Pedagang rokok

Demonstrasi Memberi Berkah Bagi Pedagang Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sejak Soeharto berkuasa selama 30 tahunan lebih, Masyarakat Indonesia terkekang oleh rezim otoritarian. Melalui berbagai gelombang demonstrasi mahasiswa serta masyarakat, tepat pada 21 Mei 1998, Soeharto yang sudah terdesak kemudian mengundurkan diri sebagai Presiden Indonesia. Momen ini dirayakan secara sukacita di seluruh negeri. 21 Mei 1998 pula tandai sebagai awal baru Indonesia yang lebih demokratis kedepannya.

Berkah dari momen yang terjadi 1998 lalu adalah Masyarakat Indonesia tak lagi terbelenggu untuk menyatakan pendapat. Iklim demokrasi di tanah air saat ini lebih baik ketimbang apa yang terjadi sebelum 1998 lalu. Masyarakat Indonesia semakin mudah mengakses kebijakan pemerintah, anggaran, informasi publik, dan juga bebas untuk berserikat dan berkumpul, hal yang sulit dilakukan saat Soeharto masih berkuasa.

Di era demokrasi, siapa saja berhak untuk menyampaikan pendapat. Meski Soeharto jatuh pada 1998 lalu, jumlah gelombang demonstrasi saat itu tak pernah turun dan meredup. Ini adalah kabar positif, pasalnya masyarakat beserta kelas pelajar masih ada sebagai barisan pengingat bagi pemerintah yang kerap memang mengeluarkan kebijakan ngawur, terutama belakangan ini. Komisi Pemberantasan Korupsi yang dikebiri dengan UU KPK, lalu ada RUU KUHP dengan pasal yang kontroversial ternyata kembali memantik gelombang masa untuk protes.

Baca Juga:  YLKI Tidak Salah, Benyamin Biang Kerok Memang Film yang Tidak Layak Tonton

Beberapa titik di kota besar di Indonesia, ramai terjadi aksi demonstrasi oleh mahasiswa dan masyarakat. Aksi dalam jumlah besar itu sudah dimulai sejak 21 hingga 30 November 2019. Di Jakarta, Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di bilangan senayan menjadi titik berkumpulnya masa aksi dalam menyampaikan protes. Bisa dikatakan mungkin ada sekitar 10 ribuan massa yang berkumpul di sana dari segala kampus di penjuru Jakarta.

Aksi demonstrasi memang kita harus pandang sebagai satu hal yang positif. Selain menjadi barisan pengingat untuk penguasa, kerumunan masyarakat dalam jumlah besar juga menggerakkan roda perekonomian. Kompas.com mengabarkan saja bahwa pedagang masker meraup untung besar dari penjualan barangnya saat aksi demonstrasi. Begitu juga dengan mereka yang berjualan air mineral dan minuman segar lainnya.

Meski aksi demonstrasi di Jakarta diwarnai dengan kerusuhan, beda dengan di Yogyakarta. Barisan massa yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat berkumpul di Jalan Affandi atau yang familiar disebut Gejayan. Selama mereka melakukan aksi #GejayanMemanggil pada 24 dan 30 November 2019 lalu selalu berjalan damai. Bahkan juga memberi berkah tersendiri bagi para pedagang yang berjualan di sana.

Baca Juga:  Keguyuban Dalam Tradisi Tingwe dan Siasat Personal

Aksi #GejayanMemanggil yang berlangsung dengan tertib dan gembira tentu membuat pedagang tak segan untuk berdagang di sana. Masyarakat di sekitar kawasan Gejayan pun bahkan ikut mendukung aksi tersebut. Tirto.id menjelaskan bahwa omzet pedagang rokok dan minuman naik saat berlangsungnya aksi tersebut. Rantyo, pedagang rokok dan minuman yang berada di utara Pasar Demangan. Ia mengaku omzetnya langsung melonjak pada hari ini. Bila di hari biasa ia bisa menjual 30-40 bungkus rokok. Namun saat demo Gejayan Memanggil jilid 1 bisa sampai 60 bungkus.

Tentu sebuah angka yang luar biasa, stigma bahwa demonstran adalah perusuh tentu bisa dipatahkan. Mereka tetap tertib menjalankan aksi dan bahkan tak melakukan perilaku penjarahan terhadap pedagang. Sebuah kabar yang positif di mana ucapan mahasiswa bersama rakyat kecil benar-benar bukan sebuah retorika orator aksi belaka.

Fenomena lainnya adalah demonstran yang juga merokok tetap tertib dan membuang puntungnya ke dalam tempat sampah yang juga disediakan oleh mereka sendiri. Selain itu, merokok bersama di saat demonstrasi melahirkan sebuah ikatan emosional tersendiri sesama massa aksi. Bahkan ada perempuan yang juga merokok, namun tak ada stigma negatif yang berkumandang selama aksi semua berjalan damai dan tertib di sana.

Baca Juga:  Pemain Sepakbola dan Rokok

Demokrasi adalah berkah bagi Masyarakat Indonesia, demonstrasi yang juga merupakan instrumen demokrasi juga memberikan berkah bagi masyarakat, mahasiswa, dan juga pedagang. Tanda bahwa ekonomi kerakyatan harusnya diapresiasi dari hal-hal sekecil ini dan senyata ini.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta