Press ESC to close

Dari Mana Inspirasi Novel Gadis Kretek?

Gadis Kretek, bagi kalian penggemar dunia perfilman Indonesia, pasti sudah tidak asing lagi judul film tadi. Gadis Kretek menjadi serial netflix pertama Indonesia yang banyak dinanti. Serial Gadis Kretek ini diadaptasi dari novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Sebuah novel epic yang mampu berkisah mengenai kehidupan seseorang dengan rokok ‘kretek’. 

Dengan kepiawaiannya, Ratih Kumala mampu menceritakan bagaimana ‘kretek’ bisa sangat berpengaruh dalam penghidupan seseorang. *Sebagai informasi, Ratih Kumala bukan seorang penikmat ‘kretek’. Lalu, mengapa sang penulis mampu menggambarkan kisah ‘kretek’ dengan begitu bagus dan indah?

Kisah Gadis Kretek

Rupanya kisah yang termuat dalam novel Gadis Kretek merupakan inspirasi dari kakek sang penulis. Dulunya, kakek Ratih Kumala memang seorang pengusaha rokok ‘kretek’, namun pabrik rokok kretek milik kakek Ratih Kumala sudah gulung tikar sejak Ratih Kumala belum lahir.

Sewaktu Ratih kecil, sang kakek memiliki kebiasaan melinting tembakau yang mana sari dari tembakau yang sedang dirajang dan diolah selalu menempel di tangan sang kakek. Sang kakek juga memiliki kebiasaan meracik rokok kretek dengan resep khasnya sendiri. Kenangan-kenangan tersebut terekam indah dalam memori Ratih Kumala. Hal itulah yang melatar belakangi pembuatan novel ini.

Baca Juga:  Lambatnya Orang-orang Kementerian Keuangan Menyadari Efek Buruk Kenaikan Cukai Rokok

Rupanya, novel ini juga dipersembahkan spesial untuk kakeknya, Alm Hj. Affandi. 

Tak sampai di situ. Kisah yang kompleks dalam novel ini bukan hanya dari kenangan penulis di waktu kecil saja. Ratih Kumala juga melakukan riset panjang selama 4 tahun demi kisah yang runtut yang tidak hanya mengangkat satu persoalan saja. Riset ini dilakukan oleh penulis dengan mengunjungi pabrik-pabrik rokok kretek di daerah Jawa Tengah. 

Novel ini utamanya mengangkat tema percintaan. Sang tokoh utama ‘Soeraja’ yang merupakan pengusaha rokok kretek bertemu dengan ‘Jeng Yah’, wanita yang gemar meracik rokok kretek. Dalam pertemuan dua tokoh ini, keduanya terlibat kisah cinta namun harus kandas sebab situasi politik saat itu.

Selain itu, berkat dari riset sang penulis, Ratih Kumala akhirnya menambahkan berbagai pengetahuan mengenai ‘kretek’ di Indonesia. Terdapat gambaran peristiwa mengenai konflik, persaingan, dan bisnis rokok ‘kretek’ di Indonesia pada masa itu. Jadi membaca buku ini tidak hanya menikmati kisah percintaan seseorang saja. Namun, penulis juga mengajak kita untuk belajar mengenai industri ‘kretek’ di Indonesia. 

Yang paling saya kagumi dari novel ini adalah gaya bahasa penulis yang mampu memberikan gambaran rasa dan aroma dari  ‘kretek’ (campuran tembakau, cengkeh, dan rempah lain) dengan kuat. Ratih Kumala mampu memberikan gambaran yang kuat seolah-olah ia juga penikmat rokok kretek tersebut.

Baca Juga:  Ade Rai dan Gagal Paham Soal Produk Konsumsi

Kretek Warisan Budaya

Kretek merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan oleh kita sebagai generasi penerus. Jika Ratih Kumala yang bukan perokok saja bisa melestarikan ‘kretek’ melalui sebuah novel, kita sebagai penikmat sejati pasti lebih bisa untuk melestarikannya. Tidak harus berbentuk tulisan, cukup dengan terus mendukung industri kretek agar tetap berjaya di negara ini, itu sudah lebih dari cukup.

Sebagai Kretekus, novel Gadis Kretek adalah rekomendasi yang pas untuk dibaca bagi kalian yang ingin mengetahui tentang ‘kretek’. Jika kalian bosan dengan pengertian ‘kretek’ yang begitu-begitu saja, imbuhan kisah cinta dalam novel ini mungkin bisa membantu gairah kalian untuk membaca.

Terima kasih, Ratih Kumala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *