Andai Susi Pudjiastuti Jadi Presiden

Andai Susi Pudjiastuti Jadi Calon Presiden

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Merokok di kalangan para politisi kerap dicap sebagai kebiasaan buruk dalam dunia perpolitikan. Dengan situasi politik yang penuh dengan pencitraan, rokok seringkali dijadikan obyek serangan untuk menjatuhkan lawan politik yang gemar merokok. Begitulah cara pandang sebagian masyarakat kita, rokok dikonotasikan buruk. Politisi yang merokok pun berlomba-lomba mencitrakan diri bebas rokok di hadapan publik.

Jujur, sebagai perokok, saya punya mimpi suatu hari nanti bisa merasakan dipimpin oleh seorang Presiden perokok. Ini aspirasi. Tolong hargai. Ya, dalam iklim demokrasi rasanya sah-sah saja jika pandangan ini lahir. Lagipula, seorang perokok dan purnawirawan tentara punya kedudukan yang sama di mata hukum. Kalau purnawirawan bisa diterima, kenapa perokok tidak? Begitu kira-kira.

Bukan maksud hati mengesampingkan para Capres yang tidak merokok, hanya saja saya merasa perokok juga harusnya berhak menjadi pemimpin. Di Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Jokowi hari ini juga terdapat beberapa menteri yang merokok. Susi Pudjiastuti adalah salah satunya. Selain Bu Susi, ada nama Darmin Nasution, Hanif Dhakiri dan Imam Nachrawi yang merupakan perokok di barisan Kabinet Kerja. Semuanya punya jalan cerita masing-masing soal kegemarannya merokok.

Baca Juga:  Harga Rokok Naik, Perokok Tak Perlu Khawatir

Sialnya, hanya karena kedapatan tengah mengisap rokok, para menteri seringkali mendapat cibiran negatif dari sebagian masyarakat, baik di dunia nyata maupun maya. Bahkan, tudingan-tudingan yang dialamatkan kepada menteri terkadang ad hominem dan kelewat batas. Berbagai tudingan buruk seperti mempertanyakan produktivitas kerjanya, latar belakang pendidikannya dan kegiatan sehari-harinya selalu jadi bahan ejek dari nitijen lantaran seorang menteri menghisap rokok.

Beberapa waktu lalu kita bisa menyaksikan ketika foto viral Bu Susi Pudjiastuti yang sedang asyik ngudud di laut seketika disindir oleh beberapa nitijen di media sosial. Tanpa pikir panjang, banyak jempol pengguna sosial media melesat dengan kecepatan 2,04 Mach, setara dengan kecepatan mesin jet afterburner Pesawat Concorde. Jempol-jempol tersebut seolah tak mau ketinggalan untuk turut serta mengomentari atau bahkan menyebarkan foto lengkap dengan caption bernada nyinyir.

Kasihan Bu Susi, hanya karena mengonsumsi barang legal, citra baik kerjanya seolah dilupakan. Maha benar nitijen Indo.

Andai saja nama Bu Susi Pudjiastuti atau perokok lain masuk dalam bursa Capres atau Cawapres, saya bersedia menjadi koordinator tim suksesnya. Ini bentuk antusiasme saya ketika perokok mulai diperhitungkan. Sayangnya, aspirasi wong cilik macam saya bukan tawaran menarik dibanding logistik politik dan narasi citra ‘positif’. Di situ kadang saya merasa sedih.

Baca Juga:  Juergen Klopp dan Kisah Rahasia tentang Rokok

Sebenarnya, Susi Pudjiastuti adalah nama perokok yang sempat muncul sebagai kandidat. Tapi, kampanye busuk anti-rokok berulang kali menghancurkan nalar publik. Jangankan untuk dijadikan Capres/Cawapres, jadi menteri saja beliau sudah kalang kabut dicecar nitijen.

Tapi, selemah-lemahnya iman adalah pernyataan sikap. Melalui ini, saya mengaskan untuk tetap mendukung perokok yang berpotensi menjadi pemimpin. Kalau tidak bisa di 2019, yaa, masih ada 2024. Kalau masih belum bisa, ya dicoba lagi tahun 2029. Masih gagal? coba lagi 2034, kalau Indonesia gak jadi bubar tahun 2030.

Hmm…

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd