Press ESC to close

Tipu Daya Industri Rokok: Memproduksi Hoaks untuk Mengelabui Masyarakat yang Ditulis Tempo Keliru. Siapa Mereka dan Ini Data yang Sebenarnya

Ada banyak pihak yang memiliki afiliasi dengan anti rokok. Dari mulai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media, hingga kelompok-kelompok kecil. Salah satu yang saya berani sebutkan adalah Tempo. Pengamatan saya Tempo telah lama menjadi media yang anti rokok. Seperti misal pada tempo dulu saat mereka mengeluarkan majalah dengan cover ilustrasi Chairil Anwar, foto beliau diubah dengan yang awalnya memegang rokok kemudian hanya memegang bara api.

Padahal kita tahu bahwa foto itu terbilang iconic. Karena memang antara rokok dengan Chairil Anwar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Rokok selalu menjadi teman bagi maestro penyair kondang itu.

Contoh lainnya lagi bahwa saat Bocor Alus (segmen Youtube Tempo), mereka memberikan panggung kepada Faisal Basri, salah seorang pentolan dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau. Dalam Bocor Alus itu Faisal Basri mengatakan bahwa pemerintah terlalu memihak industri rokok, padahal, di lapangan industri rokok kian ditekan oleh pemerintah.

Saya tidak tahu kenapa Tempo melakukan itu. Mungkin mereka mendapat cipratan dari pihak anti rokok. Mungkin lho ya. Bahkan bukan hanya dua contoh kasus itu saja,  melainkan ketika membuka website Tempo dan mencari artikel yang berkaitan dengan rokok atau tembakau pasti keberpihakannya kepada anti rokok. 

Paling mutakhir ini, Tempo menerbitkan artikel dengan judul Tipu Daya Industri Rokok: Memproduksi Hoaks untuk Mengelabui Masyarakat. Setidaknya dalam artikel itu penulis menampilkan dua sosok yakin Risky Kusuma Hartono, Ph.D dan Tari Menayang. 

Siapa Mereka?

Siapakah dua sosok di atas? Dalam artikel Tempo Risky Kusuma Hartono, Ph.D dilabeli sebagai Peneliti dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia. Sekilas memang benar sosok ini memiliki kapasitas. Tapi ketika dilacak, Risky merupakan orang yang selalu gentol dengan industri rokok. Ia sosok yang kerap usul agar harga rokok terus dimahalkan dengan dalih untuk mengurangi perokok di bawah umur. Padahal kebijakan kenaikan cukai sama sekali tidak efektif untuk mengurangi jumlah perokok anak. Malahan dari situ Industri Hasil Tembakau berada dalam jurang kehancuran. 

Baca Juga:  Rokok Ilegal dan Solusi Pemberantasannya

Bukan hanya itu saja, Risky juga kerap meminta agar pemerintah segera mengesahkan RPP Kesehatan, peraturan yang akan menjadi palu godam bagi Industri Hasil Tembakau. Karena RPP itu sama sekali tidak ada keberpihakan pada ekosistem di dalam Industri Hasil Tembakau. Tidak berpihak pada buruh rokok, UMKM, petani, perokok, dan lain seterusnya.

Sedangkan untuk Tari Menayang, ia merupakan anggota Pengurus Komnas Pengendalian Tembakau. Tentu dari lembaganya saja pandangan terhadap rokok dan tembakau tidak jauh-jauh dari kebencian. Bahkan bisa dibilang lebih parah lagi, karena lembaga ini masuk ke dalam lembaga yang pernah menerima dana dari Bloomberg untuk kampanye anti rokok di Indonesia. 

Mereka turut ambil andil kenapa Industri Hasil Tembakau di Indonesia mengalami keterpurukan. Dari mulai ragam aturan yang menekan, kebijakan cukai yang membahayakan, dan seterusnya. 

Narasi Ngawur Tempo

Ketika saya membaca artikel itu, awalnya saya kira penulis akan menjabarkan tentang tipu daya Industri Hasil Tembakau. Tapi ternyata ketika membaca ternyata isinya adalah pernyataan-pernyataan yang berasal dari kaum anti rokok, orang-orang yang saya sebutkan di atas. 

Seolah dalam artikel itu Industri rokok memproduksi hoaks yang sistematis. Padahal industri rokok jelas yang diproduksi adalah rokok, bukan hoaks. Mereka, korban dari kebijakan pemerintah yang tidak berkeadilan. 

Baca Juga:  Belajar Dari Pengalaman Masa Kecil Sule dan Rokok

Pun kalau memang ada hoaks soal rokok itu berasal dari perorangan yang tidak tahu, Bukan semata-mata niat membuat hoaks. Atau perorangan-perorangan itu sebenarnya muak dengan industri hasil tembakau ditekan terus dan mencoba memberikan pembelaan, tapi oleh anti rokok diklaim sebagai hoaks. 

Misal isi artikel itu mengatakan bahwa ada hoaks yang bilang bahwa industri rokok membayar cukai untuk negara. Kemudian diluruskan bahwa konsumen lah yang membayar cukai. Lha itu memang benar demikian. Konsumen lah yang membayar cukai untuk diberikan kepada negara. Komunitas Kretek juga sering mengatakan bahwa perokok adalah donatur negara. 

Ngawurnya lagi statement Risky dalam artikel itu mengatakan, “yang memiskinkan negara adalah rokok. Setiap 1% kenaikan belanja rokok meningkatkan 6% kemiskinan,” ujar Risky. Hadehh. Kalau memang rokok itu memiskinan negara harusnya pabrik rokok ditutup saja. Ilegalkan segala jenis rokok. Dan ketika 1% kenaikan belanja rokok meningkatkan 6% kemiskinan itu data darimana!? 

Berbicara kemiskinan, rokok bukan faktor terbesarnya. Karena dalam kajian yang lebih dalam ada yang namanya kemiskinan struktural dan kulturan. Banyak di luar sana yang (maaf) tetap miskin walau tidak merokok, begitu sebaliknya. Jadi sekali lagi, rokok itu bukan faktor terbesar dalam segala persoalan. Jangan dijadikan kambing hitam terus dong!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *