Yang Saya Lakukan Ketika Anak Ketahuan Merokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Punya anak yang sudah menginjak usia remaja tentu memberi tantangan tersendiri bagi orang tua kebanyakan. Jujur saja di masa remaja dulu, saya terbilang nakal dan keras kepala. Sukar diberi tahu, sering mangkir dari arahan orang tua maupun guru. Orang tua saya, terutama bapak, kerap dibuat kesal dengan kelakuan saya.

Sejatinya, keinginan orang tua kepada anaknya sangatlah sederhana. Orang tua ingin anaknya menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi masyarakat. Di kala remaja, persisnya ketika saya masih kelas tiga SMP. Saya suka merokok secara sembunyi-sembunyi. Maksudnya, kerap merokok tanpa sepengetahuan orang tua. Aktivitas merokok yang sejatinya belum pantas dikonsumsi anak-anak di bawah umur suka saya lakukan di luar rumah.

Bapak saya bukan perokok, dan sangat membenci rokok. Berbeda dengan ibu saya, ibu saya perokok, namun tak menganjurkan saya untuk merokok. Saya mengalami sekian kontradiksi yang terjadi di rumah dan cukup berpengaruh bagi kehidupan saya. Bapak pernah marah sangat keras karena saya ketahuan merokok. Masa-masa remaja itu menjadi satu memoar khusus yang tercatat dalam ingatan saya.

Baca Juga:  Keguyuban Dalam Tradisi Tingwe dan Siasat Personal

Saat ini saya berstatus bapak tiga anak. Dua anak saya sudah menginjak fase remaja. Anak kedua saya laki-laki, sekarang sudah kelas satu SMK. Dulu waktu masih SMP, Ia pernah kedapatan merokok. Ibunya yang cerita kepada saya. Saat bercerita tentang peristiwa itu, saya hanya diingatkan untuk tidak segera memarahi anak saya.

Tentu saja saya tidak akan memarahi Kian karena hal sepele semacam itu, lagipun saya ingat betul betapa kerasnya bapak mendidik saya dulu perihal rokok. Kemarahan bapak justru tidak membuat saya jadi takut dan patuh. Saya malah jadi pembangkang. Saya tidak ingin hal serupa dialami anak-anak saya.

Kian Bijak Windiaz nama anak kedua saya. Saya paham betul watak Kian. Dia lebih rajin membuatkan kopi untuk saya dibandingkan dengan kakaknya yang perempuan. Bakat Kian nyaris seperti saya, intinya gemar berkesenian.

Suatu kali, di teras, saat melakukan pelenturan jari di atas fret gitar. Sambil menunggu Kian membuatkan kopi. Sebatang rokok pun belum saya bakar. Tak selang lama segelas kopi pun tersuguh. Saya meminta Kian menemani saya bermain musik, Ia segera mengambil gitar kesayangannya. Anak kedua saya ini cukup menguasai beberapa kunci dasar gitar. Kian dengan sumringah menemani saya.

Baca Juga:  Sehari Dengan Koh Ayong dan Cak Rusdi

Sebatang rokok saya bakar setelah dua tegukan kopi tandas mengaliri kerongkongan. Dengan santai saya tanyakan perihal aktivitas merokok yang pernah dilakukannya. Dengan malu-malu Kian menjawab, bahwa dirinya sudah tidak pernah merokok lagi. Katanya ibunya tidak setuju Kian merokok sebelum mampu membeli rokok dari hasil keringat sendiri. Ohiya, perlu diketahui juga. Ibunya Kian bekerja sebagai pendidik, dan Kian bersekolah di tempat ibunya mengajar.

Lalu saya sodorkan sebatang rokok, sambil membilang ini kalau Kian mau merokok silakan saja. Tapi merokoknya bareng ayah, di sini saja, di luar sepengetahuan orang tua sebaiknya jangan. Sebetulnya hal itu saya lakukan sebagai trik semata, saya tidak sungguh-sungguh mengharapkan Kian jadi perokok seperti saya. Karena merokok ataupun tidak itu sebuah pilihan sikap. Eh dia malah menggelengkan kepala sambil tersipu malu. Seraya mengalihkan perhatian dengan memainkan gitarnya, airmukanya tampak lebih sumringah.

Sesaat itu saya sisipkan pesan sederhana kepadanya, kita boleh-boleh saja merokok, asal tetap tahu batas.  Ada batas hak kita dengan hak orang lain, ada orang yang marah jika kita melanggar batas itu. Ada batas usia yang membolehkan kapan kamu dianggap boleh merokok. Orang merdeka adalah orang yang menyadari keterbatasannya, karena merdeka adalah hak untuk mendisiplinkan diri. Itu saja, nak. Seraya itu lagu Imagine saya lantunkan, Kian mengikuti chord gitar yang saya mainkan. You may say i’m a dreamer, but im not the only one…

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah