Ketika Kopi Ikut Dimusuhi Anti Rokok

Selamat Datang Bulan Suci Ramadan, Sehatkan Diri Tanpa Harus Membenci Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Perokok adalah konsumen paling tabah agaknya dibanding konsumen produk konsumsi lainnya. Bagaimana tidak, setiap saat selalu saja diterpa berbagai pergunjingan. Entah itu dalam keseharian maupun di medsos. Perokok selalu tabah menghadapi terpaan itu semua. Meski sumbangsih cukainya terus saja disesap untuk devisa negara. Perokok tak gampang terperangkap pada momok kebencian yang kerap dimainkan antirokok.

Kebencian terhadap rokok yang melulu dilariskan antirokok selalu saja mengandalkan dalih kesehatan. Paradigma hidup sehat tanpa rokok menjadi cara untuk menularkan kebencian terhadap rokok. Bukan tidak mungkin kebencian itu dapat memicu munculnya penyakit lain yang tidak diperkira sebelumnya. Entah ini disadari atau tidak, siapapun berpotensi terjebak dalam kebencian yang dimainkan kepentingan rezim antitembakau. Sebagaimana yang sudah diungkap pada tulisan yang sudah-sudah, bahwa di balik semua agenda berdalih kesehatan itu terdapat kepentingan industri farmasi.

Maka memasuki bulan suci Ramadan ini, dimana muslimin muslimat akan kembali menjalankan ibadah puasa. Para perokok bukan berarti terbebas dari ujian ketabahan. Puasa dapat menjadi sarana pendidikan yang menyehatkan. Selain pula memberi nilai ibadah bagi insan beragama. Entah itu perokok maupun bukan perokok, di bulan penuh berkah itu mendapatkan kesempatan yang sama. Meski pada akhirnya kembali berpulang pada kesanggupan masing-masing.

Baca Juga:  Beberapa Keuntungan Orang yang Merokok SKT

Namun sebagai perokok, tentulah laku puasa menjadi ajang pembuktian kualitas diri ketika harus memuasakan mulut asem seharian. Terlebih lagi menjadi sarana melatih diri untuk tidak terjebak dendam saat berbuka puasa. Dendam membawa kita pada sikap-sikap yang tak rasional. Misalnya, pas azan Magrib berkumandang lantas segera membakar rokok tanpa berdoa dan minum air putih dulu. Jelas itu berisiko. Jelas itu jauh dari kata sehat.

Terpenting lagi dalam menjalani ibadah puasa kita harus menanggalkan rasa benci yang berlebihan.  Kebencian sangat berpotensi merusak, menjauhkan diri dari sikap adil. Tentu jika kita ingin hidup sehat bukan melulu seperti antirokok yang memusuhi rokok dan perokok. Apalagi sampai terus menebar fitnah terkait produk legal tersebut. Justru yang semacam itu akan merusak nilai ibadah, menjauhkan diri dari ketakwaan yang hakiki.

Bulan suci Ramadan seyogyanya dapat membawa kita pada peningkatan kualitas jasmani maupun ruhani (spiritual). Sehingga berpuasa tidak sebatas menjadi ruang selebrasi konsumsi yang berlebihan, membuat hidup jauh dari kata seimbang. Pola konsumsi yang tidak seimbang itulah yang dapat memicu munculnya beragam penyakit. Segala pandangan negatif terhadap produk konsumsi sebetulnya adalah hasil konstruksi sosial belaka. Seperti halnya kita dalam memandang kecantikan.

Baca Juga:  Cara Pemkab Kulonprogo Memelihara Kedunguan, Blokade Etalase Rokok Dengan Kampanye Kesehatan

Jika memang ingin dapat manfaat sehat dari berpuasa, iya jangan lagi berkarib-karib dengan rasa benci yang berlebiha. Biar bagaimanapun hakikat umur hanyalah amanah. Rokok pun tak lain hanyalah medium. Bukan satu-satunya penentu sehat atau tidaknya kita. Ada entitas yang maha berkehendak atas kehidupan makhluk di muka bumi. Jadi, bukanlah rokok yang membunuhmu. Justru kebencian itu yang merusak kesehatanmu. Marhaban yaa Ramadhan.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah