Ragam

Tradisi Lebaran di Dua Daerah Penghasil Tembakau

Tradisi yang kerap berlaku di berbagai daerah penghasil tembakau pada waktu perayaan Idul Fitri amatlah beragam. Baik soal bentuk maupun tata caranya. Namun secara esensi memiliki kesamaan itikad dalam melengkapi makna kembali ke fitrah.

Mengingat Idul Fitri selain dimaknai sebagai hari kemenangan, dimana semua anggota keluarga berkhidmat dalam kebersamaan. Pada kesempatan yang fitri itu pula kegiatan silaturahmi–kunjung mengunjungi–untuk saling bermaaf-maafan dengan keluarga, kawan sejawat juga tetangga telah lazim adanya.

Silaturahmi ini tidak hanya dialamatkan kepada yang masih hidup. Di Temanggung misalnya, sebelum masuk waktu Subuh (dini hari) warga desa terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam orang tua dan leluhurnya. Umumnya itu dilakukan sebelum pelaksaan shalat Ied berjamaah yang disusul setelah itu bersalam-salaman dan sungkeman di keluarga.

Tradisi ziarah di kala pagi buta ini tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki dan orang dewasa, tetapi juga kalangan perempuan dan anak-anak. Sebagian warga ada pula yang berangkat ziarahnya sudah cukup pagi sekira jam 6.00 dan itu biasanya dianggap sudah kesiangan. Karena terlalu mepet waktunya dengan pelaksanaan shalat Ied.

Baca Juga:  Simplifikasi Cukai Harus Berorientasi Pada Kepentingan Rakyat

Berbeda dengan umumnya kegiatan ziarah pada kesempatan Idul Fitri di kota besar macam Jakarta. Prossesi ziarah justru dilakukan setelah pelaksanaan shalat Ied dan sungkeman di keluarga. Di Jakarta bahkan tidak sedikit pihak yang mendapatkan keuntungan dari kegiatan ziarah di hari itu. Mulai dari penjual kembang sampai penyedia jasa membersihkan makam serta layanan jasa lainnya.

Selain ziarah atau pula bersilaturahmi di makam leluhur. Di daerah Lombok, setelah perayaan lebaran Idul Fitri yang bertepatan dengan satu Syawal serangkaian dengan itu enam hari setelahnya disusul perayaan lebaran lagi. Yakni Lebaran Ketupat atau yang biasa dikenal juga sebagai Lebaran Topat.

Agama Islam mengajarkan bahwa ada keutamaan bagi orang orang yang melanjutkan puasa seminggu setelah puasa Ramadan yang biasa disebut sebagai puasa Syawal. Untuk mensyukuri berakhirnya puasa sunah tersebut, warga masyarakat di Lombok melangsungkan rangkaian Lebaran Topat ke makam para wali ataupun ulama ke dua tempat bersejarah, yaitu Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq di Tanjung Karang.

Tidak hanya ziarah kubur yang diisi dengan memanjatkan doa-doa, pada kesempatan itu terdapat pula serangkai ritual keagamaan yang masih terjaga kelangsungannya. Ada yang melangsungkan kegiatan mencukur rambut bayi, yang biasanya disebut ngurisan. Hal itu diyakini oleh masyarakat akan menjadikan anak tersebut anak yang saleh dan sukses di masa datang. Ada juga yang berebut mencuci muka dan kepala dengan air di atas makam yang dianggap keramat itu.

Baca Juga:  Punahnya Balai Penelitian Tembakau dan Kementerian Pertanian yang Dianggap Gagal Fokus

Seperti kita ketahui Temanggung dan Lombok adalah dua daerah yang dikenal sebagai daerah penghasil tembakau yang cukup diakui. Dari Temanggung dikenal dengan pasokan tembakau lauknya, sementara dari Lombok dikenal dengan pemasok tembakau sayurnya, selain pula daerah Madura.

Indonesia sebagai negeri yang kaya akan keragaman hayati, juga kergaman varietas tembakaunya. Kekayaan tradisi dan budayanya juga tak kalah beragam, tidak sekadar kaya akan bentuk dan tata caranya. Dalam konteks ini pula adalah kaya akan pemaknaan akan hari kemenangan dan nilai-nilai yang fitri. Yang artinya adalah kembali ke fitrah. Fitrah manusia sebagai makhluk yang terikat dengan kesemestaan serta keagungan penciptanya.

 

 

Penulis di Komunitas Kretek