Mudik Ke Kabupaten Kudus? Jangan Lewatkan Kemegahan Monumen Ini

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Arus lalu lintas di Indonesia dapat dipastikan akan ramai oleh lalu-lalang kendaraan saat momentum lebaran menjelang. Hal ini merupakan tradisi yang berjalan turun temurun, bahwa sebagian besar masyarakat, khususnya umat muslim, akan mudik untuk melewati momentum lebaran di kampung halaman. Sebagai konsekuensi logis dari tradisi ini adalah peningkatan volume kendaraan yang signifikan pada periode pra dan paska lebaran.

Peningkatan volume kendaraan ini mayoritas terjadi di jalur mudik di pulau Jawa. Sebenarnya tak hanya di pulau Jawa, eforia mudik juga terjadi di pulau lain seperti Sumatera, Sulwesi dan pulau-pulau lain, hanya saja tidak terlalu menghegemoni. Maklum, hanya pulau Jawa yang menyediakan jalur darat mumpuni seperti “Tol Jokowi”. Pulau lain? Ya, gimana yhaaa..

Perjalanan pemudik di pulau Jawa tak hanya diuntungkan dengan pembangunan infrastruktur yang massif, tapi juga keberadaan tempat peristirahatan yang sekaligus jadi tempat wisata. Iya, tempat wisata. Sebagai contoh, pemandangan gagahnya Merbabu dapat dinikmati secara gratis oleh pemudik yang kebetulan lewat di Tol Bawen-Salatiga. Ada juga spot wisata pantai Alam Indah yang siap ‘memanjakan’ pemudik tujuan Tegal, Jawa Tengah. Masih banyak yang lainnya.

Salah satu spot wisata di jalur mudik yang paling menyita perhatian adalah monumen Gerbang Kudus Kota Kretek (GKKK). Gerbang ini merupakan pintu masuk ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dari arah barat yang berbatasan dengan Kabupaten Demak. Konon, monumen ini adalah tugu (landmark) selamat datang terbesar di Asia Tenggara. Nah, lho. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Sebagai informasi untuk kita, monumen ini difasilitasi oleh salah satu pabrikan rokok besar di Indonesia, PT. Djarum. Tinggi bangunan GKKK adalah 12 meter dari permukaan jalan dan lebar 21 meter. Bentuk bangunan didesain menyerupai daun tembakau yang memayungi sisi kiri dan kanan ruas jalan dengan tulang berbahan logam masing-masing 50 di tiap sisi. Kemegahan GKKK jadi magnet wisatawan untuk berkunjung ke Kudus.

Dengan keberadaan monumen ini, Kudus semakin menobatkan dirinya sebagai penghasil kretek terbesar di Indonesia. Betapa tidak, kemegahan monumen, biaya pembangunan yang besar, serta desain futuristik akan dengan mudah melekat di memori tiap orang yang menyaksikannya seraya berkata dalam hati “ini toh daerah penghasil kretek”. Gak percaya? Silahkan berkunjung.

Kretek sendiri merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki catatan panjang perjalanan sejarah. Haji Djamhari, penemu kretek, memang memulai sejarahnya di Kudus. Djamhari melakukan eksperimen dengan merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk kemudian dilinting menjadi rokok kretek. Seiring berjalannya waktu, rokok kretek semakin beredar luas.

Beberapa tahun kemudian, kretek semakin diminati setelah Nitisemito merintis industri kretek yang pertama. Bisnis kretek Nitisemito ini bernama Tjap Bal Tiga. Bisa dibilang kretek Tjap Bal Tiga hasil produksi Nitisemito inilah yang menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia hingga menjadi besar seperti hari ini.

Jadi, buat kalian yang sedang mudik di sekitar Kudus, kalian bisa mampir dulu di GKKK. Selain bisa berswafoto, kalian juga bisa menyaksikan betapa kretek, produk yang disebut sumber penyakit dan kemiskinan tersebut, justru menampakkan manfaat dan keindahan bagi banyak orang, dalam konteks sosial, budaya, juga ekonomi.

Baca Juga:  Review Rokok Djarum Coklat Extra, Cocok di Cuaca Dingin
Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd