Press ESC to close

Membedah 3 Capres Pemilu yang Kira-kira Terkait dengan Bloomberg

Mari kita lihat satu persatu mana capres dalam pemilu 2024 yang dekat dengan Bloomberg.

“Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.”

Pernyataan romo Magnis yang berseliweran di lini masa medsos ini cukup relevan sebagai acuan kita sebagai pemilih di Pemilu 2024 ini. Kita, sebagai yang di hilir industri pertembakauan, (konsumen rokok) tentu menaruh harapan pada ‘presiden baru’, setidaknya harapan kita terhadap sektor strategis kretek. 

Pertanyaan kritisnya, iyakah ‘presiden baru’ yang akan kita dapat? Ya dalam arti fisik, tentu bukan lagi presiden Jokowi. Namun jika kita mengingat jejak rekam masing-masing Paslon, secara politik memiliki kesamaan, yakni sama-sama dalam bayang-bayang oligarki. Politisi mana sih yang tidak dalam hegemoni oligarki?

Di sinilah sulitnya nasib negara yang mengidap depedensia ekonomi, terutama ketergantungan pada utang luar negeri dan penghambaannya terhadap investasi asing. 

Jika kita tilik dari debat Capres kelima dalam Pemilu 2024, tak satupun dari ketiga Paslon yang bicara soal IHT (Industri Hasil Tembakau) yang merupakan isu penting pada ranah kebudayaan. Di soal isu kebudayaan, Anies ingin bentuk kementerian kebudayaan, Prabowo rencanakan dana abadi, Ganjar singgung kebebasan berekspresi.

Sementara, problem kebudayaan kita saat ini bisa dibilang ‘belum bisa keluar’. Keluar dari apa? Keluar dari hegemoni kepentingan global. Utamanya terkait kelangsungan budaya kretek.

Dari sekian kerja pembangunan yang belum tuntas diwujudkan oleh Joko Widodo, IKN salah satunya. Termasuk masih ada 58  Proyek Strategis Nasional yang belum dibangun, dimana nilai investasinya sebesar Rp420 triliun. Tidak ada di situ yang memprioritaskan sektor pertembakauan. Proyek-proyek tersebut dipastikan tidak memberi manfaat optimal kepada masyarakat.

Bloomberg dan 3 Capres Pemilu 2024

Berdasarkan survei yang digelar oleh Bloomberg, para ekonom justru memberikan nilai tertinggi kepada Anies Baswedan, yang berstatus sebagai “kuda hitam”, dalam kontestasi Pilpres 2024. 
Anies Baswedan, sosok yang paling vokal dalam mengkritik Presiden Joko Widodo, mendapat nilai tertinggi.

Berbeda dengan penilaian terhadap Prabowo maupun Ganjar yang berada di bawahnya. Nilai tersebut didapat dari 17 ekonom dan analis pasar. Penilaian terhadap Anies ini tentu bukan tanpa alasan kenapa media Bloomberg begitu mengunggulkan Anies.

Anies Baswedan dekat dengan Bloomberg

Yap. Anies adalah kuda perang bagi agenda politik Bloomberg yang selama ini getol membiayai gerakan antirokok melalui yayasan Bloomberg Philantrophies.

Bisa kita cermati dari kebijakannya terkait rokok pada kota yang dipimpinnya dulu, DKI Jakarta. Semasa Anies menjabat gubernur, terkuak fakta pada 4 Juni 2019 Anies menyurati filantropis asal Amerika Serikat (AS), Michael Rubens Bloomberg. 

Baca Juga:  Asap Rokok dan Kualitas Udara Jakarta

Poinnya, Anies menuliskan di Jakarta diprediksi ada 3 juta perokok aktif dan angkanya naik 1 persen setiap hari. Seolah memberi bukti bahwa konsumsi rokok di DKI sangat besar dan berpengaruh pada kesehatan. Dari logika ini saja dapat kita tengarai arahnya.

Anies memang pernah beberapa kali dilaporkan menerapkan kebijakan untuk mengendalikan konsumsi rokok. Sebagai contoh pada Agustus 2021, Pemkot DKI Jakarta aktif menindaklanjuti Seruan Gubernur (Sergub) No 8 Tahun 2021 tentang penutupan pajangan rokok di minimarket.

Sebagai catatan, Bloomberg Philanthropies, pada tahun 2006-2008 memberikan bantuan dana sampai 375 juta dolar AS untuk membantu upaya pengendalian tembakau di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini menjadikan Bloomberg Philanthropies sebagai penyandang dana terbesar dari upaya pengendalian tembakau di negara berkembang.

Prabowo Subianto dan Anti Rokok

Lalu bagaimana dengan Prabowo Subianto? Jendral pecatan yang punya jejak rekam pelanggar HAM berat dan belum pula diadili ini, memiliki kesamaan prinsip dengan Jokowi terkait rokok. Sama-sama antirokok. Prabowo tidak suka rokok. 

Menurut salah satu Sekretaris Pribadinya, Dhani Wirianata, sedari muda Prabowo dikenal sebagai sosok yang antirokok. Sosok seperti ini tipikal yang layak dijadikan ‘kuda perang’ bagi kepentingan Bloomberg dalam upaya menyingkirkan sektor kretek. Sebagaimana kita ketahui, salah satu hambatan terbesar bagi bisnis nikotin (pemutakhiran rokok) Bloomberg di Indonesia adalah budaya kretek.

Konon, di masa berstatus tentara ketika dibagi jatah rokok seminggu 1 bungkus, teman-teman Prabowo menukar rokok jatah pak Prabowo dengan sebungkus cokelat, karena dari muda pak Prabowo tidak merokok. Prabowo lebih gandrung  terhadap coklat dibandingkan rokok.

Publik sudah paham, banyak hal blunder yang dilakukan Prabowo dalam jejak pencapresannya beberapa kali. Pada tahun politik ini, ia menjadikan isu stunting sebagai salah satu program unggulannya. Sementara, pada kontestasi sebelum-sebelumnya ia tidak begitu menekankan isu tersebut, memainkan peran oposisi dan membelah masyarakat melalui politik identitas.

Di dalam konteks ini, dapat kita tarik relasinya. Sikap politik Prabowo tergantung angin mana yang menguntungkan. Toh akhirnya merapat ke dalam kekuasaan Jokowi yang dulu rivalnya. Pihak modal asing, dalam hal ini Bloomberg, senang betul dengan tipikal yang mudah dipermainkan macam Prabowo.

Fakta menjelaskan, Bloomberg selain getol membiayai kampanye kesehatan di Indonesia; tidak hanya soal rokok. Turut pula memainkan isu stunting, narasi tentang orangtua perokok berkontribusi terhadap angka stunting turut dimasifkan. Itu merupakan bagian dari siasat kampanye kesehatan yang dimainkan Bloomberg untuk menyingkirkan rokok.

Baca Juga:  Jangan Lagi Sebut Rokok Adalah Candu

Ganjar Pranowo dan Rokok

Terakhir, bagaimana dengan Ganjar Pranowo? Berbeda dari Prabowo yang begitu antirokok. Ganjar tidak sedemikian kaku terhadap perokok. Bahkan, menurut sebuah sumber, Ganjar Pranowo pernah memiliki kebiasaan merokok seperti mendiang bapaknya yang dikenal perokok berat.

Namun, pada tahun 1993 beliau memutuskan untuk tidak merokok. Dengan alasan menuruti pesan bapaknya terkait pengabdian terhadap negara. Kendati tidak merokok lagi, Ganjar dikenal sosok yang perhatian terhadap petani tembakau.

Ganjar memiliki sikap moral yang jelas terhadap komoditas starategis tembakau. Capres 03 ini mendorong agar produksi tembakau di wilayah Jawa Tengah (Jateng) dapat diperluas sehingga menjadi pusat produksi di dunia. Setidaknya bisa kita tengarai, orang seperti Ganjar tidak masih memiliki keberpihakan terhadap sektor IHT. 

Berita terakhir, dalam pernyataannya kepada media tentang kenaikan cukai, ia menegaskan untuk tidak menaikkan cukai rokok secara ekstrim. Alasannya jelas, “karena nanti akan bikin rugi petani tembakau. Saya pembela petani tembakau”.

Argumen ini tentu berkebalikan dengan Bloomberg yang mendukung target traktat pengendalian tembakau global (FCTC), salah satunya dengan menaikkan cukai rokok setinggi-tingginya.

Jadi, boleh dibilang, politisi dengan pembawaan yang relatif lentur nan bersahaja ini bukan tipikal ‘mangsa empuk’ untuk dirangkul kepentingan Bloomberg. Ganjar paham betul dilema di sektor rokok ini, bahwa kenaikan cukai rokok memang perlu dikontrol. Agar tidak memunculkan angka rokok ilegal yang meningkat. Itu artinya, berniali kerugian besar bagi pendapatan negara. Ganjar tidak mendelegitimasi industri kretek intinya dalam hal ini.

Sebagai penutup, dari secuil informasi terkait ketiga Capres yang tengah berkontestasi merebut simpati rakyat Indonesia pada Pemilu 2024 ini. Setidaknya kita (sebagai ahlul udud) yang peduli terhadap sumber hajat hidup masyarakat sudah memiliki gambaran. Paling tidak, masih ada calon presiden dapat kita tautkan harapan kita menyoal produk budaya bangsa. Mengingat, sektor IHT ini terbilang komoditas strategis dan padat karya sekaligus kerap berkontribusi besar bagi kas negara.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *