Cerutu Rizona di Temanggung dan Kualitas Tembakau Indonesia yang Mendunia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Olahan tembakau di Indonesia selalu menjadi primadona bagi para penikmat produk olahan tembakau dalam negeri maupun dunia. Setelah penemuan mutakhir kebudayaan khas Indonesia yang bernama Kretek, kini olahan tembakau di Indonesia dapat dinikmati dalam produk cerutu khas Indonesia.

Cerutu sendiri berbeda dengan sigaret atau rokok. Perbedaannya, di dalam olahan kretek, tembakaunya terdapat campuran saos dan cengkeh. Sedangkan cerutu memadukan racikan antar tembakau, tidak terdapat zat-zat yang ditambahkan, dan semua kandungannya alami, sehingga memiliki kadar nikotin dan tar yang rendah.

Tak perlu jauh-jauh ke Kuba untuk dapan menikmati cerutu. Di Indonesia sendiri ada banyak produsen cerutu dengan kualitas rasa yang tak kalah sedap. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kita bisa menemukan cerutu yang konon adalah cerutu terbaik kedua di dunia setelah cerutu Kuba. Para penikmat cerutu dunia mengakui kualitas cerutu khas Indonesia ini.

Selain di Jember, pabrik cerutu berkualitas asal Indonesia juga ada di Jalan Diponegoro 27, Temanggung. Pabrik produsen cerutu dengan nama dagang Rizona ini sudah berdiri sejak 1910. Usia yang cukup panjang bagi sebuah pabrik cerutu. Pabrik ini didirikan oleh Hoo Tjong An setelah belajar dari pembuat cerutu asal Filipina.

Baca Juga:  Tukang Bentor Menyoal Mati

Kita sama-sama tahu bahwa Temanggung merupakan daerah penghasil tembakau terbaik di Indonesia. Namun, tembakau yang digunakan oleh cerutu Rizona mayoritas bukanlah tembakau asli Temanggung. Tekstur tembakau Temanggung yang terlalu tebal dengan tulang daun yang kekar akan membuat cerutu mudah patah dan sobek ketika digulung.

Cerutu Rizona menggunakan bahan baku tembakau dari Jember, Jawa Timur. Kualitas tembakau Jember juga papan atas. Tembakau unggulannya yang bernama Besuki Na Oogst (BNO), memang sangat cocok dipakai sebagai pembalut (dekblad), pengikat atau pembungkus (binder), bahkan pengisi cerutu (filler). Pemanfaatannya sebagai bahan baku cerutu, membuat tembakau Jember diekspor ke Bremen, Jerman dan beberapa Negara Eropa lainnya.

Kembali ke cerutu Rizona. Cerutu ini sempat mengalami masa jaya. Hasil produksi mereka memiliki pasar setia di negara barat. Hingga tahun 1940, pabrik cerutu Rizona dilanjutkan oleh anak Hoo Tjong An, yaitu Sunardi Hartono. Dan 50 tahun kemudian Mulyadi Hartono, anak dari Sunardi Hartono, melanjutkan kendali pabrik cerutu Rizona.

Seiring berjalannya waktu dan zaman berkembang, cerutu mulai kalah saing. Masyarakat desa pada umumnya lebih menyukai kretek dan klembak menyan, hingga produksi cerutu pun perlahan menurun. Produksi cerutu saat ini pun kurang menguntungkan, termasuk cerutu Rizona. Hal ini dikarenakan jumlah konsumen yang sedikit.

Baca Juga:  Menanti Ledakan Bom Waktu PMK 222 Tahun 2017 Tentang DBHCHT

Sama halnya dengan kretek, cerutu juga memiliki nilai kontribusi yang besar bagi Indonesia. Kalau Negara Kuba menjadikan cerutu sebagai pilar pendapatan Negara, maka cerutu di Indonesia pun pernah menorehkan kontribusi serupa. Cerutu, sebagai bagian dari Industri Hasil Tembakau, adalah kontributor tertinggi bagi pendapatan negara dari sektor cukai. Selain itu, cerutu berukuran kecil (cigarillos) asal Indonesia, hingga kini masih diekspor ke berbagai negara Eropa.

Nah, jika bayangan anda tentang cerutu masih tergambar sebagai konsumsi para mafia di film Hollywood, maka kini anda boleh mulai mencobanya. Tak perlu jauh-jauh ke Kuba, cerutu Indonesia juga disukai oleh para artis Hollywood.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *