Ragam

YLKI Tidak Salah, Benyamin Biang Kerok Memang Film yang Tidak Layak Tonton

Dari berbagai macam review, sudah sepantasnya kita menempatkan Benyamin: Biang Kerok versi baru sebagai sebuah film yang buruk. Hampir keseluruhan adegan membuat kita merasa jika menyaksikan film ini adalah sebuah mimpi buruk. Komedi receh yang tidak penting pula tidak menghibur, ditambah ketidakjelasan cerita membuat  film ini benar-benar menjadi sebuah bencana.

Karenanya saya sepakat dengan asumsi Ketua Pengurus Harian (abadi) Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus (yang juga) Abadi, bahwa film ini tidak layak tonton untuk anak-anak. Sayangnya, YLKI juga Abadi (panggil saja begitu) punya satu kesalahan fatal terkait kritik terhadap ini. Agaknya, menurut saya, film yang dibintangi bintang sekelas Reza Rahadian ini tidak layak untuk ditonton semua kalangan juga semua umur. Sama sekali tidak layak.

Sepertinya kesalahan mendasar dari YLKI dan (ketua) Abadi terkait film ini disebabkan oleh ketidaktahuan mereka tentang aturan main penayangan film di bioskop. Mereka menyebut bahwa film ini tidak layak tonton bagi anak-anak karena menampilkan sosok Lidya Kandou dalam adegan merokok. Padahal ya kita sama-sama tahu kalau film Biang Kerok ini dibatasi untuk penonton usia 17 tahun ke atas. Yang artinya, ya tidak boleh anak kecil menonton film ini.

Baca Juga:  Rokok Sukun Bertahan Hingga Sekarang, Ini Rahasianya

Jadi, anggapan bahwa film ini tidak layak tonton karena rokok dan anak-anak harus dibuang jauh-jauh. Toh, kalau memang ada anak yang menonton film ini, saya kira itu murni kesalahan pengelola bioskop. Bukan kesalahan si pembuat film.

Kemudian, terkait iklan rokok dan sebutan sponsor rokok pada film ini, saya kira itu bukanlah sebuah kesalahan. Perlu diingat bahwa film ini dibuat dengan tujuan komersil. Apapun dalih yang dikeluarkan produser, tetap saja target utama dari film ini adalah pendapatan yang besar. Toh iklan rokok di bioskop ditayangkan pada pendahulu film-film yang batas usia penontonnya 17 tahun ke atas.

Tuduhan salah alamat (lagi) terkait konten film yang menampilkan visualisasi porno dan sebagainya, sekali lagi, saya kira tidak menjadi persoalan untuk anak kecil. Ingat, ini film buat orang dewasa. Anak kecil memang dilarang nonton film ini.

Jadi, selain disebabkan ketidakpahaman YLKI juga (ketuanya yang) Abadi itu terkait aturan main pemutaran film membuat tuduhan mereka menjadi salah alamat. Apalagi, ketidakpahaman itu ditambah dengan kebencian terhadap rokok. Makin deh, kritik yang diberikan menjadi tidak tepat sasaran.

Baca Juga:  Belajar Saling Menghargai Seperti Keluarga Desta Mahendra-Natasha Rizky

Meski memang, kita harus berani mengakui jika kritik mereka terhadap film ini tak sepenuhnya salah. Bahwa film ini tidak layak tonton, memang. Karena film ini benar-benar tidak layak tonton untuk semua kalangan. Bukan cuma anak kecil. Adalah sebuah kesialan yang hakiki ketika termakan bujuk rayu iklan dan nama besar Bang Ben, untuk kemudian menyaksikan tontonan tidak bermutu dengan membayar tiket bioskop.

Saya kira YLKI bisa mengambil lahan ini untuk dijadikan media perjuangan. Coba saja YLKI ‘menggarap’ kekesalan dan ketidakpuasan penonton (yang juga konsumen) dari film ini. Kemudian, tuntut saja itu rumah produksinya untuk mengembalikan uang para konsumen dan memaksa bioskop untuk menurunkan film ini dari layarnya. Jangan sampai, YLKI membiarkan kerugian dari para konsumen terus berlanjut.

You might also like