Press ESC to close

Stigma Rokok: Memangnya Rokok Penyebab Stunting?

Sebagai perokok santun, baiknya kita tidak sekadar melakukan aktvitas merokok saja. Namun, perlu ilmu pengetahuan mengenai suatu masalah yang berkaitkan dengan merokok. Salah satunya adalah stunting. Baru-baru ini, pihak antirokok memberikan cap atau stigma bahwa rokok sebagai penyebab stunting. Apakah benar demikian?

Mengutip dari halaman Unicef.org, stunting adalah kegagalan untuk mencapai potensi pertumbuhan seseorang yang disebabkan oleh malnutrisi kronis dan penyakit berulang selama masa kanak-kanak. Dari pernyataan tersebut, apa hubungannya stunting dengan aktivitas merokok?

Malnutrisi lebih disebabkan orang tua yang tidak memiliki kesadaran untuk memberikan gizi pada anak. Apalagi sampai tahap kronis. Pun demikian dengan penyakit berulang. Orang tua harus lebih sadar dan awas terhadap anak-anaknya. Kesalahan berpikir dari antirokok adalah orang tua perokok menjadi faktor utama penyebab stunting. Sebab, mereka lebih suka membelanjakan dana untuk rokok ketimbang kebutuhan gizi. Stigma terhadap rokok inilah yang pada akhirnya membuat perokok menjadi individu yang harus salah.

Lah, kenapa produknya yang disalahkan? Bukankah pemerintah yang seharusnya ikut bertanggung jawab? Di mana peran pemerintah terkait kebijakan stunting? Seperti sosialisasi terhadap masyarakat yang kurang pengetahuan mengenai stunting. 

Stigma Rokok dan Kurangnya Peran Pemerintah

Di lingkungan masyarakat biasanya terdapat rapat ibu-ibu PKK atau rapat bulanan dari bapak-bapak. Dari rapat seperti itulah, seharusnya pemerintah turun tangan dan hadir untuk memberikan sosialisasi tentang stunting. Pertanyaannya, apakah pemerintah sudah mengimplementasikannya? Jangan-jangan, jarang atau bahkan belum pernah.

Baca Juga:  Potensi Kemandirian Nasional yang Terabaikan

stigma rokok

Jika belum pernah, pemerintah harus segera melakukannya. Bukan malah sibuk mencari kambing hitam. Sebab, itulah yang menyebabkan stigma rokok menjadi buruk karena rokok merupakan penyebab stunting.

Bahkan saya berani mengatakan, orang tua yang tidak merokok saja, jika tidak mempunyai ilmu soal stunting, anaknya pun bisa terkena stunting. Sebetulnya masalah utamanya pada orang tua. Bukan pada rokok atau aktivitas merokoknya. 

Coba saja kalian ketik di mesin pencari mengenai penyebab stunting. Faktor utamanya ialah rendahnya akses terhadap makanan yang bergizi dan penyakit yang berulang pada anak. Rendahnya akses terhadap makanan ini utamanya memang terjadi kepada masyarakat yang kurang mampu, entah ia perokok atau bukan. Namun, untuk masyarakat yang mampu apakah hal ini tidak bisa terjadi? Tentu sangat bisa terjadi juga.

Soal penyakit yang berulang, ini yang mesti diwaspadai. Karena ini bisa saja terjadi karena faktor genetik. Perlu insting yang kuat bagi orang tua untuk memperhatikan kondisi anaknya. Jika anak sedang dalam kondisi yang kurang prima, baiknya langsung dibawa ke rumah sakit. Setidaknya untuk konsultasi. 

Pemerintah Harus Gerak Cepat

Di sini perlunya peran pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Agar masyarakat yang kurang mampu dapat memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Kemudian sosialisasi mengenai stunting kepada masyarakat secara umum. Sosialisasi ini penting, karena orang yang mampu secara ekonomi belum tentu paham mengenai ilmu parenting seperti stunting. 

Baca Juga:  Haram Hukumnya Perokok Masuk Masjid, Benarkah?

Stigma bahwa rokok dan orang tua merokok itu bisa menyebabkan stunting seharusnya disudahi saja. Tidak ada korelasinya. Sebab, faktor anak penyebab stunting itu sangat banyak sekali. Saya ambil contoh dari pengalaman pribadi. Anak saya pernah dianggap stunting saat mengikuti posyandu karena berat badan yang kurang waktu itu. Namun, ketika saya timbang di rumah, ternyata berat badan anak saya tidak sekurang saat ditimbang di posyandu. Maka dari itu, saya menganggap timbangan yang ada di posyandu itulah yang bermasalah. 

Hal seremeh-temeh itu pula bisa menjadi sebab anak kita tercatat stunting, padahal kenyataanya tidak demikian. Saya perokok, saya tidak lantas mengabaikan perkembangan anak saya. Saya selalu dengan senang hati memberikan asupan gizi untuk anak. Tidak lantas mengorbankannya demi sebatang rokok. Hal yang saya yakini juga terjadi kepada para perokok lainnya di luar sana. 

Bagas Nurkusuma Aji

Bagas Nurkusuma Aji

Videografer di Komunitas Kretek. Lahir dan besar di Turi, Sleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *