya kendali lebih di hadapan kepentingan investor asing. Sebagaimana kita ketahui, di balik isu pengendalian yang berkedok kesehatan menyimpan tujuan penguasaan pasar.

Poinnya, terkait isu pengendalian tembakau. Pada konteks ini, sampai sekarang kita masih merasakan bagaimana kita sebagai anak sah dari negeri penghasil tembakau, masih mendapatkan bentuk-bentuk diskriminasi terhadap entitas perokok. Dalam menikmati hasil kekayaan negeri sendiri saja kita diperdaya melalui permainan cukai, kita masih harus membayar lebih ‘mahal’ melalui skema kampanye yang mengeksploitasi emosi.

Baca Juga:  Para Pekerja di Seluruh Dunia, Sebats Dulu Lah!

Seringkali saja, perokok dicap sebagai momok atas beragam persoalan kesehatan dan isu kesejahteraan. Perokok distigma sebagai musuh bersama yang secara eksplisit diperkuat melalui tanda peringatan kesehatan pada bungkus rokok. Belum lagi perkara BPJS Kesehatan yang kerap membantu perokok.

Upaya intervensi politik pengendalian itu masih terjadi, oleh sebab pemerintah melulu mengamini intervensi politik para aktor yang bermain melalui regulasi, salah satunya melalui traktat FCTC (Framework Convention Tobacco Control), hingga hari ini upaya untuk merevisi regulasi yang adapun tak lepas dari dikte politik luar terhadap Indonesia.

Skeptisme ini pula yang harus saya akui dalam memaknai selebrasi Hari Buruh Sedunia, aktor politik yang punya kendali dalam mengkondisikan massa di jalan, tak lain aktivis yang rentan ‘masuk angin’. Bukan karena pilihan konsumsinya; merokok atau tidak merokok. Namun, ini menyangkut konsistensi dan keberpihakan. 

Mengingat sampai hari ini, sejak regulasi PP 81/1999 sampai PP 109/2012 muncul, dimana regulasi itu jelas-jelas berdampak pada nasib buruh Industri Hasil Tembakau (IHT). Telah ribuan pabrik yang bangkrut dan sebagian lainnya terseok, beberapa harus mengambil langkah efisiensi kerja. Presiden Partai Buruh itu mana ada suara keberpihakannya(?)

Bagi saya, peringatan May Day yang rentan dimainkan oleh kepentingan politik kekuasaan hanya akan menjadi kendaraan transaksional saja. Mengingat daya tawar dari nyala perjuangan buruh kerap potensial dimanfaatkan oleh spekulan politik.

Intinya, dengan tetap sebats dan unjuk rasa melalui medsos pun dapat saya lakukan, wajar jika corak dan capaiannya berbeda dengan mereka yang berkarib-karib dengan kepentingan penguasa. Bagi kawan-kawan senasib yang merayakan May Day tanpa harus turun ke jalan, kita toast. Angkat kopi, bakar, dan selamat liburan.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *