Press ESC to close

Menyaksikan Kondisi IHT Tahun Ini, Kemenkeu Bebal Jika Tidak Membatalkan Kenaikan Cukai Rokok

2023 adalah tahun paceklik dalam sejarah penerimaan negara dari cukai rokok. Terlebih banyak persembunyian tikus-tikus pegawai pajak yang terbakar dan memaksa mereka memakai seragam oranye kebanggaan KPK.

Perihal paceklik penerimaan negara dari sektor cukai dan pajak rokok, tentu saja alasannya satu: bebalnya Kemenkeu, dalam hal ini diwakili oleh pucuk pimpinannya. Bebal karena mengabaikan rumus sederhana; kenaikan cukai akan memicu peningkatan rokok ilegal sehingga merugikan negara. 

Menyebut ‘bebal’ rasanya tidaklah berlebihan. Bagaimana bisa orang-orang terdidik yang menguasai ilmu ekonomi tidak bisa membaca secara komprehensif dampak dari kebijakan yang mereka buat dan sahkan. Padahal, efek kenaikan tarif cukai rokok ini nyata dan signifikan membuat pendapatan negara porak-poranda.

Tidak perlu jauh-jauh mengcrawl data tahun-tahun yang telah belalu. Coba amati pada 2023 ini. Di bulan Februari kemarin, penerimaan negara dari cukai rokok turun sebesar 0,01% secara YoY, ya masih terbilang turun tipis. Namun pada Mei menurun hingga 12,45% secara YoY senilai 90 triliun. 

Sebagai calon penerus perjuangan bangsa, saya selalu diajari untuk berperasangka baik terhadap kenaikan tarif cukai rokok. Mungkin saja negara butuh banyak uang untuk membangun infrastruktur, meningkatkan taraf hidup masyarakat, atau banyak hal lain demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Namun, saya juga diajari untuk bersuara atas “ketololan” berulang para pemangku kebijakan.

Keledai saja bisa tidak jatuh di lubang yang sama, lha ini manusia yang diberikan kesempurnaan oleh Pencipta kok tidak menggunakan otaknya dengan sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.

Sementara soal tikus-tikus penghuni lumbung uang negara, ya tidak perlu diperdebatkan. Mentalitas pejabat-pejabat kita ya masih itu-itu aja: sudah di posisi aman; maling. Mau mengincar jabatan kamuflase jadi malaikat.

Baca Juga:  Pemberian ALat Produksi Pertanian di Lombok Belum Sepenuhnya Menjawab Persoalan Petani

Secerdas apapun otakmu tidak akan bisa menalar penjahat-penjahat kakap semacam ini. Mereka sudah digaji dengan keringat dan air mata rakyat, tapi bisa-bisanya masih menggerogoti uang yang seharusnya dipergunakan untuk kemaslahatan bangsa.

Ambil saja contoh Kepala Bea Cukai Makassar, Sang Penjahat bernama Andhi Pramono. Dia licin seperti belut dan beringas seperti anjing lapar yang melihat seonggok daging, meski kasian anjing disamakan dengan Andhi Pramono. 

Bisa-bisanya ia menjadi pelindung rokok ilegal yang jelas-jelas merugikan negara. Kelakuan bejat Andhi Pramono ini sudah dilakukan sejak 2012, artinya lebih 10 tahun ia menjadi ‘gali’ atau mafia rokok ilegal. Tidak ada hukuman yang pantas untuk penjahat semacam ini kecuali di arak keliling kampung dan setiap orang berhak menyayat kulitnya dengan silet, kemudian ia dimandikan dengan air perasan jeruk.

Dua hal ini, dan masih banyak hal lainnya, seharusnya membuat sadar bahwa mudharat dari kenaikan tarif cukai rokok itu lebih besar. Dan mari kita tonton saja, apakah kenaikan tarif cukai rokok tahun depan dibatalkan atau malah ditambah persentasenya.

Baca Juga:  Penggabungan Batas Produksi Rokok Berpotensi Menggeser Konsumen Rokok Dalam Negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *