Ragam

Pramoedya Ananta Toer dan Tugas Nasionalnya

 “Saya bangga jadi orang Indonesia.”

Pramoedya Ananta Toer tercatat menghabiskan hampir separuh hidupnya di dalam penjara. Sosok sastrawan yang sangat produktif dalam sejarah sastra Indonesia itu meninggal di usia 81 tahun, pada 30 April 2006. Dari tangan produktifnya telah lahir lebih dari 50 karya dan ada 42 karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Berbagai penghargaan internasional telah membuktikan pula kiprahnya sebagai sastrawan di gelanggang sejarah sastra Indonesia. Bahkan sampai di akhir hayatnya, Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu wakil Indonesia yang namanya kerap masuk dalam daftar kandidat penerima nobel sastra.

Bagi Pramoedya Ananta Toer menulis adalah tugas nasional, dan tidaklah berlebihan, jika hal itu senafas dengan para kretekus dalam mengonsumsi rokok Indonesia. Kenapa bisa demikian? Karena dari cukai perokoklah negara ini dapat mengongkosi kerja mesin pembangunan. Meski sebagian masyarakat melihat aktivitas legal ini secara sebelah mata, meski merokok di masa kini dipandang sepele sebagai sebuah perjuangan atas kesetaraan hak.

Iya, Pramoedya Ananta Toer memang seorang perokok. Rokok baginya bukanlah satu-satunya alasan yang membuat Ia produktif. Produktifitasnya didasari semangat memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan harkat kemanusiaan bagi bangsanya. Inilah yang mestinya menjadi semangat kita pula dalam upaya menggugat hal-hal yang masih terwaris dari watak penjajah. Dan perlu dicatat, Pramoedya Ananta Toer bukan mati karena rokok.

Baca Juga:  Ikhtiar Melampaui Waktu

Meski 12 tahun sudah Pramoedya Ananta Toer meninggalkan kita, peta sejarah sastra dan kebudayaan bangsa ini tak lepas dari andil karya-karyanya yang terus menginspirasi, hingga saat ini masih relevan menjadi amunisi dalam kekaryaan kita, terutama dalam menyikapi segala bentuk penindasan yang terus saja dikemas lewat berbagai trik. Simak saja bagaimana siasat kepentingan industri farmasi yang bermain lewat jalur regulasi. Sehingga hari ini untuk perkara ekspresi budaya merokok kita saja direcoki dengan pola yang diskriminatif.

Semangat Pramoedya Ananta Toer terus menyala jika kita membaca kembali karya-karyanya. Meski Ia sempat meyakini bakal mati muda, lantaran momok TBC pada tahun 50-an yang merenggut hidup ayah, ibu, nenek, ipar, dan kemenakannya. Ia mengira dirinya bakal mati di usia 40-an, mengingat ayah dan ibunya mati di usia muda, pada usia 55 dan 34.

Salah satu die hard antirokok sekaligus penyair gaek pernah menyatakan dalam karyanya yang merasa malu menjadi orang Indonesia. Namun bagi Pramoedya Ananta Toer justru sebaliknya. Sosok yang di masa kecilnya pernah berjuang menyambung hidup dari berjualan rokok, sehigga mampu melanjutkan sekolahnya dari usaha itu. Tanpa ragu Ia menyatakan, “saya bangga jadi orang Indonesia,” dan apa yang dinyatakannya jelas berakar dari segenap getir perjuangan yang dialaminya.

Baca Juga:  Seandainya Semua Petani Seperti Komang Armada

“Saya mendapatkan kewarganegaraan saya tidak secara gratis, tetapi dengan perkelahian dan dengan risiko.” Apa yang menjadi argumennya ini terjelaskan lewat kiprah perjuangannya dalam gelanggang kebudayaan, yang berkali-kali harus mengalami nasib tragis, dipenjara, dikeroyok lewat fitnah-fitnah lawan politiknya.

Itu semua terjadi bukan semata karena kiprahnya di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakjat), namun karena garis perjuangannya yang terus berpihak pada kaum tertindas dan kerap mengkritik penguasa. Sedikitnya dari nilai-nilai yang diangkat dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer, kita mendapatkan gambaran jelas bahwa tugas nasional itu bukan sebatas menulis, melainkan pula tentang sikap dalam memperjuangkan harkat kemanusiaan bagi semua bangsa.

Penulis di Komunitas Kretek