3 Gaya Bebas Yang Biasa Dilakukan Perokok

Gosip Seputar Rokok dan Keanehannya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai perokok, saya sudah nggak kaget dengan berita bahaya rokok. Bukan rokok namanya kalau nggak digosipin yang aneh-aneh. Siapa yang gosipin? Ya, kelompok yang merasa terusik dengan eksistensi rokok. Mereka adalah anti rokok.

Akan mudah bagi kita untuk menyebut contoh gosip aneh soal rokok. Internet dan sosial media senantiasa menjadi medan bagi anti rokok merepetisi isu buruk soal rokok. Oh iya, sesekali mereka berinovasi juga, kok. Meski inovasinya tetap aneh.

Sebagai contoh, dulu rokok hanya diasosiasikan pada penyakit macam kanker, serangan jantung, impotensi dan penyakit lain sebagaimana yang tertulis di bungkusnya. Setelah berinovasi, gosip soal rokok semakin absurd. Rokok dituduh jadi penyebab gangguan penglihatan, stunting, dan yang terbaru juga dikaitkan dengan gangguan susunan saraf pusat. Ngeri!

Mengapa informasi demikian saya sebut dengan gosip aneh? Karena mereka, para agen propaganda bahaya rokok, menutup mata dari fakta ilmiah lain. Maksudnya, saya kerap gagal memahami narasi tendensius yang mereka bangun. Komponen rokok yang sering dijadikan kambing hitam (seperti nikotin dan tar) sebenarnya tak hanya terkandung dalam rokok saja, tapi juga ada pada komoditas pangan lainnya. Kembang kol, terong, kentang dan tomat adalah contoh komoditas yang juga mengandung nikotin. Namun nikotin mana yang selalu dicecar? Yap! Nikotin tembakau.

Baca Juga:  Memahami Isarat-Isarat Mereka yang Non-Perokok

Lebih aneh lagi ketika para agen propaganda tersebut justru mengampanyekan produk tembakau alternatif yang mereka klaim lebih rendah risiko. Lha gimana, sama-sama mengandung nikotin tapi kok beda perlakuan? Apa jangan-jangan.. ah sudahlah.

Lanjut. Beberapa waktu lalu, para ahli kesehatan kembali menuding rokok tak hanya berbahaya bagi paru, tapi juga membahayakan otak. Penyebabnya adalah kandungan tar dalam rokok. Untuk informasi, tar adalah residu sisa pembakaran.

“Residu atau sisa pembakaran rokok itu menempel dimana-mana. Di baju, gorden, bantal, kursi dan semua tempat. Jadi sekarang kita harus mengedukasi masyarakat tentang bahaya tar dan asap rokok,” ujar dr Mariatul Fadilah, MARS, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI), dikutip dari detikhealth.

“Secara fisik efek yang paling sering kita dengar adalah merusak paru, kanker paru, kanker nasofaring, kanker hidung. Tapi yang paling seram adalah kena ke susunan saraf pusat yang kita sebut dengan adiksi. Artinya tidak ada TAR yang tidak membawa dampak negatif. Nggak ada positifnya deh. Makanya kita ngotot, buang itu TAR,” lanjut dr Mariatul.

Baca Juga:  Menilik Monumen Pengrajang Tembakau di Klaten

Metode merokok dengan dibakar disebut sebagai penghasil tar. Maka dari itu mereka mengklaim bahwa vape lebih rendah risiko karena dipanaskan bukan dibakar. Lha, terus, ayam, barbeque dan sate yang dibakar itu gimana?? Apa tar cuma muncul kalau yang dibakar itu rokok? Aneh, kan? Ya, aneh!

 

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd