Ketika Mahfud MD Ditakut-takuti agar Berhenti Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai tokoh yang akrab dengan Nahdatul Ulama, Mahfud MD diketahui pernah menjadi perokok. Apalagi Ia adalah orang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, semakin lekat dengan rokok. Pada satu waktu, Ia pernah menceritakan kisah dirinya ketika mendapat hadiah rokok setelah mengkhatamkan Al Quran ketika berada di pesantren dulu.

Tapi ya itu hanya kisah lalu. Kini Mahfud sudah tak lagi merokok. Alasannya, berdasar pengakuan, Ia tak lagi merokok karena pengalamannya ‘ditakut-takuti’ ketika hendak berangkat ke luar negeri. Karena kemudian terbiasa tidak merokok, akhirnya Ia pun berhenti total.

Kala itu, pada tahun 1990, Mahfud berkesempatan datang ke Amerika Serikat. Sebelum perjalanan itu dimulai, Ia ‘ditakut-takuti’ oleh Prof. Afan Gaffar tentang pengucilan yang diberikan pada perokok di Amerika. Mendengar hal itu, lantas Mahfud memutuskan tidak merokok selama berada di sana. Sebagai orang pro demokrasi ketika itu, Ia menghindari didiskriminasi.

Melihat kejadian seperti ini kemudian membuat saya sadar, agaknya memang begitu pola orang-orang yang tidak suka rokok untuk memaksa orang agar berhenti merokok. Entah itu ditakuti dengan alasan kesehatan, atau seperti yang dialami Mahfud MD, ditakuti ancaman pengucilan. Satu hal yang kemudian menjadi amat lekat dengan kelompok antirokok.

Baca Juga:  Membantah Logika-Logika Rokok Memiskinkan

Selama ini pola ancaman dan sok menakiti memang menjadi andalan antirokok. Utamanya, orang yang merokok ditakuti soal kesehatan agar berhenti. Mulai dari jantung, kanker, struk, hingga diabetes kemudian menjadi andalan mereka untuk menakuti perokok. Padahal ya, orang yang tidak merokok juga rentan risiko terkena penyakit tadi.

Bagi sebagian perokok, ancaman dan upaya menakuti dengan landasan penyakit tidak menjadi satu hal yang mempan kepada mereka. Buat mereka, rokok memang mengandung faktor risiko penyakit, tetapi tidak mutlak menjadikannya faktor utama. Malah bagi sebagiannya lagi, slogan “merokok mati, tidak merokok mati, mending merokok sampai mati” menjadi tameng kokoh untuk mengikis serangan dari antirokok.

Biasanya, kalau pada urusan kesehatan tidak lagi mempan, antirokok bakal menggunakan serangan berikutnya, yakni ancaman diskriminatif. Dan hal ini juga yang dilakukan pada Mahfud MD.

Upaya semacam ini biasanya dilakukan melalui ancaman seperti tidak dilayani secara administratif oleh pemerintah, tidak bisa dapat beassiwa, hingga kemudian ancaman dikucilkan. Sebagai mahluk sosial, tentu saja ancaman pengucilan merupakan satu hal yang menakutkan. Apalgi ketika harus berada di negeri orang.

Baca Juga:  Omnivora Perokok Berkisah

Dan upaya-upaya semacam tadi boleh dibilang, bukan hanya membuat orang ngeri, tapi juga menunjukkan buruknya sikap antirokok. Sebagai warga negara yang haknya sama dijamin, mereka lebih memilih untuk menakuti perokok ketimbang menghargainya. Mereka lebih suka membuat ribut ketimbang hidup harmoni.

Ada baiknya jika kelompok antirokok lebih fokus pada memberi edukasi bagi perokok agar tidak merokok secara sembarangan. Kalau mau merokok ya sadar tempat, sadar tanggung jawab. Merokok di area yang memang dibolehkan. Kalau kemudian itu yang dilakukan, niscaya tak bakal ada lagi persoalan diantara orang yang merokok maupun yang tidak merokok.

Wahyu Heri

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.