Harga rokok

Benarkah Konsumsi Rokok Turun Ketika Harga Rokok Mahal?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tahun ini, semua pejabat pemerintah dengan kompak menyatakan jika cukai naik tinggi dan harga rokok jadi mahal karena mereka ingin mengurangi konsumsi rokok masyarakat. Satu hal yang, saya kira, amat bertolak belakang dari semua ucapan mereka di tahun-tahun yang lalu. Sebuah hal lucu yang diungkapkan oleh rezim butuh uang.

Oke, baiklah, anggaplah alasan kenaikkan cukai 23% tahun ini adalah karena hal itu. Agar masyarakat mengurangi konsumsi rokok, agar mereka tidak membeli rokok. Seperti apa yang diungkapkan oleh Direktur Jendral Bea dan Cukai, Heru Pambudi. “Ini bagus untuk kesehatan juga karena satu yang dicatat salah satu pertimbangannya adalah pengendalian konsumsi,” ujarnya.

Pun ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara soal alasan kenaikkan, Ia menegaskan kalau cukai adalah instrumen pengendalian konsumsi. Jadi, kali ini, demi pengendalian konsumsi, cukai dinaikkan begitu tinggi. “Kenaikan cukai rokok sebesar 23% ini juga guna menekan konsumsi,” ujarnya.

Pertanyaannya kemudian, apakah benar akan berjalan seperti alasan mereka?

Perlu diketahui, perokok di Indonesia adalah golongan manusia super kreatif yang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi dan regulasi. Dulu, ketika pertama kali ada gambar seram di bungkus rokok, para perokok dengan cerdas menempelkan stiker agar gambar tersebut tidak terlihat. Daripada mau merokok lihat yang seram-seram, lebih baik ditutupi hingga kemudian gambar itu tidak lagi dianggap seram.

Baca Juga:  Cerita dari Gerobak Tembakau Bayu

Pada konteks kenaikan harga rokok akibat naiknya tarif cukai, para perokok pun selalu punya cara untuk tetap bisa merokok. Bagaimana pun caranya, dengan ragam cara kreatif yang mungkin tidak bisa dibayangkan pemerintah.

Jika rokok mahal, para perokok akan beradaptasi dengan harga rokok. Kalau yang mahal tidak terjangkau, beli yang murah. Setidaknya yang lebih murah. Bahasa kerennya turun kasta, dari isap Sampoerna Mild turun ke U-Mild. Dari Dji Sam Soe, jadi isap Djarum Cokelat. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Urusan turun kasta ini dilakukan tentu agar mereka tetap bisa udud. Walau harus turun kasta, asal tetap bisa udud, ya tidak apalah. Jadi, bukan karena rokok mahal lantas mereka berhenti merokok, ya tidak begitu juga. Tidak begitu, Sri.

Jikapun mereka yang mau merokok ini adalah golongan yang benar-benar kurang mampu, entah mahasiswa perantauan atau masyarakat kelas bawah, mereka tetap punya cara untuk bisa merokok. Tanpa harus berhenti, tanpa harus tunduk pada negara.

Mereka yang hidupnya tertindas oleh keadaan ini biasanya punya banyak teman. Dari sekian banyak teman itu, pastinya tetap ada yang mampu membeli rokok berapa pun  harganya. Walau ya tadi, merek rokoknya turun kasta, yang penting tetap bisa beli rokok.

Baca Juga:  Kisah Vape yang Dicekal di Banyak Negara

Kalau sudah begitu, perokok golongan tadi langsung menjadi kasta sudra dalam urusan ini. Mereka bisa menunggu teman di tongkrongan mengeluarkan rokok, lalu dengan sedikit ba-bi-bu, keluarlah permintaan untuk meminta rokok sebatang atau dua batang. Begitu terus ketika ada teman lain yang membawa rokok, mereka minta lagi, lagi, dan lagi.

Masih agak mending sih mereka yang merokok tidak bisa modal rokok, tapi sedia korek untuk dipakai bersama. Kalaupun nantinya hilang di tongkrongan, tenang saja, mereka masih punya banyak stok korek curian. Jadi masih aman. Nah, yang agak parah ini ya mereka yang cuma modal paru-paru saja, mau tidak dikasih ya teman tapi dikasih melunjak. Hadeeeeh.

Nah, terakhir, buat mereka yang benar-benar menolak tunduk pada kebijakan negara, ya memilih untuk membeli tembakau irisan lalu dilinting sendiri. Jauh lebih hemat, dan belinya bisa langsung ke petani. Ada juga sih sebagian (besar) yang memilih beli rokok ilegal. Kalau yang ini ya rebel serebel-rebelnya. Tapi mau gimana lagi, salah negara juga harga rokok dinaikin terlalu mahal.

Baca Juga:  4 Rekomendasi Rokok Murah bagi Kretekus untuk Tahun 2020

Dengan segala cara dan model untuk tetap merokok tadi, saya kira kebijakan kenaikkan cukai ini tidak akan berdampak signifikan pada jumlah perokok. Mereka yang perokok tetap saja bisa merokok dengan segala cara kok. Paling nantinya yang akan ketahuan berkurang itu ya jumlah pembelian rokok dengan cukai. Karena sebagian dari mereka akan meminta rokok temannya, langsung melinting sendiri tembakau untuk dikonsumsi, atau ya beli rokok ilegal.

Perasaan bersama akan penindasan regulasi cukai itu nyata, dan perokok bakal dengan kompak melawan harapan berkurangnya jumlah perokok dan konsumsi rokok dengan cara mereka masing-masing. Kalau pun gagal, setidaknya mereka telah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, Sri.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit