Tembakau Deli yang Kini Mati Suri

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanah Sumatera sejak dahulu kala terkenal dengan tanahnya dan alamnya yang hijau serta dibalut ragam suku, adat dan budaya. Sebut saja biji-biji kopi unggulan lahir dari sana, beras yang pulen dan nikmat juga ada di Sumatera, serta komoditas perkebunan dan pertanian di Bumi Andalas. Namun, ada satu varietas unggul yang sembat membuat Tanah Sumatera harum di masa lampau, varietas itu bernama Tembakau Deli, yang ramai diperbincangkan orang, yang dulu dipuja-puja orang.

Banyak catatan sejarah yang mengagung-agungkan dahsyatnya Tembakau Deli di masa lampau. Bagi kalian yang menggemari sejarah, bukti fisik tentang kehebatan Tembakau Deli masih ada dalam bentuk Masjid raya Al-Ma’shun Medan. Sejarah mencatat bahwa Masjid Raya ini dibangun tahun 1906 dan baru selesai tahun 1909. Seluruh biaya pembangunannya ditanggung oleh Sultan Maimun al Rasyid Perkasa Alamsyah, hasil dari penjualan tembakau. Kabarnya keuntungan satu juta gulden dari hasil penjualan Tembakau Deli jadi biaya untuk membangun rumah ibadah kebanggaan umat muslim di Sumatera itu.

Baca Juga:  Menghargai Pacar yang Merokok

Kemasyhuran Tembakau Deli juga menginspirasi logo dari klub sepak bola kebanggaan Publik Sumatera Utara yaitu PSMS Medan. Jika nun jauh di Tanah Britania sana ada kesebelasan Glasgow Celtic menggunakan daun shamrock sebagai identitas dan logo mereka, maka PSMS Medan juga menggunakan daun Tembakau Deli sebagai kebanggaan di dada mereka.

Akan tetapi sayangnya harumnya Tembakau Deli perlahan-lahan kian memudar. Edwin Lubis yang mewakili Dirut PTPN (PT Perkebunan Nusantara) II mengatakan Tembakau Deli kini mengalami penurunan. Edwin menyebutkan bahwa Tahun 1913 pendapatan ekspor tertinggi dalam sejarah Tembakau Deli (50 juta gulden sama dengan Rp 43 triliun). Malangnya, Tahun 2018, bagi PTPN II, tembakau merupakan komoditas yang tidak menguntungkan

Bahkan pada 2018 lalu Edwin menjelaskan PTPN II mengalami kerugian yang tak sedikit yaitu sekitar hampir dua miliar rupiah. Penurunan rugi ini bukan karena budidaya yang maju atau komoditas harga. Penurunan rugi ini adalah dikuranginya areal pertanian tembakau tersebut.

Pada masa jayanya, luas ladang tembakau mencapai 304 hektar. Saat ini jumlah ladang sudah sangat berkurang yakni hanya tersisa 4 hektar untuk ditanami tembakau, sisanya sudah berubah menjadi sawit dan tebu, dan hanya digarap oleh lima orang petani. Dari 304 hektar itu, perusahaan menargetkan produksi dan penjualan tembakau sebanyak 1.650 bal untuk tembakau kualitas 1. Di mana harga jualnya rata-rata 39.8 euro per kilogram atau sekitar Rp500ribu.

Baca Juga:  Asap

Saat ini, tidak lagi 1.650 bal, tetapi hanya 186 bal. Di mana 1 bal berisi 70 kilo tembakau. 1 kilo berisi 12 ikat daun tembakau, masing-masing berisi 35-40 lembar. Harga jualnya pun tak lagi 39.8 euro, tetapi 48 euro (dg perhitungan 1 euro = Rp 16.000).  Sungguh sebuah kabar yang tak sedap, apalagi dibarengi dengan semakin diskriminatifnya pemerintah terhadap industri tembakau belakangan ini. Salah satunya adalah kenaikan harga tarif cukai rokok yang sangat progresif.

Tentu Tembakau Deli yang juga masuk sebagai warisan budaya bangsa harus terus dipertahankan. Bagaimana pun, tradisi kretek adalah salah satu jati diri bangsa yang sudah diwariskan secara turun temurun dan melintasi peradaban waktu. Kita tentu tak ingin lagi banyak hal yang hilang dari negeri ini. Entah itu karena modernisasi peradaban, lajunya derap pembangunan, atau invasi produk asing yang tak henti-hentinya di negeri ini.

Negara tentu harus kembali peduli terhadap PTPN II yang selama ini mengurusi Tembakau Deli. Tentu harus ada reformasi hingga restrukturisasi kepengurusan secara progresif. Bicara soal bisnis dan ekonomi, perusahaan harus tetap dipegang oleh orang-orang yang memang mengerti tata kelolanya. Butuh ada strategi besar dan masif yang dilakukan oleh PTPN II dalam upaya penyelamatan Tembakau Deli. Sekali lagi, ini demi terjaganya salah satu warisan bangsa yang sudah lama menjadi penopang ekonomi dan pembangunan di Tanah Sumatera.

Baca Juga:  Tips Liburan Asyik ala Kretekus

 

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta