Pendukung Tim Unggulan Jangan Banyak Berfilsafat, Nyebats Saja!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” (Pramoedya Ananta Toer)

Kutipan Pram, sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer, agaknya perlu diresapi oleh para pendukung tim nasional Inggris. Ekspektasi mereka melihat The Three Lions mengangkat trophy harus (kembali) sirnah setelah Inggris dipulangkan oleh Kroasia.

Kekalahan Inggris dari Kroasia adalah episode lanjutan dari drama yang terjadi di Piala Dunia Rusia 2018. Kita lihat bagaimana Argentina-nya Messi harus susah payah lolos dari grup dan akhirnya digilas oleh Prancis di babak 16 besar. Jerman, sang juara bertahan harus gigit jari dan menjadi juru kunci di grup. Spanyol yang diusir oleh tuan rumah Rusia. Portugal-nya Ronaldo juga tak bisa berbuat banyak di hadapan Uruguay. Mengharukan!

Yang paling penting dari semua drama tersebut adalah fakta bahwa tidak sedikit uang yang berpindah tangan antar pendukung. Maksudnya, transaksi pembayaran usai kalah taruhan juga cukup menyita emosi, khususnya bagi mereka yang kalah. Habis mau gimana lagi? Piala Dunia, kan, cuma 4 tahun sekali, sayang kalau dilewatkan tanpa seru-seruan.

Baca Juga:  Ideologi di Balik Rokokku

Berdasarkan fakta di lapangan, orang yang kalah taruhan bisa mendadak jadi bijaksana. Kutipan-kutipan tokoh, kalimat-kalimat motivasi mendadak lancar mengalir dari mulutnya.

“Itulah kehidupan, kadang di atas, kadang di bawah,” kata pendukung Jerman.

“Hidup tak melulu soal menang dan kalah. Terkadang pembelajaran yang kita dapat dari sebuah kekalahan adalah sebuah kemenangan tersendiri,” kata pendukung Argentina.

Saya sendiri pendukung tim nasional Inggris. Jujur, kalah di Semifinal dari tim kuda hitam seperti Kroasia melalui babak perpanjangan waktu, bukanlah hal yang mudah diterima. Mimpi saya melihat Harry Kane angkat trophy harus sirnah. Belum lagi kewajiban saya ‘menafkahi’ para pendukung Kroasia. Ah, aku hancur!

Dalam keadaan seperti ini, hanya rokok yang mengerti. Saya keluar di keheningan malam. Duduk di beranda. Membakar sebatang rokok. Menatap langit yang kini dihiasi kepulan asap. Lumayan. Kekecewaan saya cukup terobati. Benar kata Om Tony Q Rastafara, rokok teman yang paling setia. Percayalah.

Siapa sangka, rokok, yang mereka (anti rokok) sebut sebagai sumber dari segala penyakit, ternyata mampu menjadi obat pelipur lara bagi mereka yang kalah, bagi mereka yang kecewa, mereka yang bersedih dan hancur seperti saya. Di Sumatera Utara, Pak Djarot merokok untuk mengobati kekecewaannya usai kalah (lagi) di Pilkada. Belio sekarang baik-baik saja.

Baca Juga:  Mengenal Ragam Bahan Baku Kretek

Dulu, saya pernah lebih hancur dari ini. Diputusin oleh pacar yang beda agama usai menjalin kasih 4 tahun itu cukup menyakitkan. Apalagi, setelah putus saya tahu kalau ternyata mantan saya itu kembali pacaran dengan laki-laki yang beda agama juga. Amsyooong.. kuingin marah melampiaskan. Apa yang akhirnya mengobati saya? Iya, rokok.

Jadi, pesan saya buat kalian semua yang sudah banyak bongkar tabungan di Piala Dunia, percayalah, hidup sungguh sederhana, tak usah kau cari hakikat dunia hanya karena kalah taruhan. Sebats aja dulu. Untuk pendukung Kroasia, siapkan rokok yang banyak. Kalian akan melihat Prancis jadi kampiun. Saya yakin, kalah di final setelah harapan membumbung tinggi akan sangat terasa perih. Kalau nanti itu terjadi, jangan berfilsafat, nyebats aja!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd