Tradisi Suwuk Menggunakan Asap Rokok untuk Pengantin itu Bukan Hal Negatif

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Takjub saya sama netizen yang ramai menyoal sesuatu yang viral, salah satunya terkait video pengantin ‘yang disembur asap rokok’. Itu menurut istilah yang disematkan oleh sejumlah media daring. Iya di abad kagetan ini kerap saja isu yang berkenaan dengan rokok cepat sekali jadi santapan netizen. Terutama bagi kalangan antirokok yang kerap menyikapinya dari kacamatakuda kesehatan.

Boleh dikata generasi yang terlanjur termakan paradigma kesehatan modern akan menilai tradisi semacam itu sebagai sesuatu yang buruk. Tanpa pernah mau ikhtiar menilai secara arif. Celakanya lagi, ada yang menyinyiri dengan istilah di-fogging. Hadeuh. Fogging itu penyemprotan kimiawi untuk membasmi jentik DBD. Itu sama saja melecehkan ikhtiar leluhur dalam merawat kearifan di masyarakat, bos.

Dalam tata laku rias pengantin, proses semacam itu umumnya disebut Sembaga. Istilah populer lainnya sama dengan di-suwuk atau diobati. Medium untuk suwuk sendiri banyak pilihannya, tidak hanya menggunakan asap rokok. Umumnya dengan air yang sudah dirapali doa-doa, atau pula menggunakan rajah. Tapi kalau untuk pengantin tak mungkin lah disembur pakai air. Bisa berantakan itu riasan.

Baca Juga:  Paket Buka Puasa Sederhana Kretekus

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, penggunaan tembakau sudah dipercaya sebagai sarana pengobatan sekaligus penghantar kebutuhan spiritual. Sebagaimana dalam catatan sejarah bangsa-bangsa tua, penggunaan daun-daunan, akar-akaran, perdu, dan biji-bijian merupakan pustaka medis dunia yang sudah digunakan sejak berabad-abad silam. Tak terkecuali tembakau pula cengkeh yang seiring perkembangan industri menjelma kretek.

Netizen yang ramai mengomentari video viral itu tentu akan dengan mudah mencari informasi tentang tradisi suwuk. Cukup dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencarian google, beres sudah. Namun bagi antirokok tetap saja itu dikonotasikan negatif. Karena kebencian mereka terhadap rokok sudah demikian membutakan.

Kita tentu tidak ingin pula menyepelekan keingintahuan sebagian netizen untuk mengenal tradisi bangsanya. Agar tak semata-mata semua hal yang berhubungan dengan rokok tak melulu berkonotasi negatif. Salah satu contoh yang sudah cukup kita ketahui adalah metode pengobatan yang dilakoni Prof Gretha Zahar. Beliau menggunakan asap rokok dan metode balur sebagai teknik pengobatannya. Asap rokok dimanfaatkan sebagai sarana penyembuh.

Baca Juga:  Ramadhan dan Pembuktian Rokok Tidaklah Adiktif

Metode semacam itu tentu bagi sebagian masyarakat dianggap ekstrim. Bahkan tidak sedikit lainnya yang menganggap kuno dan berbahaya. Namun oleh Prof Gretha Zahar proses penyembuhan yang memanfaatkan tembakau sebagai sarana pengobatannya itu telah melewati proses penelitian yang panjang.

Sebagai bangsa yang kaya akan nilai-nilai budaya, kita semestinya dapat mengapresiasi dengan segenap kearifan. Justru dengan terpeliharanya nilai-nilai tradisi di masyarakat, dan itu masih dipercaya memberi kebaikan bagi hajat hidup orang banyak. Janganlah sekali-kali direndahkan. Kalau memang belum bisa bersumbangsih lebih, iya tak usahlah under estimate terhadap tradisi Nusantara yang sudah menjadi bagian dari pembentuk karakter bangsa ini.

Muhammad Yunus

Mahasiswa UIN Jakarta doyan ngisap Rokok