Ketika Rokok Menyelamatkan Pemilu 2019

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pemilu 2019 boleh jadi adalah Pemilu paling berkesan sepanjang sejarah kontestasi elektoral di Indonesia. Betapa tidak, dua kandidat Calon Presiden (capres) akan melakoni laga ulang setelah bertarung sengit 5 tahun lalu. Selain itu, ketegangan, kerancuan dan beberapa cerita unik juga turut mewarnai ajang yang berlangsung lancar ini.

Tak bisa kita pungkiri, bahwa ketegangan terjadi bahkan sejak sebelum periode kampanye. Laga ulang ini sudah diprediksi banyak pihak. Berbagai isu membanjiri lini masa media sosial dan televisi. Mulai dari hoaks, isu SARA dan ujaran kebencian berulang kali diproduksi. Maklum, dengan usia demokrasi Indonesia yang tergolong masih muda, tensi seperti ini cukup wajar.

Hal yang menarik dari Pemilu 2019 bukanlah soal hasil akhir Pilpres yang ternyata dimenangkan oleh kedua calon. Bukan soal sujud syukur, bukan soal surat suara di Malaysia, bukan juga soal kegagalan PSI menembus Senayan. Tapi, pemandangan tak lazim yang nampak di salah satu TPS di Sumatera Selatan. Iya, tidak lazim!

Baca Juga:  Jangan Ikuti Cak Nun, Jangan

Di TPS 41 RT 34 Komplek Mega Asri 2 Kelurahan Sukajadi Talangkelapa, Banyuasin, terjadi keterlambatan melaksanakan pemungutas suara. Pasalnya, distribusi logistik Pemilu 2019 (surat suara, bilik dan kotak suara) baru sampai ke lokasi pukul 11.30. Alhasil, pemungutan suara baru dilaksanakan saat televisi sudah mulai menampilkan quick count. Pukul 13.15 pencoblosan dimulai.

Setelah kesal menunggu lama, warga ternyata dikejutkan lagi dengan penampakan bilik dan kotak suara. Hasil kreasi panitia, kardus bekas pembungkus rokok disulap menjadi bilik dan kotak suara. Iya, anda gak salah baca. Bilik dan kotak suara di TPS 41 RT 34 Komplek Mega Asri 2 Kelurahan Sukajadi Talangkelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan, menggunakan kardus bekas rokok. Pemandangan tak lazim.

Ketua KPPS setempat menyampaikan permohonan maaf. Namun belum diketahui pasti apa yang menjadi alasan digunakannya kardus rokok tersebut. Entah karena keterbatasan jumlah bilik dan kotak suara yang tersedia, atau akibat miskomunikasi panitia pelaksana, atau mungkin disengaja sebagai bentuk inovasi agar Pemilu 2019 tak tegang-tegang amat. Bisa jadi.

Baca Juga:  OrkesTrawa Tribute To Kretek

“Fotoi jugo pak bilik suaro kami dari kardus rokok. Melipatnyo be lagi saro. Katonyo jam 12 malam barang pemilu ini lah di jalan. Nyampenyo jam 2 malam wong lah tedok. Dak taunyo masih di Pangkalan Balai,” ujar seorang warga pada wartawan sebagaimana dikutip dari Sripoku.com.

Harus saya akui, penampakan tersebut memang tidak lazim. Tapi, ya, cukup menghibur juga kok. Selama 8 bulan terakhir saya cukup muak disuguhi tampang-tampang caleg di setiap sudut jalan. Jadi, penampakan kardus rokok tersebut cukup menyegarkan juga toh?

Di samping itu, adanya bilik suara berbahan kardus rokok menunjukan bahwa tak selamanya rokok itu buruk. Tanpa diduga-duga oleh siapa pun, melalui kardusnya, rokok yang selalu menerima stigma buruk ternyata berkontribusi bagi kelancaran pelaksanaan Pemilu 2019. Luar biasa, bukan?

Loh, itu kan Cuma kardus, apa pentingnya?

Lha, iya. Kalau gak ada kardus rokok itu, bisa jadi pemilu di sana batal. Lain hal kalau yang digunakan oleh panitia adalah kardus bekas Indomie. Kalau begitu, ya tulisan ini gak akan pernah tayang.

Baca Juga:  Penyakit Mematikan dan Bahaya yang Tidak Disebabkan Rokok
Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd