Press ESC to close

Benarkah Para Perokok Tidak Percaya Dokter?

Benarkah para perokok sama sekali tidak percaya dengan dokter?

Di hadapan orang pada umumnya, rokok dan kesehatan seakan dua hal yang sulit untuk bersatu. Ibarat air dan minyak. Seolah-olah untuk mencapai taraf hidup sehat, seseorang harus meninggalkan kebiasaan merokok. Bahkan menjauh dari paparan asap rokok. Makanya ada istilah perokok pasif atau perokok kedua, perokok ketiga, bahkan sekarang ada perokok keempat.

Lantas apakah para perokok ini tidak peduli dengan kesehatannya? Atau lebih daripada itu apakah mereka tidak percaya dengan dokter? Kalau saya sendiri sebagai perokok bukannya tidak percaya dengan dokter. Saya juga belum bisa mengatakan bahwa rokok itu sehat atau sebaliknya. Lantaran saya hanya mempertanyakan kenapa setiap penyakit kerap dikaitkan dengan rokok!?

Padahal kalau mau ditelisik lebih jauh lagi, sebenarnya masih banyak faktor lain yang mungkin lebih dominan dalam mempengaruhi lahirnya penyakit daripada rokok, seperti begadang mungkin, tidak pernah olahraga, atau lain sebagainya. Tapi kenapa hanya rokok yang kerap disalahkan? 

Memangnya Ada yang Salah dengan Para Perokok?

Bahkan tidak jarang saat periksa yang ditanya pertama kali adalah pasien merokok atau tidak. Kalaupun tidak dilanjut pertanyaan lain yang pada akhirnya akan dikaitkan dengan merokok. Seperti misal kalau tidak perokok, ditanya apakah di keluarga ada yang merokok, kalau masih tidak ada, ditanya lagi tetangga, teman kerja, dan seterusnya.  Kenapa hanya rokok yang selalu disalahkan!?

Baca Juga:  Kalau Deva Mahenra Merokok, Memangnya Kenapa?

Padahal dari pengalaman pribadi dan juga menanyakan ke banyak orang di sekitar, banyak orang sakit bukan karena rokok. Banyak perokok yang masih sehat. Perokok yang usianya panjang.

Seperti misal di daerah saya itu (mohon maaf) ada beberapa orang yang terkena stroke. Mereka bukan perokok. Lalu, saya juga banyak melihat mbah-mbah yang umurnya panjang, 70an tahun, tapi mereka masih saja melaksanakan aktivitas merokok. Bahkan masih bisa bekerja, dan melakukan aktivitas lain.

Itu semua fakta empiris, ya. Mungkin ada yang akan menyangkal, “Pemahamanmu terlalu sempit. Karena hanya bersumber dari lingkungan sekitar. Sedangkan dunia ini sangat luas. Masa tidak percaya sama medis?.” Iya saya tahu itu. 

Tapi sekali lagi kenapa saya dan banyak orang di sekitar tidak menemukan fakta-fakta yang kerap digaungkan oleh pihak farmasi. Bahkan rokok membuat kanker, penyakit jantung, bahkan sampai kematian. Apakah orang-orang di sekitar saya itu tidak masuk riset yang dilakukan pihak farmasi?

Negara Benci tapi Rindu dengan Rokok

Padahal kalau saya boleh memberikan argumentasi, kalau memang rokok menyebabkan kematian harusnya detik ini juga banyak orang mati. Karena harus diakui jumlah perokok di Indonesia sangat banyak. Atau kalau memang benar rokok menyebabkan kematian, harusnya negara menutup pabrik rokok. 

Baca Juga:  Perokok Keluar Banyak Uang Untuk Beli Rokok, Terus Zakatnya Gimana?

Ya masa negara membiarkan produk yang akan membunuh rakyatnya. Tapi apakah negara berani? Sepertinya tidak. Ya karena negara masih menggantungkan pendapatan pada cukai hasil tembakau. Ups…

Intinya saya hanya mempertanyakan saja, ya. Tapi sepertinya percuma di hadapan orang-orang yang antirokok, orang-orang seperti saya ini dianggap bebal. Dianggap keras kepala. Padahal ya para perokok, termasuk saya bisa kok memikirkan kesehatan. Saya sendiri juga masih sering pergi ke tempat gym, menghindari makanan-makanan yang tidak cocok bagi tubuh saya.

Satu lagi, saya masih bisa mengontrol kapan harus berhenti merokok. Tidak akan saya paksakan ketika tubuh sudah dirasa menolak asap rokok. Karena saya masih mengimani bahwa apapun yang dikonsumsi secara berlebihan pasti tidak bagu. Pun barangkali bukan rokok yang mengganggu kesehatan, melainkan sifat keserakahan. Dan semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *