merokok

Seputar Alasan Kenapa Merokok Sebelum Bercinta itu Perlu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Umumnya perokok mengakui mendapatkan nikmatnya merokok ketika sehabis makan, ataupula saat khusyuk bertahta di atas kloset. Ada juga yang mengakui perlu adanya rokok saat ingin mengintimkan diri pada ruang-ruang silaturahmi.

Rokok bahkan turut ambil bagian mengisi ritus bercinta. Tentu tak semua perokok memandang hal ini demikian penting. Ada perokok yang mendapatkan nikmatnya merokok ketika selesai bercinta, adapula yang mendapatkan nikmatnya menghisap rokok sebelum akitvitas bercinta dilangsungkan. Iya tentu itu sah-sah saja.

Jika terdahulu pernah ada artikel yang mengangkat seputar kenikmatan merokok setelah bercinta. Tulisan berikut ini lebih menyoal seputar hal-hal yang mengalasani kenapa merokok sebelum bercinta itu dipandang perlu.

Pertama,

merokok sebelum bercinta kerap dialasani oleh keinginan memberi jeda terhadap aktivitas yang dianggap sakral itu. Secara esensinya, bercinta bukanlah sebatas mensilaturahmikan yang fisik ataupun peluh. Jeda itu sendiri menjadi sebuah upaya untuk memberi ruang negosiasi bagi perokok maupun pasangannya. Apa yang dinegosiasikan? Tentu hal-hal yang sugestif dan dimaknai lebih bagi keduanya.

Baca Juga:  ‘Khasiat Rokok' dalam Mistisisme

Kedua,

merokok sebelum bercinta kadang didasari keinginan merumuskan inspirasi, bahkan menjadi upaya menyusun strategi untuk menunjang kesyahduan saat bercinta. Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam hal ini, memang tidak semua bisa disamakan dalam konteks untuk mendapatkan inspirasi. Karena bercinta itu seperti juga di ruang silaturahmi lain kerap mengisyaratkan adanya nilai-nilai dialogis. Ada orang yang terbiasa menikmati minuman khusus terlebih dahulu baru bercinta, adapula yang perlu dibantu oleh jenis musik-musik tertentu.

Ketiga,

tidak jarang merokok sebelum bercinta dipandang perlu lantaran adanya keinginan mencairkan kejumudan. Terutama kejumudan yang terakumulasi dari persoalan sehari-hari. Rokok mencipta ruang ice breaking yang senantiasa bisa diciptakan perokok kapan pun rokok itu dibutuhkan. Yang juga tak terelakkan, merokok sebelum bercinta mampu menjadi sarana untuk mengangkat gairah yang tersembunyi.

Dari ketiga hal itu bagi perokok macam saya, aktivitas merokok sebelum menunaikan ritus bercinta bukan pula menjadi suatu kewajiban yang mutlak. Kadang malah tidak dibutuhkan sama sekali, justru bisa sebaliknya, rokok dibutuhkan setelah bercinta. Yang artinya, tidak semua aktivitas merokok dan kenikmatan yang didapat sebelum maupun selepas bercinta membutuhkan alasan. Tak melulu.

Baca Juga:  Jebakan Rokok Nahdlatul Ulama

Boleh jadi kenikmatan merokok sebelum bercinta hanya bisa didapat pada orang-orang yang paham betul bahwa setiap pencapaian kepuasan haruslah ditunjang oleh bentuk kepuasan lain, bahkan mungkin untuk bisa memaknai kesyaruan serta kesyahduan yang diinginkan.

Rokok, menjadi jembatan penghubung untuk mempertemukan yang nisbi dari suatu hubungan percintaan. Sebagian perokok juga mendapati sesuatu yang bernilai dari aktivitas merokokok maupun bercinta tak sebatas untuk pencapaian kepuasan belaka.

Dari aspek inilah bercinta dimaknai tak melulu ritus bertukar peluh ataupula pelampiasan hasrat. Tetapi juga melengkapi keinginan memanusiakan diri serta memanusiakan pasangan. Karena aktivitas merokok—baik sebelum maupun sesudah bercinta—itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain yang tak membutuhkan rokok dalam dunia percintaannya.

 

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah