Para Tokoh yang Identik Dengan Rokok Hingga Akhir Hayat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Aktivitas merokok adalah aktivitas yang pernuh makna. Setiap batang yang dihisap punya gaya dan cerita masing-masing. Cerita menarik datang dari beberapa tokoh yang saat menjelang wafat justru meminta dibakarkan sebatang rokok kretek. Para tokoh ini seolah menyampaikan “aku ada karena aku ngudud”.

Satu hal yang perlu saya tekankan, bahwa ketokohan mereka didapat bukan karena aktifitas merokoknya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam pembentukan, penyelenggaraan hingga upaya mempertahankan negara ini. Hanya saja, kebetulan mereka perokok. Berikut beberapa tokoh tersebut.

Pramoedya Ananta Toer

Bung Pram, panggilan akrabnya. Ia bukanlah Amien Rais yang wajahnya menghiasi jejaring sosial saat ini. Di zaman serba internet ini, semakin tidak banyak orang yang mengenalnya. Ia memang hanya manusia biasa yang berjuang untuk buminya manusia. Pria dengan segudang wawasan itu telah mengajari kita betapa pentingnya menulis dengan berani dan pikiran terbuka.

Di balik itu semua, Pram adalah pria yang tak muluk-muluk. Di akhir hidupnya, Ia tak repot meminta ini-itu, apalagi meminta masuk surga. Beberapa jam sebelum wafat, ia hanya meminta disuapi havermut dan meminta sebatang rokok. Tentu saja, permintaan itu tidak dikabulkan keluarga. Hingga akhirnya, salah seorang keluarganya hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya.

Baca Juga:  Peringatan Kesehatan Rokok dan Pelanggaran Konstitusi

Itulah pram, baginya rokok adalah sebagian besar dunianya. Setiap hisapan adalah nafas kehidupan bagi petani-petani tembakau untuk menghidupi anaknya. Dalam setiap karyanya yang lahir, tercium aroma kretek yang menemani penciptanya, termasuk tetralogi pulau buru yang melegenda. Andaikata masih hidup, barangkali saya bisa mengajak Bung untuk  menikmati sebatang kretek bersama.

Sekarmaji Marijan Kartosoewiryo

Masih ingat dengan Sekarmaji Marijan  Kartosuwiryo? Ya, dialah pemimpin DI/TII. Hari itu 12 September 1962, sebelum dieksekusi mati, wajah Kartosoewirjo tampak tua dan beruban, mukanya sedikit berminyak. Hidangan nasi putih dengan lauk rendang yang tersaji di meja tak juga ia makan. Ia lebih memilih menyeruput kopi dan menghisap kretek. Kartosoewirjo duduk sejajar dengan istri dan anaknya. Ia sadar, siang itu adalah makan siang terakhir dengan keluarganya.

Selepas makan siang, seorang petugas datang dan memborgol tangannya dan menuju ruang tunggu. Jam tangan Rolex yang biasa ia kenakan pun dilepas dan diserahkan ke keluarganya. Di ruang tunggu Kartosoewiryo kembali mengambil sebatang rokok dari sakunya. Seorang petugas yang akan mengantarkanya ke lokasi eksekusi memberinya api. Itulah rokok terakhirnya sebelum diangkut mobil tahanan menuju kapal yang membawanya ke Pulau Ubi di Kepulauan Seribu, tempat dimana ia dieksekusi.

Baca Juga:  Merokok Kala Lebaran Tanpa Mengganggu Kenyamanan

Itulah kisah pemimpin DI/TII sebelum wafat. Rokok terakhir yang ia hisap kala itu adalah obat yang paling ampuh dikala bayangan kematian menghantui dirinya.

Jenderal Soedirman

Siapa yang tak kenal Jendral Soedirman? Dialah Panglima besar yang pernah dimiliki bangsa ini. Salah satu fakta yang cukup mengejutkan adalah kegemaran Pak Dirman terhadap rokok. Begitu senangnya Pak Dirman terhadap rokok, beliau selalu membawa tembakau ke mana-mana. Bukan rokok buatan pabrik, namun rokok buatan sendiri atau yang lebih dikenal dengan rokok tingwe (nglinting dhewe – melinting sendiri).

Semasa hidup, Jendral Besar kerap tergolek lemah akibat penyakit paru-paru. Namun, penyakitnya bukan disebabkan rokok, tapi disebabkan salah diagnosa dokter yang mengakibatkan sebelah paru-parunya diangkat. Hingga akhirnya, Pak Dirman harus berjuang dengan sebelah paru semasa hidupnya. Ia pun pernah bergerilya mempertahankan republik dengan ditandu hampir sepanjang perjalanan, namun tak lupa tetap membawa kretek bersamanya.

Menjelang wafat, Pak Dirman sempat meminta sebatang kretek untuk dihisap. Namun, permintaan itu tak dikabulkan karena larangan dokter yang merawatnya. Akhirnya, dengan rasa cinta yang begitu dalam pada suaminya, istri Pak Dirman menghisap sebatang kretek, lalu menyemburkan asapnya pada Pak Dirman.

Baca Juga:  Saya Tidak Merokok, dan Tidak Punya Masalah Berada di Lingkungan Perokok

Begitulah kisah beberapa tokoh Indonesia yang meminta sebatang kretek menjelang wafat. Ada yang diperbolehkan meikmatinya, ada juga yang menikmatinya dengan bantuan keluarga. Namun, kretek memang telah memiliki makna yang besar dalam hidup ketiga tokoh tersebut.

Masih banyak tokoh-tokoh lain yang identik dengan rokok, seperti Soekarno, Agus Salim, Chairil Anwar, dan lainnya. Mereka sadar, selain sebagai teman hidup dan beraktifitas, kretek adalah produk yang dihasilkan dari bumi Indonesia dan patut kita syukuri.

Mochamad Anthony

Bukan aktivis buruh, cuma buruh kantoran