Press ESC to close

Nasib Industri Kretek Indonesia di Tangan Presiden Baru

Industri kretek Indonesia adalah industri prioritas yang memberikan banyak manfaat untuk bangsa dan negara. Selain memberikan pemasukan besar bagi negara, industri ini juga memberi penghidupan bagi puluhan juta masyarakat Indonesia. Tentu saja, keberlanjutan industri kretek menjadi penting untuk diperhatikan. 

Sialnya, sejauh ini, negara selalu bermuka dua jika berhadapan dengan industri kretek. Di satu sisi negara membutuhkan pemasukan besar dari cukai rokok, sementara di sisi lain mereka juga didorong oleh kepentingan global dalam urusan pengendalian tembakau. Hasilnya, uang dari rokok dikeruk, tapi keberlanjutannya tidak pernah menjadi perhatian. 

Karenanya, pemilu di tahun ini sebenarnya menjadi penting untuk industri kretek. Apakah pemerintahan yang akan datang bisa memberikan kepedulian pada para pemangku kepentingan? Atau apakah anggota parlemen nantinya bisa mendorong kebijakan yang berkeadilan pada industru kretek? 

Pemilu dan Industri Kretek Indonesia

Sayangnya, dalam beberapa kali pemilu, suara para petani tembakau dan cengkeh, buruh di pabrik rokok, serta pemangku kepentingan di industri ini tidak sesuai harapan. Misalnya, pada 2014 dan 2019, masyarakat tembakau telah memberikan suaranya pada Presiden Joko Widodo, tapi kebijakan yang dijalankannya justru bertentangan dengan harapan mereka. 

Baca Juga:  Melihat Tata Niaga Tembakau di Temanggung

Jika dilihat, hampir semua kebijakan tentang rokok yang dikeluarkan Presiden Jokowi tidak berkeadilan pada stakeholders. Tarif cukai naik tinggi setiap tahunnya. Regulasi yang sudah ada hendak direvisi agar bisa mematikan industri kretek. Bahkan, jika dihitung, Jokowi telah menaikkan tarif cukai lebih dari 100% semenjak Ia menjadi Presiden. 

Ketika pandemi melanda, semua industri dan sektor ekonomi diberikan insentif. Brengseknya, hanya industri kretek Indonesia yang tidak mendapatkan insentif, dan justru diberikan beban besar sebagai penghasil pemasukan. Tarif cukai di masa pendemi tetap naik, bahkan sangat tinggi.  Tentu berbeda dengan sektor lain yang bahkan diberikan insentif berlebih. 

Melihat semua kenyataan buruk yang diberikan Presiden Jokowi pada pemangku kepentingan kretek, tentu kita sesedikit berharap adanya perubahan pada presiden yang baru. Namanya pemilu, harusnya membawa harapan dan memberi perubahan ke arah yang lebih baik. Sayang, kita hidup di Indonesia, dimana pemilu bahkan tak memberi harapan kepada masyarakatnya. 

Harapan Semu kepada Prabowo-Gibran

Calon presiden yang paling mungkin menang berdasar hasil hitung cepat, Prabowo Subianto, adalah sosok yang selama ini dikenal sebagai orang yang tidak suka rokok. Apakah itu akan mempengaruhi kebijakannya terhadap indusri rokok? Bisa jadi. Meski berhadap ada kebijakan yang adil, tapi rasanya itu terlihat semu. 

Baca Juga:  Gerbong Kereta Khusus Merokok adalah Hak

Apalagi, selama ini Prabowo-Gibran selalu dilekatkan dengan keberadaan Presiden Jokowi. Wajar rasanya jika kita menilai kebijakan Prabowo tidak akan banyak berbeda dengan rezim saat ini. Bahkan, saya pesimis jika kebijakan yang akan keluar nanti bakal berpihak atau setidaknya tidak merugikan stakeholders. 

Semoga saja, siapa pun partai yang menang di parlemen, bisa mengawal kebijakan terkait industri kretek Indonesia dengan baik. Biar bagaimanapun, parlemen adalah pengawas bagi pemerintah. Jangan sampai nanti parlemen hanya jadi macan ompong dengan tawaran koalisi. Jika ada kebijakan yang tak benar dari pemerintah, tentu harus dilawan. 

Aditia Purnomo

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *