perokok-kretek

Kreteg Bacem, Lagu Didi Kempot yang Membawa Kenangan akan Sebuah Jembatan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Yen liwat kreteg bacem nratap atiku… koyo we ora kuat nangis batinku

Kretek Bacem ini padamulanya saya mengira adalah salah satu varian produk dari rokok kretek. Dan ternyata setelah saya browsing keliru jauh dugaan saya, Kretek Bacem itu tak lain sebuah judul lagu karya Didi Kempot. Iya, banyak kalangan cukuplah mengetahui siapa Didi Kempot, seorang pesohor di jagat musik campur sari. Yang lagu-lagunya berbahasa Jawa dan mudah dipahami umum. Setidaknya bagi saya yang puya modal pemahaman bahasa Jawa yang pas-pasan.

Sebetulnya penyebutan yang tepat untuk judul lagu ini adalah Kreteg Bacem buka Kretek Bacem. Karena pengisahan dalam lagu tersebut berkisah tentang perasaan seorang kekasih yang saban melewati “jembatan” yang dikenal dengan jembatan “Bacem”, dirinya selalu merasa tergetar alias tergugah kenangannya. Dalam bahasa jawa sendiri kreteg diartikan sebagai jembatan, sementara “bacem” sendiri bisa diartikan adalah “merendam”. Yang dalam dunia panganan dikenal juga sebagai teknik membuat rasa tempe maupun tahu menjadi awet dan khas rasanya—cenderung menjadi manis—karena teknik bacem diproses dengan cara merendamkan tempe/tahu ke dalam air gula merah. Bagi masyarakat Jawa Tengah, atau Yogyakarta bagian timur (mataraman) khususnya, baceman ini sudah menjadi panganan sehari-hari.

Kreteg Bacem, jika kita lihat dari sisi sejarahnya merupakan jembatan yang melintang di atas aliran sungai Bengawan Solo. Jembatan yang menyimpan sejarah tragedi pembantaian massal pada tahun 1965. Pembantaian itu terjadi pasca kejadian yang disebut-sebut oleh rezim Orde Baru sebagai peristiwa pemberontakan PKI. Di jembatan Bacem itulah “aksi pembersihan” PKI yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat dilakukan pasca diketahuinya penculikan jendral-jendral.

Bahkan gambaran akan penyusuran jejak kejadian aksi biadab itu sendiri pernah diangkat ke dalam sebuah film dokumenter berjudul Jembatan Bacem. Yang filmnya sendiri sama nasibnya dengan film Jagal maupun Senyap, menuai respon pertentangan dari sejumlah kalangan yang tidak ingin sejarah kelam itu terungkap secara gamblang.

Baca Juga:  Benarkah Merokok Menjadi Penyebab Utama Segala Penyakit?

Secara implisit lagu Kreteg Bacem yang diciptakan Didi Kempot menggugah ingatan kolektif masyarakat—terutama bagi yang melek sejarah—untuk teringat lagi akan peristiwa kelam di balik tragedi yang pernah terjadi pada puluhan tahun silam itu.

Namun melalui kreativitas seniman macam Didi Kempot perasaan rindu dan kenangan itu diungkapkan dengan manis layaknya tempe bacem yang mudah kita temui di mana-mana sekarang, artinya tidak hanya di Jawa Tengah ataupun Jogja, lirik yang mengungkapkan perasaan seorang kekasih ketika mengenang tempat tersebut saat bersama mantan kekasihnya.

Dan yang cukup menguatkan lagi pengisahan itu mengangkat satu kenyataan kelas sosial masyarakat, yakni dari sisi kehidupan seorang buruh pabrik. Buruh pabrik yang kehidupannya serba pas-pasan. Kamar cilik sewulan rongatus sewu, muleh pabrik neng kene sing tak nggo turu. Seperti yang juga kita ketahui korban “aksi pembersihan” di Jembatan Kreteg pada masa itu adalah mereka yang rata-rata berstatus sosial buruh dan tani. Seakan-akan melalui lirik lagunya ini Didi Kempot mengajak kita untuk mengetahui lagi derita seorang buruh yang selain dilanda persoalan asmara, pula memiliki problem nyata dalam kesehariannya yang tak luput dari tekanan hidup.

Baca Juga:  Ramadhan dan Pembuktian Rokok Tidaklah Adiktif

Realitas nelangsa itu diangkat ke dalam lagu oleh Didi Kempot tentu bukan tanpa alasan. Seniman yang kerap menuliskan lagu tentang kisah kasmaran khas kelas bawah. Tercermin dari lagu-lagunya yang seperti Terminal Tirtonadi,  Stasiun Balapan,  Pelabuhan Tanjung Mas, dlsb. Sarat dengan pengungkapan perasaan seorang kekasih yang terjadi di tempat-tempat yang jadi perlintasan masyarakat bawah. Yang rata-rata adalah ruang publik yang memiliki kekuatan epik tersendiri.

Bisa dihitung dengan jari memang, seniman yang punya perhatian seperti Didi Kempot ini, terutama dalam konteks mengabadikan perasaan kasmaran seseorang di terminal, stasiun, dan pelabuhan. Tentu Anda punya jawaban yang tidak aka meleset jika pertanyaan yang saya lontarkan, “kenapa tiada peristiwa kasmaran yang dijadikan lagu oleh Didi Kempot yang setting ceritanya di bandara?”

Kreteg Bacem adalah sebuah lagu yang cukup manis untuk masuk daftar playlist lagu Anda, terlepas dari bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Karena musik adalah sesuatu yang universal, maka sesungguhnya lagu berjudul Kreteg Bacem itu sendiri juga memiliki lapis pemaknaan tertentu yang mengingatkan kita akan nasib rokok kretek, yang juga memiliki rentetan sejarah panjang. Dimana tragedi sejarah kretek pun tak luput memakan korban nyawa. Seperti yang terjadi dalam kisah Roro Mendut dan Pranacitra. Termasuk pula peristiwa kerusuhan Oktober 1918 di Kudus. Dimana banyak pabrik rokok mengalami kesengsaraan akibat kedengkian suatu golongan. Saat itu banyak pabrik rokok yang dirusak, bahkan hancur karena dibakar. Banyak pengusaha pribumi yang dihukum setelah kerusuhan, yang berakibat industri rokok kretek nelangsa.

Baca Juga:  Perempuan-Perempuan di Balik Kretek

Kenelangsaan pada realitas sejarah itu memang tidaklah berelasi dengan nasib aku-lirik pada lagu Kreteg Bacem. Tetapi jika ditinjau dari kacamata universal, bahwasanya kesengsaraan manusia kerap didasari kerinduan akan hidup yang harmonis untuk saling melengkapi, namun kerap kali keinginan itu terbentur oleh satu kondisi yang tidak berpihak. Pada realitas konsumen rokok pun itu terjadi, contoh yang paling dekat adalah harapan untuk mendapatkan hak atas ruang merokok saja selalu terbentur oleh bebalnya pihak-pihak yang tidak taat asas dan tidak konsisten dalam menjalani amanat Undang-undang.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah