Belajar dari RB Leipzig Soal Menghargai Hak Merokok Pelatih Napoli

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kemenangan Napoli di kandang RB Leipzig dini hari tadi boleh saja tidak berarti banyak bagi tim tamu. Meski menang 2 gol tanpa balas, Leipzig tetap lolos ke fase 16 besar Liga Europa dengan keunggulan agregat gol tandang. Perjuangan Napoli untuk membalikkan keadaan sirna sudah setelah tidak mampu mencetak gol ketiga.

Tapi hasil pertandingan bukanlah hal utama yang hendak kita bahas. Perkara analisis pertandingan dan sebagainya biarlah Football Tribe yang mengurusi. Karena ini situs Komunitas Kretek, mari kita bahas perkara udud-ududannya saja.

Ada satu hal menarik yang cukup ramai dari pertemuan kedua tim. Tim tamu mengajukan satu permohonan pada tuan rumah: menyediakan ruang merokok buat pelatih Maurizio Sarri. Pelatih Napoli ini memang dikenal sebagai perokok, karenanya Napoli secara resmi membuat permohonan tersebut agar sang pelatih tidak mengganggu pihak lain.

Beruntung, tim tuan rumah menerima permohonan tersebut. Secara khusus dibangun sebuah ruang merokok ‘darurat’ buat Sarri dengan ukuran 3 meter x 3,5 meter. Selain itu, detektor asap di ruang ganti Napoli juga dimatikan. Kedua hal ini sesuai dengan permohonan dari pihak Napoli.

Baca Juga:  Penyakit Akibat Rokok

Dua hal pasti yang patut kita pelajari dari laku RB Leipzig ini ialah bagaimana mereka menghargai permohonan tamu dan bagaimana mereka mau mengakomodir hak Sarii sebagai perokok. Ini bukan hal yang mudah ditemui, apalagi di Indonesia. Mengingat sejauh ini kebanyakan perokok justru terdiskriminasi dengan ketidaktersediaan ruang merokok di ruang publik.

Bersyukurlah Sarri karena ia melatih Napoli dan mereka bertandang ke markas tim Jerman, bukan tim Indonesia. Di banyak negara, hak masyarakat begitu dijamin, termasuk hak merokok. Walau peredaran rokok dibatasi dan aturannya sengit, tapi ruang merokok tersedia di banyak tempat. Ini adalah konsekuensi demi terpenuhinya hak para perokok.

Dan kejadian ini membuktikan bahwa sepakbola, juga olahraga lainnya, tidak perlu alergi terhadap rokok. Biasanya ada banyak kejadian dimana pemain atau pelatih sepakbola yang merokok kemudian dicibir dan dikritik. Padahal ya selama mereka mampu berprestasi harusnya tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan.

Rb Leipzig sebagai sebuah klub juga memainkan peran luar biasa ketika mereka dengan terbuka menghargai permohonan tim tamu, juga demi menghargai hak Sarri untuk merokok. Bahkan, bisa jadi, Leipzig dengan sadar membangun ruang merokok ‘darurat’ tadi agar orang lain tidak terganggu paparan asap rokok Sarri. Bisa jadi loh ya.

Baca Juga:  3 Tokoh yang Minta Kretek Sebelum Wafat

Tapi memang keterbukaan dan penghargaan yang diberikan Leipzig ini patut diapresiasi (juga dicontoh). Bagaimanapun, mereka telah menunjukkan kedewasaan klub dalam menghargai tim lawan dan hak merokok dari anggota tim tersebut. Satu hal yang sebenarnya jarang terjadi di dunia sepakbola. Angkat topi untuk klub ‘baru’ ini.