rokok-kretek-tingwe

Menengok Rokok Diko, Primadona Solo Masa Lampau

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rokok Diko adalah salah satu jenis rokok rakyat yang memiliki legendanya tersendiri. Titik awal industri rokok Diko diketahui bermula sejak tahun 1890. Solo merupakan daerah awal untuk perkembangannya. Kalaupun sebelum tahun 1870, di Solo juga telah dikenal sejenis rokok nipah, pembuatan dan penggunaannya masih sebatas untuk kebutuhan perorangan.

Rokok ini juga memiliki sebutan lain, yakni rokok wangen. Banyak orang pada masa itu menyebutnya sebagai rokok wangen karena menguarkan wangi rempah-rempah yang khas. Rokok diko mulanya dikenal sebagai rokok khas suatu daerah. Menurut B. Van der Rejiden (1934-1936) rokok itu ditemukan oleh seorang mantri Keraton Solo bernama Mas Ngabehi Indiko.

Kekkhasan rokok tersebut terletak pada dua hal, yaitu bahan isian rokok dan bahan pembungkusnya. Isian rokok diko tidak hanya tembakau, melainkan juga wur/uwur. Wur ini adalah perpaduan berbagai rempah yang sudah dirajang secara halus. Wur menjadi penguat rasa yang membentuk karakter wangi pada rokok diko.

Unsur-unsur rempah pada wur terdiri dari klembak, kemenyan, dupa kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, gatim tegari, mesoyi, waron, klabet, dan lainnya. Di antara beragam rempah pada wur itu, cengkeh tidak disebut, sehingga rokok diko mempnyai pembeda dengan rokok kretek jika dilihat dari bahan campurannya.  Menurut Lance Castles, rokok cengkeh diduga telah ada sejak abad ke-17.

Baca Juga:  Kalau Deva Mahenra Merokok, Memangnya Kenapa?

Sementara, kemenyan, klembak, ataupun dupa dinyatakan sebagai bagian dari rokok rempah-rempah untuk wur. Bahkan,  di Yogyakarta dominan memakai klembak dan kemenyan untuk wur. Dalam hal ini, cukup alasan untuk menyatakan bahwa terdapat keserupaan antara rokok diko dan dan rokok klembak.

Pada mulanya, bahan pembungkus rokok yang lazim di jaman itu adalah daun nipah. Tak ayal populer juga dengan sebutan rokok nipah. Selain nipah, adakalanya digunakan bahan pembungkus lain, seperti daun pisang, daun kawung, dan kertas.

Pengintegrasian wur ke dalam rokok nipah mampu menarik lebih banyak peminat, sehingga rokok diko yang berisi campuran tembakau-wur dengan bahan pembungkus daun nipah akhirnya menjadi komoditas dagang, tidak hanya diminati warga Solo, meluas juga sampai daerah lain dalam wilayah kekuasaan Keraton Surakarta, bahkan merambah hingga ke wilayah Keraton Yogyakarta.

Nukilan sejarah di atas merupakan gambaran awal dari munculnya perusahaan-perusahaan kecil yang memproduksi rokok rakyat. Menjadi terus berkembang lantaran rokok jenis itu sangat digemari, konsumennya terus meningkat, terutama sejak tahun 1897.

Baca Juga:  Ketika Rokok Menyelamatkan Pemilu 2019

Di Solo didirikan sejumlah perusahaan kecil rokok diko. Selang satu dawarsa berikutnya (1906) diikuti oleh hadirnya perusahaan-perusahaan kecil di Karanganyar dan Boyolali. Kemudian di Sragen (1908), Klaten (1911), Wonogiri (1920). Pada wilayah kekuasaan keraton Yogyakarta, perusahaan kecil rokok diko hadir pada tahun 1914 di Yogyakarta, menyusul kemuudian di Bantul (1919), Adikarta (1924), dan Kulon Progo (1927).

Selain jenis rokok diko, di kawasan Yogyakarta juga diproduksi rokok kretek, meski hasil produksinya pada tahun 1925 hanya mencapai 15.000 batang dalam enam bulan, lalu meningkat menjadi  67.000 dalam enam bulan pada tahun 1933. Dengan begitu, pada sekitar tahun 1932 terjadi lonjakan omset rokok kretek di kawasan ini. Artinya, perkembangan rokok diko dan rokok kretek cukup berselaras dalam memenuhi minat dan perkembangan konsumennya. Sehingga di masa sekarang pun dapat kita temukan jejaknya, melalui berbagai jenis inovasi yang muncul pada rokok kretek, mulai dari penggunaan filter, dibuat mild, dan seterusnya.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah