Kreasi Bungkus Rokok Mini, Siasat Jitu dari Warung Rokok Eceran

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kreativitas seseorang bisa datang dari mana saja, tak terkecuali dengan pedagang rokok eceran. Bagi saya, kreativitas itu menentukan nilai kedirian seseorang. Apapun jenis profesi atau jenis usaha yang dilakoni. Dedikasi sesorang dalam menyikapi persoalannya dapat dilihat dari pilihan kreatifnya.

Itupun berlaku pada itikad baik seorang pedagang rokok yang memanfaatkan kertas slop rokok yang dijadikan bungkus rokok skala eceran. Memang sih ini bukan sesuatu yang baru, sedari saya kecil kreatifitas semacam itu sudah lazim saya lihat. Boleh jadi, bungkus mini yang dikeluarkan sebuah brand rokok ternama juga terinspirasi dari kreatifitas semacam itu.

Sekilas pandang, saya teringat seorang penjual mainan di depan SD saya dulu. Ia memanfaatkan bungkus korek api menjadi sebuah pedati mini yang dikaitkan pada rumah seekor keong laut. Keong laut itu lalu dibiarkan berjalan membawa pedati mini itu ke manasuka, lucunya lagi diperlombakan pula. Pemandangan seperti itu membuat anak-anak sebaya saya dulu sangat senang menyaksikannya, termasuk pula memilikinya. Entah di abad digital ini, apakah mainan semacam itu masih ada, masihkah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak SD?

Baca Juga:  Dirgahayu Nelayan Indonesia: Di Laut Berjaya, Di Daratan Sejahtera

Kembali ke kreativitas pedagang rokok. Ketika pelanggan warung rokok lebih sering membeli rokok ketengan, misalnya hanya setengah bungkus saja. Rata-rata pelanggan tentu ingin membawa rokok dengan bungkusnya. Walhasil dia harus memberikan bungkus rokok berisi enam batang itu berikut bungkusnya kepada si pelanggan. Enam batang lainnya tentu harus disiasati untuk masuk bungkusan lain.

Perlu diketahui juga, jika rokok dibiarkan telanjang tanpa pembungkus maka rasanya akan berubah. Ibarat manusia yang terserang masuk angin, tidak akan enak dibawa jalan-jalan menikmati suatu kemesraan, begitulah kirakira. Nah, bayangkan kalau pembeli skala eceran itu lebih kerap, sementara stok bungkus rokok kosong sangat terbatas. Tak heran jika kemudian kreasi bungkus mini itu muncul.

Pedagang rokok yang kreatif dan memiliki itikad baik untuk menjaga kelangsungan usahanya tentu akan memberi pelayanan lebih terhadap konsumen. Para pedagang yang melakukan hal ini bakal mendapat nilai lebih pula di mata pelanggannya. Sederhana saja, ada kepercayaan tentu ada loyalitas.

Tanpa perlu keahlian khusus, cukup dengan memanfaatkan waktu senggang dan beberapa kardus slop rokok, dan sim salabim sebuah kreasi tercipta. Hanya dengan memotong kardus slop dan dirakit menjadi sebuah bungkus rokok mini untuk para pelanggan yang doyan ketengan. Kreasi bungkus rokok mini tersebut menjadi salah satu siasat yang menarik bagi konsumen. Termasuk saya. Dan kebetulan salah seorang teman mendapatkan hal serupa pada satu kesempatan.

Baca Juga:  4 Tipe Perokok yang Menyebalkan

Pedagang rokok yang kreatif semacam ini sebetulnya sudah menjalankan laku DIY (Do It Yourself). Dibalik pelayanan itu, sebetulnya terjadi sebuah laku untuk mengurangi potensi sampah di sekitar warung si pedagang. Dari situlah mestinya perokok pun mulai berpikir yang sama. Paling tidak jika punya bungkus rokok kosong jangan lantas dibuang juga, kumpulkan saja dulu lalu diantarkan ke warung rokok lagi deh. Kenapa begitu? Iya karena masih banyak pedagang rokok yang butuh bungkus rokok untuk melayani pelanggan yang suka beli rokok eceran tadi.

Jika hal itu bisa terjadi dengan baik, bisa jadi nantinya siklus penggunaan botol bir bisa diterapkan pada perokok. Untuk setiap botol bir kosong memang dapat ‘diuangkan’ jika ditukarkan ke agen. Pada kasus rokok bisa saja terjadi serupa, tetapi bagi kita para perokok santun nan murah hati ini, apalah arti bungkus kosong itu jika harus diuangkan.

Toh kalau itu bermafaat buat kelangsungan usaha orang lain tentu memberi kebahagiaan tersendiri, urusan “pahala” itu sudah ada yang atur, woles. Pula jangan jadi kuatir kalau warung rokok itu nantinya jadi tidak kreatif bikin bungkus rokok mini lagi. Siapa tahu dari situ muncul lagi kreasi sederhana lainnya yang akan kembali ke kita juga: konsumen rokok.

Baca Juga:  Jalan Kaliurang, Km. 5,5 No.1
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah