Press ESC to close

Mendapat Banyak Pemasukan dari Cukai Rokok, Pemerintah Justru Lebih Menyembah Anti Rokok. Munafik!!

Jangan pernah sepelekan rokok, karena dari rokok negara mendapat banyak pemasukan. Diakui atau tidak, negara masih sangat membutuhkan cukai rokok untuk menyuplai pemasukan. Karena hingga detik ini belum ada pendapatan cukai yang lebih tinggi dari rokok. Jangankan lebih tinggi, sebanding saja belum ada.

Dari situ sudah semestinya negara berterimakasih kepada Industri Hasil Tembakau. Merawat ekosistem ini aga terus tumbuh. Tapi bukannya merawat, pemerintah justru ingin mematikan industri ini.

Entahlah mereka ini sebenarnya mau gimana. Di satu sisi  berharap pemasukan banyak dari Industri Hasil Tembakau tapi di sisi lain justru berpihak pada anti rokok. Alias saya ingin mengatakan bahwa pemerintah ini MUNAFIK!!

Munafiknya Pemerintah Terhadap Industri Hasil Tembakau

Kalau berpihak kepada Industri Hasil Tembakau harusnya pemerintah membiarkan industri padat karya ini berkembang. Atau kalau memang mereka benci dengan rokok tidak semestinya mereka turut menerima ratusan triliunan rupiah per tahun dari cukai rokok. Jangan bikin standar ganda lah. Sok-sokan ingin menjadi penengah antara pihak kesehatan dengan Industri Hasil Tembakau, tapi nyatanya kalian justru lebih condong kepada pihak anti rokok.

Saya tidak asal-asalan bilang begitu, karena memang faktanya pemerintah terlalu menyembah anti rokok. Mereka kerap mengiyakan segala hal yang disampaikan anti rokok. Anti rokok yang dimaksud ini sangat banyak, bahkan yang masuk ke dalam kubang pemerintah pun ada, sebut saja Kementerian Kesehatan. Lembaga ini dari dulu hingga saat ini terlalu membenci rokok. Seolah ingin menghancurkannya. Dalih kesehatan tentu menjadi tameng.

Baca Juga:  NU VS Muhammadiyah: Dari Agama ke Kesehatan

Misal dalam RPP Kesehatan ada banyak pasal tembakau yang bermasalah yang turut dimasukan ke dalamnya. Jelas ini ide dari Kementerian Kesehatan, tanpa mempertimbangkan berbagai aspek yang nantinya bisa menjadi dampak negatif.  Sialnya jajaran pemerintah mengamini hal itu. Tidak berusaha untuk menimbang-nimbang atau bila perlu mengajak pihak-pihak yang sekiranya nanti bisa ikut dirugikan.

Itu baru satu contoh saja bagaimana pemerintah terlalu menyembah anti rokok. Masih banyak contoh lagi, misal setiap tahunnya pemerintah selalu menaikan cukai rokok. Rata-rata kenaikannya 10%. Jumlah yang terlalu besar di tengah kondisi ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Efek buruk kenaikan cukai itu jelas banyak, dari hulu hingga hilir ikut terdampak. Misal produksi menurun, para perokok beralih ke rokok-rokok ilegal yang menjadi hama bagi Industri Hasil Tembakau.

Sediakan Fasilitas untuk Perokok

Ada lagi contoh lain, semisal Kawasan Tanpa Rokok ditegakkan. Saya bukannya tidak sepakat dengan adanya Kawasan Tanpa Rokok, namun perlu digaris bawahi bahwa penyediaan Kawasan Tanpa Rokok perlu dibarengi dengan ruang merokok yang layak. Karena hal itu sudah diatur oleh dalam undang-undang. 

Namun sayangnya di beberapa daerah penegakan Kawasan Tanpa Rokok jutsu ironis, tidak menyediakan ruang merokok. Kalau pun menyediakan biasanya kurang/tidak layak. Misal di kawasan Malioboro, Yogyakarta, hanya ada beberapa titik ruang merokok saja. Padahal ruang merokok yang layak itu adalah hak perokok. Toh perokok sudah menanti untuk tidak sembarangan dalam merokok. Tidak ada salahnya untuk perokok menuntut haknya berupa ruang merokok. 

Baca Juga:  Harga Rokok Naik, Sudahkah Pemerintah Memenuhi Hak Perokok?

Kalau tidak disediakan jangan salahkan perokok ketika mereka merokok sembarangan. Bahkan itu bisa jadi boomerang juga bagi pihak setempat. Karena ketika perokok merokok sembarang maka orang-orang yang tidak suka dengan asap rokok akan terganggu. Sebab adanya Kawasan Tanpa Rokok dan ruang Merokok yang layak merupakan jalan tengah bagi perokok dan non perokok. 

Itu hanya sebagian contoh saja bagaimana pemerintah lebih condong kepada anti rokok. Masih banyak contoh-contoh lain bagaimana pemerintah ingin mematikan industri ini. Hanya saja caranya pelan. Disiksa dulu lalu mati kemudian. Mungkin akan seperti itu. Ironi memang. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *