Press ESC to close

Membantah National Geographic yang Menulis Artikel Rokok dengan Sembarangan

Beberapa waktu lalu, National Geographic menulis artikel yang berjudul “Nasib Pria Perokok Pasif di Indonesia, Bernapas di Kepungan Asap Rokok”. Membaca judulnya saja sudah terkesan menakut-nakuti. Menyeramkan. Terlalu berlebihan.

Padahal asal kita tahu narasi yang mengatakan bahwa perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif sudah dibantah sejak lama. Tapi sayangnya National Geographic justru mengamini mitos kuno yang disematkan kepada rokok itu.

Sebelum masuk ke dalam bantahan isi artikel dari National Geographic, saya akan memaparkan tentang bagaimana perokok pasif itu hanyalah mitos belaka. Mitos untuk menakut-nakuti terkena asap rokok itu jauh lebih berbahaya daripada orang yang merokok.

Perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif hanyalah mitos

Awal mula kampanye tentang bahaya perokok pasif ini ditandai sejak periode 70an hingga 80an di Amerika Serikat. Bahkan Surgeon General Report United States secara berkala membahas isu ini berturut-turut pada pada tahun 1979, 1982, dan 1984.

Kemudian pada tahun 1992, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) merilis hasil penelitian yang menyatakan bahwa menjadi perokok pasif sangat berbahaya bagi kesehatan. Asumsi ini dikaitkan tentang hubungan yang dekat antara perokok pasif dengan kanker paru-paru. Bahkan menurut mereka, ada sekitar 3.000 perokok pasif di Amerika Serikat yang meninggal dunia setiap tahun akibat kanker paru-paru.

Selang waktu sekitar 3 tahun, persisnya pada 1995, Congressional Research Service (CRS) mengeluarkan bantahan terhadap penelitian yang dikeluarkan EPA. Lewat penelitian panjang selama 20 bulan, kritis dan mendalam, riset ini berhasil membantah asumsi dan kesimpulan yang keliru yang dikeluarkan EPA terkait bahaya perokok pasif. Hingga pada 1998, hakim federal memenangkan hasil riset CRS dan membatalkan berlakunya hasil riset EPA.

Sekali lagi itu sudah ada bantahan ilmiahnya. Pun kalau mau pakai logika sederhana tentang perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif juga bisa. Sekarang kan logika yang digunakan itu mengatakan bahwa perokok pasif menghisap tiga perempat asap rokok yang dihasilkan perokok aktif, sedang perokok aktif hanya mengisap seperempatnya saja.

Nah anak SD saja tahu kalau ini kebohongan. Sebab orang yang merokok, sudah pasti mengisap asap selain asap yang sengaja Ia isap dari rokok yang Ia bakar. Jadi perokok aktif secara alamiah juga merupakan perokok pasif. Jadi mana mungkin asap yang dihisap perokok pasif lebih banyak dari perokok aktif. Alias kita semua adalah perokok pasif dong!? Hehehehe.

Bantahan dari tulisan ngawur National Geographic

Terus terang saja ketika membaca artikel yang ada di National Geographic saya cukup geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin media sekaliber National Geographic ngawur dalam menulis artikel soal rokok. Banyak narasi-narasi dangkal, keliru, dan sesat (tentu selain bahaya perokok pasif seperti yang saya maksud di atas).

Baca Juga:  Dampak Kebijakan Cukai Tak Libatkan Stakeholder

1. Data jumlah perokok yang berbanding terbalik dengan data tingkat penyakit kanker

Pertama, mereka mencantumkan referensi dari Data World Bank 2020 yang mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara dengan jumlah perokok laki-laki dewasa tertinggi di dunia. Memang penelitian itu untuk saat ini bisa jadi benar. Tapi kalau untuk persentase jumlah perokok terbanyak dalam suatu negara, Indonesia hanya menempati urutan 13.  

Bagaimana dengan tingkat penyakit yang menjangkit, misalnya kanker, di mana rokok kerap menjadi kambing hitamnya? Nah ada fakta unik bahwa tidak ada Indonesia dalam 10 besar negara pengidap kanker terbanyak di dunia. Justru negara-negara besar yang ada di dalamnya.

Bahkan untuk penyakit jantung sendiri, Jepang yang kabarnya memiliki jumlah perokok yang tidak sedikit justru memiliki tingkat paling terendah dalam urusan penyakit jantung di dunia. Indonesia juga tidak masuk dalam 10 besar.  Kenapa bisa begitu, ya? Hehehehe. Btw saya nggak mengatakan kalau rokok sehat. Saya hanya mempertanyakan hubungan penyakit kanker dan jantung ketika berkaca pada negara lain. 

2. Rokok tak bisa jadi sponsor olahraga

Lalu kedua, bahwa katannya produsen rokok sponsor terbesar dalam kegiatan anak muda. Ini sekilas benar. Tapi kalau dipikir-pikir hal ini masuk penggiringan opini: Memberikan stigma bahwa melalui sponsor lah yang nantinya bisa menjadi iklan, atau pun jumlah perokok termasuk perokok di bawah umur semakin banyak. 

Padahal perihal banyaknya produsen rokok yang katanya sering menjadi sponsor ini, belum ada datanya. Memang ada produsen rokok yang kadang memberikan sponsor tapi tidak semua acara disponsori rokok. Pun ketika mensponsori suatu acara,  bukan rokok yang paling besar.

Bahkan masih banyak kok acara-acara anak muda yang sponsornya bukan rokok. Sebut saja kalau acara musik, jamak ditemukan acara-acara musik yang terbangun secara kolektif, tanpa sponsor rokok. Seperti halnya gigs atau konser skala sedang. Bahkan ada juga acara musik yang skala besar yang sponsornya bukan rokok, seperti halnya Joyland Festival misalnya.

Untuk acara olahraga sendiri juga sudah tidak ada sponsor rokok. Sebelumnya ada Djarum yang mensponsori olahraga. Tapi saat ini sudah tidak ada lagi. Ya tahu sendiri lah ekosistem Industri Hasil Tembakau kian hari dipojokkan terus oleh pemerintah. 

3. Pemerintah malah tak mendukung IHT

Kemudian yang ketiga, National Geographic menuliskan bahwa pemerintah Indonesia selalu mendukung Industri Hasil Tembakau. Ini jelas salah besar. Justru sebaliknya, pemerintah lebih berpihak pada pengendalian tembakau. Bagaimana mungkin mereka berpihak pada IHT sementara cukai rokok setiap tahun dinaikan, pasal-pasal soal tembakau dimasukan ke dalam RPP Kesehata, dan sederet upaya lainnya.

Baca Juga:  Mengapa Bea Cukai Terus Mendukung Industri Hasil Tembakau?

Tidak berhenti disitu saja, melainkan redaksi ngawur juga dimasukan ke dalam artikel itu. Mengatakan bahwa harga rokok masih terlampaui murah. Padahal harga rokok itu sudah terlampau mahal. Sangattt mahal.

Mungkin diantara kalian ada yang akan membantah soal harga rokok di negara lain yang sudah mahal. Seperti di  Sydney harga Marlboro Ice Blast 20 btg $68,99, alias kalau dirupiahkan 700 ribu lebih.  Masyaallah. Sekilas terlihat mahal tapi perlu kita tahu bahwa pendapatan di Australia pada 2016-2017 mencapai Rp500 juta. Sekarang tahun 2024 sudah pasti meningkat.

Nah kalau melihat Indonesia harga rokok Marlboro sekitar 46rb, sedangkan masyarakat Indonesia hanya 62,2 Juta per tahun pada 2021. Menyedihkan. Ketimpangan yang begitu terasa. Sekarang tahun 2024 sudah pasti meningkat. Tapi tetep nggak akan sampai mengalahkan pendapatan warga di Australia, bahkan setengahnya saja belum. Jadi dengan pendapatan segitu otomatis harga rokok masih terbilang mahal. 

Intinya kalau mau membandingkan harga rokok harus dilihat juga pendapatannya. Malahan saya kira lebih mahalan rokok di Indonesia daripada di luar negeri ketika berkaca dari pendapatan masyarakatnya.

Jalan Panjang IHT

“Jalan masih panjang sebelum konsumsi tembakau di Indonesia dapat dikurangi secara drastis. Menetapkan harga rokok minimal ke tingkat yang tinggi serta memberlakukan tarif pajak tertinggi yang sah tampaknya menjadi rekomendasi yang lebih disukai oleh organisasi kesehatan di Indonesia,” pungkas redaksi dalam artikel itu.

Untuk pungkasan redaksi di artikel National Geographic itu, Komunitas Kretek sudah sering mengingatkan, kalau cukai rokok naik terus justru akan menjadi bumerang bagi pemerintah. Karena pendapatan negara akan turun, peredaran rokok ilegal akan terus naik. 

Belum lagi ketika melihat aspek yang terdampak di lini Industri Hasil Tembakau seperti petani, buruh, UMKM, dll, dll. Semua variabel itu apakah sudah dipikirkan nasibnya akan bagaimana!? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *