Press ESC to close

Betapa Naifnya Antirokok yang Merayakan HTTS

31 Mei kemarin diperingati sebagai hari pestanya para anti rokok, yakni World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Indonesia sendiri sebagai salah satu negara penghasil tembakau terbaik sedunia pun ikut merayakan hari tersebut. Hari dimana tanaman tembakau yang disebut juga sebagai tanaman emas di Indonesia malah dirayakan untuk ditolak di negara sendiri. 

Padahal, tembakau merupakan satu-satunya tanaman di Indonesia yang memiliki andil besar dalam meningkatkan pendapatan negara. Betapa naifnya anti rokok yang ikut merayakan HTTS ini.

Semua masyarakat tahu bahwa hasil tembakau ini sangat dimanfaatkan oleh negara. Data memperlihatkan, pada 2021 lalu cukai hasil tembakau mampu mendominasi sekitar 65% pendapatan cukai nasional. Baru diikuti oleh kegiatan impor, bbm, dll.

Jika melihat sejarah bagaimana perjalanan tanaman tembakau dalam penghidupan masyarakat di Indonesia, kondisi Indonesia tak layak dan tidak relevan untuk merayakan hari itu. Ada banyak alasan Indonesia tak layak merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Tembakau mampu menghidupi ribuan kepala keluarga di Indonesia khususnya daerah-daerah penghasil tembakau dan daerah yang memiliki pabrik-pabrik rokok besar di Indonesia. Sebutlah Kudus dan Jawa Timur dengan pabrik rokok atau temanggung, madura, dan daerah timur Indonesia sebagai daerah penghasil tembakau terbaik. Tidak bisa dipungkiri, tembakau banyak membantu mensejahterakan banyak nyawa.

Baca Juga:  Wafatnya Dalang Kondang Tak Luput dari Anasir Kampanye Antirokok

Maka dari itu, Indonesia tak layak merayakan hari tanpa tembakau ini. Jika Indonesia terus ikut-ikutan merayakan hari tanpa tembakau, Indonesia telah mencederai masyarakatnya sendiri, dan bisa saja suatu saat masyarakat Indonesia kehilangan mata pencahariannya ini. 

Negara memperoleh keuntungan ratusan triliunan dari tembakau, termasuk pajak rokok dan cukai hasil tembakau. Anti rokok yang salah satunya juga dari orang kesehatan ikut menikmati uang dari tembakau. Dalam pembagian DBHCHT, kesehatan mendominasi dengan perolehan tertinggi sebanyak 40%.

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah perokok. Banyak orang terbantu pikiran dan jiwanya dari merokok. Pikiran menjadi rileks, obrolan dan diskusi lebih cair dan hangat. Untuk beberapa kalangan, rokok ini menjadi sarana kebahagiaan yang paling mudah dijangkau.

Indonesia sangat tak pantas merayakan hari tersebut. Saya tak yakin negara ini mampu memberi sarana perekat kehangatan yang paling mudah dijangkau masyarakat selain rokok.

Tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini ialah ‘We Need Food, Not Tobacco’ Kita Butuh Makanan, Bukan Tembakau. Tentu tema tersebut dimaksudkan untuk ditujukan kepada kaum menengah bawah yang mengkonsumsi rokok. Salah satu kampanye anti rokok sejak dulu ya menyerang masyarakat kelas bawah yang lebih memilih membeli rokok ketimbang membeli makanan atau kebutuhan pokok keluarga.

Baca Juga:  Bahaya Rokok dan Rapuhnya Narasi Antirokok

Mari mengkritisi bahwa hal di atas adalah tidak tepat. Mengapa?

Rokok ini merupakan sarana kebahagiaan yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat kalangan bawah. Salah jika narasinya perokok lebih memilih rokok ketimbang makanan. Kalau makanan, semua orang membutuhkan. Orang kaya, miskin, sehat, sakit, semua kalangan jelas butuh. 

Tapi, mengapa masyarakat diharuskan untuk memilih rokok atau makanan. Bagi kalangan atas, hal ini mungkin bukan masalah, ia bisa memilih keduanya sekaligus dan membeli kebahagiaan lain dengan membeli tiket liburan, jalan-jalan keluar negeri, atau membeli barang-barang branded. Tapi bagaimana dengan nasib kalangan bawah yang merokok, memangnya pemerintah mampu memberi alternatif kebahagiaan lainnya selain rokok?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *