joker rokok

Beda DC dan Marvel Perihal Rokok dalam Film

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Film Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para penonton. Apalagi pas adegan dia nari sambil pegang rokok, mantap. Banyak reviewer mengatakan bahwa Joaquin Phoenix sukses memenuhi ekspektasi para penonton tentang karakter Joker yang mereka inginkan, karakter Joker yang paripurna seperti yang pernah dibawakan oleh sang mendiang Heath Ledger.

Tapi gue membuat tulisan ini bukan untuk membanding-bandingkan aktor mana yang lebih keren memerankan tokoh Joker. Meski, kita sama-sama tahu bahwa Jared Leto ternyata lebih garang  bersama Thirty Second to Mars ketimbang harus berakting, sudahlah Jared, hapus kata Joker dari CV-mu. Topik yang ingin gue angkat adalah Joker di tangan Todd Phillips tampil sempurna tanpa mengurangi kehebatan seorang Joker itu sendiri.

Gue bisa pastikan bahwa Film Joker garapan Todd Phillips jadi standar baru untuk sebuah film yang menggambarkan sosok Antihero secara penuh. Lagi-lagi ini soal penokohan yang kuat, bagaimana Joker dibangun apa adanya, tak mendapatkan sentuhan-sentuhan aneh yang membuat karakternya hilang. Apa sentuhan aneh itu, ya tentunya menghilangkan kebiasaan dalam kehidupan si tokoh itu sendiri. Hal yang paling mudah dijadikan patokan adalah adegan merokok, tentunya dalam sebuah film.

Mari kita mulai dari klasifikasi umur dalam sebuah penayangan film, setiap negara memiliki standar yang berbeda meski bisa gue katakan hampir mirip-mirip sama. Informasi yang gue dapatkan dari IMDB menyebutkan bahwa Joker dikategorikan sebagai film 17+ alias tidak direkomendasikan untuk ditonton anak-anak. Meski pun kemudian banyak orang tua sotoy yang kemudian mengajak anaknya menonton film tersebut dalam tajuk berwisata di akhir pekan, hihihi, usaha yang gagal.

Baca Juga:  Cerita Tentang Pekerja Keras yang Tetap Sehat dan Merokok di Usia Lanjut

Jelas bahwa kategori tersebut membuat Todd Phillips tak kesulitan untuk menokohkan sosok Joker yang sempurna. Lagian, Sepengamatan gue, karya-karya DC Universe cukup berani menayangkan karakter mereka yang mempunyai kebiasaan merokok. Tentu ini berbeda dengan kompetitor mereka, Marvel Universe dalam sudut pandang adegan merokok baik di film atau pun di komik.

Joe Quesada adalah sosok yang membuat aturan dan habitat baru di Marvel soal adegan merokok. Kebiasan itu ia terapkan ketika menjadi editor di Marvel Comics pada 2001. MTV.com menyebutkan bahwa kebijakan itu dipengaruhi oleh pribadi Joe Qusada, di mana kakeknya meninggal akibat kanker paru-paru. Kendati demikian, kebijakan ini seolah-olah dorongan dalam isi komik saja, walau pada akhirnya Marvel mulai menampakkan diri sebagai antirokok ketika mengganti sampul mereka di mana Wolverine yang tadinya merokok diganti menjadi tidak.

Wolverine juga memiliki kisah sendiri soal rokok. Bagi pembaca dan penggemarnya pasti tahu bahwa sosok bertangan jalu besi itu adalah seorang perokok. Di tangan  Joe Quesada, ia menghilangkan karakter perokok di tubuh Wolverine. Beginilah kira-kira dalilnya;

Baca Juga:  Sepasang Pencinta Kretek di Negeri Kincir Angin

“Wolverine adalah panutan bagi beberapa anak dan dia seharusnya tidak merokok. Selain itu, faktor penyembuhan akan mencegahnya dari kecanduan nikotin, jadi bahkan tidak masuk akal baginya untuk merokok.”

Marvel Cinematic Universe pula kemudian dibuat dilematik dengan kondisi ini ketika mereka ingin mengeluarkan film tentang Wolverine. Seperti kita tahu, kepemilikan MCU dibeli oleh bos Disney yang juga kita ketahui memproduksi film-film yang bertemakan anak. Di sini masalah itu dimulai ketika Wolverine difilmkan, maka sudah pasti aktivitas merokok yang jadi kebiasaan sang tokoh harus dihilangkan. Untungnya, lisensi X-Men yang di dalamnya terdapat Wolverine masih dipegang Fox, jadi kita masih bisa tetap melihatnya sebats.

Soal kebijakan anti rokok itu kemudian semakin meruncing oleh pernyataan Alan Horn selaku Film Chief Disney. Ia menyatakan tak akan membuat film bergaya Warner Bros dan Fox Studio yang kita juga tahu Warner Bros sering juga menggarap film-film dari DC Universe.

Dikutip dari cbr.com, MCU di tangan Disney memiliki satu kebijakan yang sangat anti rokok. CEO Disney, Bob Iger mengumumkan bahwa mereka akan menegakkan aturan “dilarang merokok” di dalam film-film MCU yang mereka garap. Maka selain wolverine, kita juga akan tak melihat karakter Nick Fury menghisap sebatang rokok.

Baca Juga:  Melukis dengan Rokok

Pada akhirnya gue melihat bahwa MCU sebenarnya gagal dalam menerjemahkan karakter-karakter mereka secara umum. Karakter superhero atau antihero seharusnya digarap dalam film dalam sudut pandang yang luas bukan hanya tersegmen pada anak-anak. Kesenian harus ditafsirkan secara umum, jika dikotakkan maka sudah tentu sang sutradara harus berkompromi dengan sisi baik dan buruk tokoh yang ia bangun. Di sisi lain , DC Universe berani melakukan itu, meski sejatinya patokan age rating sudah cukup menjadi landasan pembuatan film. Joker adalah sebuah tindakan jenius nan berani, tindakan tersebut yang membuat banyak orang memiliki prediksi film tersebut akan berbicara banyak di Academy Awards nanti.

Film adalah bahasa universal dan keindahan didalamnya adalah ketika hal-hal yang sangat bersifat manusiawi disorot secara sinematik. Gue jadi mengingat kembali Wong Kar Wai yang jeli melihat hal itu, hal-hal detail seperti kebiasaan seorang manusia seperti makan, mandi, merokok, dan yang lain ia gambarkan seindah mungkin, tanda bahwa sang tokoh juga manusia biasa. Bukankah film yang baik itu adalah film yang jujur tentang kisah tokoh seseorang? Silahkan kalian renungkan sendiri.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta