Fatwa Spesisifik Menyoal Rokok Elektrik, Perlukah?

Kandungan Viagra Pada Cairan Vape Ancam Kesehatan Konsumen

  • 24
  •  
  •  
  •  
  •  
    24
    Shares

Selama ini para konsumen produk alternatif tembakau berupa vape kerap menyombongkan dirinya di hadapan kretekus. Pasalnya, berdasar bisikan entah dari mana, mereka menganggap bahwa produk yang mereka konsumsi itu lebih sehat dari kretek. Jadilah, mereka mengagitasi para perokok untuk beralih ke vape dengan alasan itu.

Katanya sih, anggapan tersebut muncul setelah mereka membaca riset tertentu. Katanya juga, vape lebih sehat karena tidak menghasilkan TAR akibat proses pembakaran. Vape itu menghasilkan uap, bukan asap. Begitu sih yang biasanya melulu diucapkan vapers.

Namun tahukah mereka, berdasar hasil riset juga, Food and Drug Administration (Badan Pengawas Obat dan Makanan-nya Amerika Serikat) menemukan fakta bahwa pada cairan (liquid) vape terkandung obat impotensi. FDA menemukan keberadaan tadalafil dan sildenafil yang merupakan obat disfungsi ereksi yang dikenal juga dengan viagra, bahan utama yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan ereksi pria.

Temuan tersebut didapat dari hasil analisis dalam liquid dengan merek E-Cialis HelloCig dan E-Rimonabant. Kedua produk ini dijual ke seluruh dunia oleh HelloCig Electronic Technology Co. Ltd yang berbasis di Shanghai, China. Melihat hal ini, bukan tidak mungkin liquid dengan kedua merek itu juga dikonsumsi oleh para vapers di Indonesia.

Baca Juga:  Menjaga Kelangsungan Tanah dan Dapur Diluar Musim Tembakau

Keberadaan kedua jenis obat itu dalam liquid sendiri merupakan tindakan illegal dari HelloCig Electronic Technology. Selain karena tidak mencantumkan peringatan kesehatan, obat ini dapat bereaksi bagi setiap orang terutama yang memiliki disfungsi ereksi, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, dan penyakit jantung. Sederhananya, membahayakan kesehatan.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, tentu saja, tidak semua liquid vape mengandung obat tersebut. Walau memang juga perlu kita pahami bagaimana liquid yang menjadi ‘bahan bakar’ vape di Indonesia belum banyak diawasi oleh pihak kesehatan. Malah, ada liquid yang dimodifikasi sendiri tanpa ada otorisasi dari pihak berwenang. Sebagai produk konsumsi yang juga berpotensi mengganggu orang lain, tentu liquid harusnya diawasi dengan ketat.

Mungkin boleh saja para vapers berceloteh bahwa produk konsumsi mereka lebih sehat. Padahal ya, produk yang mereka konsumsi itu belum benar-benar diverifikasi secara medis dan pengawasannya masih terlalu longgar. Hal ini jelas berbahaya bagi para konsumennya.

Semoga ke depannya, para konsumen vape lebih dulu awas terhadap barang yang mereka konsumsi ketimbang kebanyakan sesumbar soal kretek. Toh, kalau mau ngotot-ngototan, para kretekus tahu kalau produk budaya ini awalnya diciptakan untuk meredakan sesak nafas Haji Djamhari. Kalau mau lebih ngotot, ya kita juga tahu bahwa kretek mengandung cengkeh yang bermanfaat bagi kesehatan. Masih ada banyak hal sih yang bisa diperdebatkan, tapi kan ya nggak penting juga.

Baca Juga:  Rokok Lokal jadi Oleh-Oleh dari Perayaan Lebaran di Kampung Halaman

Hal yang lebih penting untuk dilakukan sebenarnya adalah memberi pengertian bagi setiap konsumen, baik vape maupun kretek, kalau produk konsumsinya memiliki risiko untuk mengganggu kenyamanan orang lain. Ya mau asap atau uap, selama ngebul tentu dianggap menganggu orang lain. Selain itu, kedua produk ini juga memiliki faktor risiko terhadap penyakit tertentu, sama seperti produk konsumsi lainnya. Karenanya daripada kebanyakan kelahi, lebih baik kita sama-sama bergandeng tangan untuk meyakinkan masyarakat lain kalau konsumen kretek dan vape itu bisa menghargai hak mereka.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit