Dua Hama Cengkeh yang Kerap Mengancam di Munduk

Menjawab Keraguan pada Cengkeh Grafting

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Saya mengenal cengkeh grafting (sambung menyusui) berkat endorsement seorang kawan yang banyak menggeluti metode pengembangbiakan tanaman melalui cara vegetatif. Penjelasan yang saya dapat, cengkeh grafting cocok ditanam di lahan-lahan kritis: berbatu, miskin hara, derajat asam-basa yang ekstrem, atau di lahan yang tanahnya didominasi lapisan sedimen keras.

Perkenalan itu berlangsung sekitar lima tahun lalu. Dua tahun setelahnya saya coba menanamnya. Tidak banyak, sekitar 30-an pohon. Kecepatan tumbuhnya mengejutkan, jauh di atas cengkeh non grafting. Karenanya, kepada beberapa kawan petani yang memiliki lahan kritis atau kurang produktif saya anjurkan menanamnya.

Seperti reaksi saya dulu sewaktu perkenalan pertama, rata-rata mereka tidak begitu antusias. Tidak yakin tepatnya, terutama menyangkut kualitas/kekuatan aroma bunganya nanti. Apakah akan sekuat bunga cengkeh biasa yang selama ini umum dibudidayakan (non grafting)?

Tegakan cengkeh grafting dibangun oleh dua batang bawah: bibit cengkeh (hasil pembiakan biji) dan pohon banji. Bibit cengkeh dan pohon banji ditanam bersamaan. Sejarak kira-kira 15 cm dari permukaan tanah, selaput kambium kedua batang spesies satu familia ini disatukan dengan terlebih dahulu melukai sedikit lapisan kulit luarnya.

Baca Juga:  Persiapan Buleleng Menghadapi Musim Tanam Tahun Ini

Proses penyatuan kambium batang tadi, dalam logika botani sederhana, sangat mungkin mempengaruhi kerja kimiawi enzim keduanya. Tegakan yang nantinya ‘jadi’ tidak lagi murni. Ia tumbuh sebagai mutan. Bukan cengkeh 100%. Hal demikian tentu berdampak pada penurunan kekuatan aroma bunganya. Begitu kira-kira.

Saya ingat sebuah status facebook seorang kawan, judulnya, kalau tidak salah, Belimbing Wuluh. Dalam kosmologi masyarakat Jawa, pohon belimbing wuluh (yang ditanam di halaman, umpamanya) dipercaya sanggup memotret situasi alam emosi seisi rumah, yang selanjutnya terbaca lewat kondisi tumbuh pohon tersebut: subur, rimbun, biasa-biasa saja, meranggas, dst.

Poinnya, bercocok tanam tidak selalu mengenai kaidah-kaidah yang presisi, matematis dan pasti. Ia sering tentang faktor-faktor yang tak terduga, tentang kemampuan mengira-ngira. Sering pula tentang laku menguji kesabaran. Kita, misalnya, butuh menunggu empat-lima tahun sampai sebuah pohon durian kane belajar berbuah cuma untuk memastikan apakah durian itu benar-benar kane atau bukan.

Untuk kasus yang sama, cengkeh grafting pun begitu. Butuh 2-3 tahun untuk menjawab ketidakyakinan-ketidakyakinan sebagaimana saya sampaikan sebelumnya.

Baca Juga:  Hati-Hati! Curankor Terancam Hukuman Pidana 5 Tahun

Awal Juli ini panen perdana cengkeh grafting yang saya tanam tiga tahun lalu. Tak sabar untuk mengamati komposisi fisiknya, terpenting, membandingkan aroma bunganya dengan bunga cengkeh biasa yang selama ini saya kenal. Supaya meyakinkan, saya meminta beberapa kawan yang tergabung dalam ‘divisi pengendus aroma’ untuk mengujinya. Kesaksian mereka rasanya cukup. “Sama, plek sama. Persis aroma cengkeh biasa,” komentar mereka bergantian.

Berarti ini dua-tiga tahun yang tidak sia-sia. Jadi, anjuran menanam cengkeh grafting (terutama, sekali lagi, di lahan-lahan kritis), ada baiknya saya teruskan.