RS Tembakau Deli

RS Tembakau Deli, Sisa Kemahsyuran dari Pertembakauan Sumatera

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam sejarah pertembakauan di Indonesia, Deli merupakan salah satu daerah yang memiliki cerita panjang. Tidak hanya menghasilkan tembakau bagus, yang disukai eropa sehingga menjadi komoditas ekspor yang bagus, namun perkebunan tembakau deli juga menjadi penopang peronomian masyarakat pada zamannya. Setidaknya, saat ini ada dua bangunan yang menjadi saksi sejarah dan bukti kemahsyuran tembakau Deli.

Pertama adalah Masjid Raya Medan yang berdiri megah di di Jalan Kol. Yos Sudarso Pekan Labuhan. Setelah lebih dari 100 tahun berdiri, masjid ini masih kokoh dan tampak mewah sehingga bisa menjadi landmark yang menarik di Medan. Dulu, pembangunan masjid ini dilakukan dengan dana dari penjualan tembakau Deli.

Kedua adalah Bandara Polonia, yang meski sudah tidak lagi beroperasi, namun menjadi bandara penting di Sumatera Utara. Lahan yang dijadikan landasan penerbangan bandara ini adalah pemberian dari Perusahaan Deli Maatschappaij yang menjadi perusahaan tembakau besar di Hindia Belanda saat itu. Bandara yang berdiri sejak 1928 ini berhenti beroperasi pada 2013.

Baca Juga:  Respon Perokok dan Pedagang Menyoal Kenaikan Cukai

Kemudian ada Rumah Sakit Tembakau Deli yang menjadi rumah sakit modern pertama di Pulau Sumatera. Walau kini kondisinya tidak terawat, rumah sakit ini punya nilai sejarah yang tinggi sehingga telah dijadikan cagar budaya, meski ya, tidak terawat.

RS Tembakau Deli dibangun pada tahun 1885, ini adalah rumah sakit yang hadir untuk mengikuti perkembangan zaman dimana saat itu Kota Medan menjadi salah satu pusat industri perkebunan di Hindia Belanda. Dan salah satu komoditas terbaiknya saat itu, tentu saja adalah tembakau Deli. Ini adalah masa-masa kejayaan tembakau di Deli.

Rumah sakit ini memang dibangun untuk para pekerja perkebunan, baik lokal ataupun eropa. Diprakarsai oleh MR. Ingerman, pimpinan Perusahaan Deli Maatschappaij, yang juga merupakan perusahaan tembakau pertama di bumi nusantara. Dana pembangunannya, tentu saja dari duit penjualan tembakau juga.

Awalnya, RS Tembakau Deli didesain hanya untuk menangani penyakit ringan. Namun seiring berjalan waktu, tepatnya ketika masuk abad 20, dibangun sebuah gedung besar untuk menangani pasien dengan penyakit berat. Bahkan, pada tahun 1915, rumah sakit ini ditetapkan sebagai laboratorium penyakit tropis oleh pemerintah kolonial.

Baca Juga:  Tari Sintren dan Rokok Sajen di Dalamnya

Rumah sakit ini awalnya bernama RS Deli Maatschappaij, menyesuaikan dengan nama perusahaan yang membuatnya bisa didirikan. Barulah setelah kemerdekaan Indonesia tercapai, pengelolaan rumah sakit diambil alih oleh republik dan diurus di bawah naungan PTPN II dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Tembakau Deli.

Di bawah naungan PTPN II, RS ini tetap beroperasi dan melayani para pekerja perkebunan serta pensiunannya hingga tahun 2010. Pada tanggal 1 Januari 2011, RS Tembakau Deli resmi ditutup karena alasan penggabungan badan hukum beberapa rumah sakit yang berada di bawah naungan PTPN II.

Meski telah menjadi cagar budaya, kondisi RS Tembakau Deli sama sekali tidak terawat. Karena tidak ada operasional dan dana yang dikucurkan, nilai sejarah yang terkandung di RS ini mengabur seakan menjadi gedung kosong yang menyeramkan. Kondisi ini sama sekali berbeda dengan Bandara Polonia yang berubah nama dan tetap beroperasi. Pun dengan Masjid Raya Medan yang masih menjadi landmark dan pusat keagamaan di Medan. Setidaknya, kedua bangunan bersejarah di Medan ini tetap terawat.

Baca Juga:  Penuturan Bung Karno Soal Cengkeh dalam Pusaran Kolonialisme

Mengingat nilai sejarah yang penting dari RS Tembakau Deli, semoga ke depannya Pemerintah Kota Medan segera merawat atau mungkin menjadikannya tempat wisata sejarah. Karena, inilah rumah sakit modern pertama yang hadir di Pulau Sumatera.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit