cukai rokok naik
Ragam

Keguyuban Dalam Tradisi Tingwe dan Siasat Personal

Rokok tingwe (linting dhewe) di penilaian sebagian orang mungkin masih dicap sebagai rokoknya orang udik, bahkan kerap dialamatkan sebagai rokoknya orang yang sudah sepuh. Namun di era milenia yang serba praktis ini, tidak sedikit juga orang muda memilih untuk bertingwe ria sebagai cara lain mengonsumsi tembakau, selain pula ingin terkesan artsy (baca: nyeni) gitu.

Menghisap rokok lintingan sendiri memang memberi keasyikan yang khas. Pertama, kita bisa membuatnya jadi punya cita rasa kretek ala kita. Cukup dengan mencampurkan tembakau dengan sedikit cengkeh, wur, atau pula klembak.

Di beberapa toko penjual tembakau linting pastinya pula menyediakan unsur bumbu-bumbu untuk mencipta kretek itu. Dan tembakau yang disediakan pun sangatlah beragam. Dari tradisi yang dikenalkan secara turun temurun ini  tidak jarang juga orang muda jadi kenal yang namanya tembakau mole, tembakau shag, tembakau tampang, dst. Secara kategorisasi industri, tembakau-tembakau tersebut masuk ke dalam golongan TIS (Tembakau Iris Sigaret).

Yang menarik saat nongkrong bareng “tingwe lovers”—istilah untuk pecinta rokok tingwe—adalah obrolan seputar citarasa dari hasil racikan masing-masing. Adakalanya yang ingin merasakan racikan khas temannya akan dibuatkan dengan sukarela, bahkan diberitahu unsur tembakau dan bumbu apa saja yang menjadi resep andalannya. Pada kesempatan seperti itu, bagi mereka yang belum begitu akrab dengan tradisi tingwe niscaya akan bertanya pula soal berapa takaran bumbunya, berapa takaran tembakaunya. Bagi penikmat tingwe yang sudah senior, biasanya akan menjawab dengan santai, “soal takaran sih pakai feeling aja, mas, di situ seninya”.

Baca Juga:  Sesungguhnya Antirokok Itu Orang-orang Penakut Dan Kurang Woles

Yup. Pada proses apapun, yang namanya takaran bumbu tidaklah lebih banyak dari takaran bahan baku utamanya. Yaiyalah, namanya juga bumbu, fungsinya kan penyedap. Nilai guyub kedua, dan terbilang lazim pula adalah perkara kertas linting. Misalnya ada yang sedang fakir kertas linting—kertas ini biasa disebut juga papir—teman yang punya stok papir akan berbagi stok papirnya secara sukarela. Bahkan bisa terjadi saling barter stok antar mereka, papir dengan tembakau, ataupula barter bumbu. Hal itu sah-sah saja. Tanpa dipersulit dengan pertimbangan harga yang tidak berimbang kadang.

Keguyuban yang ketiga, ini biasanya terjadi ketika seorang tingwe lovers sedang berada di antara para perokok konvensional. Tidak semua perokok konvensional itu bisa melinting lho, gaes. Kita pun tidak perlu repot mengulas kenapanya. Itu kan soal pilihan dan minat saja, tiada pertentangan soal itu. Dari yang pernah saya alami pada keguyuban yang satu ini ketika ada perokok yang tidak bisa melinting meminta saya mengajarinya. Serasa lagi menggelar lokakarya tingwe dadakan gitu. Ada hal-hal yang menyenangkan dari pengalaman berbagi memang, pada aspek apapun.

Baca Juga:  Dilema Pertarungan Soal Tembakau

Dan hal yang agaknya tengah menggejala juga di kalangan penikmat tingwe kekinian adalah tren spirit DIY (Do It Yourself). Dengan melinting rokok sendiri, rasanya sudah bisa terwakili apa yang dimaknai mereka sebagai sebuah spirit baru itu, meski bagi saya spirit DIY itu sendiri di Nusantara bukanlah hal yang baru-baru amat. Buktinya sejak dulu masyarakat kita mampu memanfaatkan limbah tahu jadi oncom, ataupula jadi tempe gembus. Di sisi lain, alasan yang tak saya pungkiri kenapa masih suka bertingwe ria,  adalah perkara harga rokok yang selalu naik cukainya tiap tahun. Saya rasa para penikmat tingwe yang senasib dan sealasan dengan saya terbilang tidak sedikit jumlahnya. Bagi sebagian perokok, tingwe bisa menjadi solusi. Karena harga per bungkus tembakau mole/shag yang rata-rata 30-50 gr itu sedikit lebih ringan di bawah harga rokok pada umumnya, bisa dibikin lebih dari 20 batang/linting pula. Namun satu kredo mendasar bagi saya, kegiatan melinting rokok sendiri adalah cara lain menyiasati waktu dan jemari agar tetap produktif, bukan berarti produktif main gajet dan khusyuk main mobile legend itu tidak menyenangkan lho ya. Ini hanya perkara pilihan dan minat saja.

 

 

 

Penulis di Komunitas Kretek

You might also like