Press ESC to close

Rokok adalah Media Paling Ampuh untuk Perekat Sosial

Bagi yang tidak paham rokok, barang ini selalu dicecar habis-habisan. Apa pun masalahnya rokok selalu dikait-kaitkan. Padahal di balik rokok ada berbagai hal yang bisa dipelajari, misalnya dalam masalah merekatkan suatu hubungan, alias rokok bisa menjadi medium sebagai perekat sosial. Bahkan bisa diklaim di abad ini rokok menjadi media paling ampuh merekatkan antar masing-masing individu.

Saya punya pengalaman pribadi bagaimana beberapa tahun lalu rokok menjadi media mendekatkan saya dengan orang asing. Ceritanya saya waktu itu menghadiri agenda maiyahan di Yogyakarta. Saya hadir bersama beberapa kawan. Di sela-sela acara ada salah seorang jamaah maiyah yang saya tidak kenal sebelumnya menawarkan saya rokok. Dia dengan legowo menyodorkan rokok dan korek yang ia bawa. Dari situ kami membangun obrolan satu sama lain yang berawal dari rokok.

Saya tidak bisa membayangkan kalau semisal tidak ada rokok. Sepertinya tidak mungkin dia menawarkan saya uang, atau menawarkan saya bocengan atau hal lain lagi. Jadi rokok masih sangat efektif untuk memulai suatu kedekatan.

Baca Juga:  Tembakau Temanggung Mulai Terdampak Pandemi

Contoh lain lagi, mungkin yang tinggal di wilayah perdesaan dan masih kental dengan tradisi yasinan/tahlilan (mendoakan orang meninggal). Kalau di daerah saya (mungkin daerah kalian juga iya) biasanya ada pelengkap rokok sebagai suguhan. Ini menunjukan bagaimana rokok bisa menjadi medium dan masuk di sela-sela tradisi nusantara untuk merekatkan silaturahmi satu sama lain. Pun sejauh pengamatan saya belum ada posisi barang yang setara dengan rokok dalam urusan itu.

Bahkan soal uang yang notabebe menjadi alat tukar, rokok di beberapa kesempatan bisa mengantikannya. Seperti kasus saat ada hajatan, sebut saja resepsi pernikahan, pihak keluarga biasanya meminta agar sanak saudara dan tetangga sekitar agar membantu dalam urusan itu. Entah sebelum, pas, hingga pasca acara.

Rokok Itu Perekat Sosial

Nah di tempat saya, bagi yang laki-laki biasanya selain dimanusiakan dengan memberikan makanan mereka juga diberi rokok satu bungkus. Dulu hingga sekarang mereka diberi upah Gudang Gadam Surya isi 12 batang. Mereka tidak dibayar sepeser pun dengan uang melainkan dengan rokok.

Baca Juga:  Cukai Rokok Mau Naik Lagi?

Tiga contoh itu sebetulanya sudah menunjukan bagaimana posisi serta eksistensi rokok sebagai medium untuk perekat sosial. Setidaknya di era sekarang. Sebab kalau membicarakan tempo dulu, rokok juga memiliki manfaat dalam ranah sosial-politik. Seperti hubungan Nitisemito, Raja Kretek dari Kudus bersama Nasilah yang didekatkan dengan kretek. Lalu ada dari segi politik ada cerita Agus Salim yang mengunakan rokok kretek sebagai medium diplomasi. Dan masih banyak lagi.

Intinya jangan anggap rokok adalah barang sepele, bahkan menghinakannya. Karena dari dulu hingga saat ini rokok spesifiknya kretek ikut masuk di relung-relung budaya masyarakat Indonesia. Pun sebagai bangsa yang besar sudah semestinya kita memuliakan (baca:melestarikan) kretek yang merupakan bagian dari budaya nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *