Press ESC to close

92 Industri Rokok di Kudus Mampu Serap 80 Ribu Tenaga Kerja

Salah satu daerah yang memiliki perhatian khusus terhadap Industri Hasil Tembakau (IHT) adalah Kudus, Jawa Tengah. Di daerah yang juga merupakan tempat ziarah ke Sunan Kudus, memiliki 92 perusahaan rokok. Dari 92 perusahaan terbagi ke dalam industri rokok besar, menengah, dan kecil. Dari 92 perusahaan itu pula, kini, setidaknya industri rokok di Kudus memiliki 80 ribu tenaga kerja. 

Kudus bukan satu-satunya daerah yang memiliki jumlah tenaga kerja cukup banyak di perusahaan rokok. Ada pula di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Namun, Kudus merupakan kota yang berbeda. Sebab, di kota itu, setidaknya 10% jumlah penduduk adalah pekerja di industri rokok. 

Dari angka sepuluh persen tersebut, sebagian besar pekerjanya menggantungkan hidup di perusahaan sigaret kretek tangan (SKT). Bagi masyarakat di Kudus, industri SKT inilah yang memberikan harapan dan optimisme di tengah ketidakpastian serapan tenaga kerja di sektor lainnya.

Industri Rokok di Kudus

Kudus merupakan kota yang telah lama menggeluti industri rokok. Pada mulanya, Nitisemito yang hadir dan mengembangkan industri rokok di Kudus. Bahkan, era dulu, boleh dibilang bahwa Nitisemito adalah raja kretek. Raja yang terkenal dengan merek Tjap Bal Tiga. Industrinya berkembang bahkan menjadi satu-satunya industri yang berhasil membangkitkan perekonomian Hindia Belanda. 

Baca Juga:  Asap Rokok, Perabot Rumah, dan Argumen Ngawur Antirokok

Dari Tjap Bal Tiga, beralih ke berbagai perusahaan setelahnya. Di Kudus, kini ada banyak perusahaan rokok ternama bahkan boleh dibilang menguasai Indonesia, yaitu PT. Djarum. Sebenarnya tidak hanya Djarum melainkan juga Sukun dan Nojorono. Ketiganya pula yang kini mewarnai perekonomian Indonesia. 

Geliat industri rokok di Kudus tidak hanya memberikan kesejahteraan bagi pekerjanya melainkan juga pertumbuhan ekonomi di sekitarnya. Jika kamu pernah pergi ke Kudus, dan mengamati para pekerja tiba di pabrik saat pagi hari, di situlah ekonomi tumbuh. Ada banyak pedagang mulai dari makanan hingga pakaian di sekitar pabrik. 

Barter ekonomi inilah yang kemudian hari disebut multiplier effect. Ekonomi berkembang tidak hanya berpusat kepada pekerja di dalam pabrik melainkan juga ke pekerja luar pabrik. Industri rokok tidak hanya menghidupkan ekonomi pekerjanya, tapi juga menghidupi lingkungan pekerja saat berinteraksi. 

Hal-hal seperti inilah yang pada akhirnya membuat industri rokok terus berkembang, selalu ada, dan berlipat ganda. Sayangnya, industri ini mendapat gempuran dari berbagai pihak, seperti teman-teman antirokok. 

Industri SKT Berkembang hingga saat Ini

Satu hal yang belum atau mungkin tidak dilihat oleh teman-teman antirokok adalah industri SKT. Sebagian besar pekerja di industri SKT adalah kaum perempuan. Kaum inilah yang mampu melinting rokok dengan gesit dan cekatan. Sayangnya, banyak teman-teman antirokok yang justru memberikan stigma buruk kepada mereka. 

Baca Juga:  Sejarah Sampoerna, dari Industri Rumahan Jadi Perusahaan Internasional

Padahal, apabila ditelusuri lebih jauh, para perempuan inilah yang menjadi daya dukung industri SKT. Dari tangan-tangan mereka lah tercipta produk kretek. Produk yang senantiasa membantu penerimaan negara setidaknya dalam lima tahun terakhir. 

Akan tetapi, kebijakan negara tampaknya tidak menyentuh ke level mikro. Kenaikan cukai rokok yang berlebihan membuat sebagian kecil pabrik rokok melakukan efisiensi. Dampaknya cukup mengerikan. Para perempuan itu, yang sejatinya mencari hidup, terpaksa menganggur. Hal seperti ini yang tidak dilihat mereka. 

Oleh karena itu, berterima kasihlah kepada industri rokok di Kudus, yang senantiasa menghidupkan dan menghidupi para pekerja di sana. Tidak heran apabila di kemudian hari, Kudus mendapat sebutan kota kretek. Sebab, hanya kretek yang bisa membangkitkan perekonomian masyarakat di Kudus. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *