Review Buku Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat

  • 42
  •  
  •  
  •  
  •  
    42
    Shares

Buku Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat sebetulnya dapat membuka ruang-ruang diskusi terkait tembakau dengan sikap toleransi dan kritis sebagai fondasinya. Hasil riset bertahun dari Wanda Hamilton ini membuka cakrawala pengetahuan dan alternatif pandangan pada kita agar jangan sampai terjerumus pada perang yang sebetulnya bukan milik kita.

Nicotine War karya Wanda Hamilton ini saya dapatkan dari Komunitas Kretek. Buku langka dan barangkali lebih langka lagi yang membacanya pada masa-masa sekarang. Pada masa perang nikotin makin merebak dan penikmat nikotin alami dipandang melakukan dosa.

Judul             : Nicotine War, Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat

Penulis          : Wanda Hamilton

Penerbit        : INSISTPress dan Spasimedia

Tebal             : 137 Halaman

ISBN              : 978-602-8384-35-3

Blurb              :

“Ketika para penggiat anti tembakau masih sibuk mengkampanyekan bahaya-bahaya tembakau dan ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan yang ketat atas tembakau, korporasi-korporasi internasional yang mendapat keuntungan bisnis dari agenda ini sibuk menghitung peluang-peluang meraup keuntungan dari bisnis nikotin ini.

Nicotine War adalah hasil riset dan kajian Wanda Hamilton yang menyajikan fakta-fakta (bukan fiksi atau prediksi) bahwa di balik agenda global pengontrolan atas tembakau terdapat kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal sebagai Nicotine Replacement Therapy (NRT). Sangat kuat kesan dan indikasi bahwa kepentingan kesehatan publik (public health) melalui kampanye bahaya tembakau hanyalah bungkusan (packaging) dari motif kepentingan bisnis perdagangan produk-produk NRT ini.”

-Gabriel Mahal, SH, Advokat & Pengamat Prakarsa Bebas Tembakau-

“Kampanye international tentang hidup sehat dan anti rokok, mengapa tak dipandang lebih mendesak kampanye nikmatnya kaya dan Amerika Serikat jadi contoh agar kita diberi kesempatan kaya? Jangan dirampok hutan kita, jangan dirampok tambang kita agar kita tidak miskin. Belum ada program yang lebih absurd daripada pemerkosaan agama agar tokoh-tokohnya mengharamkan rokok tapi tak mengharamkan strategi dagang tetap VOC minded. Penjajahan macam ini dari dulu lebih haram dibandingkan dengan rokok.

Baca Juga:  Donor Paru-paru Perokok Bantu Pasien Kritis

Rokok sudah menjadi bagian hidup bangsa kita sejak Indonesia belum modern. Bagian hidup, bukan sekadar gaya hidup. Rokok menjadi semacam tali peneguh silahturami dan solidaritas sosial sehingga dengan begitu rokok menjadi bagian penting dalam ritus kolektif budaya masyarakat kita. Mengharamkan rokok, karenanya, sungguh sebuah keputusan absurd yang dasar-dasar komunalitasnya rapuh dan dalam praktiknya hanya akan menjadi kemustahilan belaka.”

-Mohamad Sobary, budayawan-

Dikutip dari halaman terakhir buku, Wanda Hamilton adalah seorang penulis dan pensiunan akademisi. Dia telah meraih gelar M.A dan telah tuntas menyelesaikan tiga studi tingkat doktoral di Bowling Green State University, Ohio. Hamilton bekerja sebagai jurnalis, spesialis perpustakaan, dan administrator “a group home for adolescent girls“.

Buku ini merupakan kumpulan fakta-fakta ilmiah dari riset Wanda Hamilton tentang perang nikotin, latar belakang perang tersebut, siapa saja pelakunya, dan motifnya. Rentang waktu buku ini sampai tahun 2000-an awal barangkali karena Wanda keburu tutup usia. Berikut saya kutip latar belakang perang nikotin dan secara garis besar pihak mana saja yang terlibat:

Perang nikotin sebetulnya adalah perang antara “zat nikotin alami dalam tembakau dan rokok” versus “senyawa mirip nikotin dan sarana pengantar nikotin”. Sepintas kronologi dari perang ini dimulai pada 1962 ketika para ilmuwan Pharmacia mulai mencoba mengembangkan nikotin alternatif, yang dilatarbelakangi oleh laporan pertama Surgeon General tentang dampak merokok bagi kesehatan. Sejak saat itu mulailah ada pemikiran bagaimana merebut pangsa pasar rokok yang merupakan bisnis yang menjanjikan keuntungan luar biasa besar.

-Hal Viii-

Sejak tahun 1969-an, beberapa perusahaan farmasi melakukan riset, membangun opini anti rokok dengan berbagai bentuk kampanye, sampai konferensi-konferensi internasional. Kemudian ditingkatkan dengan membuat berbagai aturan tentang pembatasan dan pelarangan rokok, pengendalian tembakau di suatu negara. Sejalan dengan kampanye, dikembangkan produk kesehatan alternatif dari rokok berupa senyawa pengantar nikotin seperti permen, pil, koyok, inhaler, dll. Dari sini saja mulai nampak sebagai tujuan dari perang nikotin yaitu menawarkan produk baru dari industri farmasi.

Baca Juga:   3 langkah Menjadi Perokok Etis Yang Rahmatan Lil Alamin

-Hal viii-

Dapat disimpulkan bahwa perang nikotin merupakan perang antara perusahaan farmasi dan perusahaan yang bergerak dalam industri tembakau. Keduanya memiliki kepentingan sama besarnya di dalam sebuah medan untuk memperebutkan pangsa pasar pengguna nikotin. Bedanya ada di alat perangnya. Farmasi menawarkan Nicotine Replacement Therapy (NRT) sedangkan perusahaan tembakau menawarkan rokok yang mengandung nikotin alami.

Wanda Hamilton memaparkan mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang cenderung berpihak pada farmasi. Hal tersebut tidaklah mengherankan sebab petinggi pemerintah sebagian didominasi oleh orang-orang dari farmasi, dan jikapun tidak, dana dari pihak farmasi mengucur deras demi kelangsungan kebijakan yang pada akhirnya meniadakan kehadiran nikotin pada rokok ataupun tembakau.

Perilaku keberpihakan ini tercermin dari penyumbatan informasi mengenai manfaat nikotin tembakau bagi kesehatan dan tubuh manusia. Di beberapa negara, buku-buku yang berkaitan dengan kebermanfaatan nikotin maupun tembakau diberangus. Ada baiknya saya menyebutkan beberapa manfaat tembakau dan nikotin alami yaitu meningkatkan konsentrasi dan kontrol syaraf motorik, mengatasi ambang batas rasa sakit, membantu menangkal rasa lapar, menangani penderita penyakit Alzheimer dan Parkinson, menghilangkan rasa nyeri, serangan jantung dan stroke, penyakit gusi, asma, TBC, dll.

Sementara itu, asap tembakau selalu disalahkan sebagai sumber berbagai penyakit kalau tidak mau disebut sebagai pengantar penyakit padahal karbon monoksida yang merupakan produk sampingan dari asap tembakau dapat mengurangi serangan jantung dan stroke.

Kampanye anti rokok dan anti tembakau ini bermula dari penelitian Surgeon General yang mengganti istilah habit atau kebiasaan merokok dengan kecanduan. Tentunya kata pengganti itu berkonotasi negatif dan cenderung menakutkan. Memang perilaku mengonsumsi rokok bukan tanpa risiko namun tidak seperti yang dituduhkan selama ini. Terutama menyangkut asap rokok yang akan memapar orang lain. Produk hasil tembakau ini hanya diperuntukkan bagi orang yang berumur 18+ yang artinya telah dewasa dan memilih dengan kesadaran penuh.

Baca Juga:  Tolak Inter-Tabac 2014, Save Kretek

Buku ini bukanlah sebuah pembenaran karena disusun dari berbagai penelitian bahkan dari pihak peneliti kesehatan. Bahwa mengonsumsi sesuatu berlebihan akan menimbulkan penyakit merupakan keniscayaan bukan hanya berlaku pada rokok tetapi semua hal. Misalnya gula, minyak, dll. Buku ini hadir sebagai keberimbangan informasi mengenai tembakau agar kita semua bisa lebih bijak menyikapi perang nikotin ini.

Rezim kesehatan hari ini seolah menutup mata pada manfaat tembakau dan menciptakan dokter-dokter yang mengatur kebebasan memilih dalam mengonsumsi nikotin. Dokter-dokter yang menjadi mesin uang bagi perusahaan farmasi karena wajib merujuk NRT sebagai solusi terbaik untuk berhenti merokok.

Barangkali Nicotine War karya Wanda Hamilton ini adalah hasil penelitian di Amerika Serikat namun bila dikaji lebih dalam, negara raksasa tersebut mampu melebarkan sayapnya ke negara-negara lain terutama negara dunia ketiga termasuk ke Indonesia. Propaganda rezim kesehatan negara adidaya telah merasuk ke Nusantara sehingga perang nikotin berlangsung juga di sini. Padahal Indonesia sebagai salah satu penghasil tembakau terbesar di dunia, memiliki kebudayaan tersendiri terkait kretek. Kretek adalah produk asli Indonesia dengan tak satu pun unsur yang diambil dari negara lain. Menjadi salah satu tiang kemandirian bangsa. Saya pikir buku ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi anak bangsa yang ingin meneliti nikotin maupun tembakau terutama budaya kretek.

Di luar isi buku, gaya bahasa Wanda Hamilton memang sangat ilmiah sehingga agak sulit dicerna, bukan jenis buku yang bisa dibaca sambil santai atau sekilas saja. Kemunculan infografis ataupun ilustrasi akan lebih baik mengingat kampanye antitembakau lebih kreatif lagi dalam berbagi informasi.

Sebagai penutup, saya mengutip hal xv, “Selain itu kretek merupakan bagian penting dari sejarah peradaban Bangsa Indonesia yang penuh dengan nilai-nilai sosial dan budaya Bangsa Indonesia, yang seharusnya tetap dipertahankan dan diselamatkan.”

 

Evi Sri Rezeki

Berkarir sebagai pembaca dan penikmat kopi.